Komaruddin Hidayat Sebut Penembakan Selandia Baru Anti-Manusia

Oleh: Alfian Putra Abdi - 20 Maret 2019
Komaruddin berharap sikap rasisme Brenton Tarrant tidak menular pada masyarakat khususnya di Indonesia.
tirto.id - Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat mewakili Tokoh-Tokoh Agama/Kepercayaan dan Masyarakat Sipil Indonesia mengecam aksi penembakan yang terjadi di dua masjid di Selandia Baru yang dilakukan Brenton Tarrant pada Jumat (15/3/2019) kemarin.

"Kami percaya tindakan ini berlawanan dengan doktrin dan ajaran moral yang dititahkan dalam semua agama dan kepercayaan. Tindakan tersebut, kami yakini juga sebagai anti-manusia," ujarnya di kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2019).

Berkenaan dengan manifesto yang sempat ditulis oleh Brenton Tarrant, ia menilai bahwa aksi tersebut sangat bermuatan ideologis, yakni Islamofobia dan kebencian terhadap imigran.

Komaruddin menilai hal itu sebagai pola pikir yang sesat dan berbahaya.

"Kami dengan kesadaran penuh, menyatakan bahwa Islamfobia dan senofobia atau kebencian pada orang asing adalah ideologi dan cara berpikir yang sesat serta berbahaya bagi kemanusiaan," tuturnya.

Komaruddin berharap sikap rasisme Brenton Tarrant tidak menular pada masyarakat khususnya di Indonesia, dengan menyebarkan kebencian kepada umat non-muslim atau dunia barat seperti yang terjadi di media sosial saat ini.

"Tindakan semacam itu selain tidak bermoral, tidak bertanggungjawab, juga akan menciptakan lingkaran kebencian yang tiada habis-habisnya," pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut turut pula dihadiri oleh 38 tokoh di antaranya Muhammad Ziyad (PP Muhammadiyah), Henriette Hutabarat Lebang (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia), I Ketut Purwata (Parisadha Hindu Dharma Indonesia), Romo Frans Magnis Suseno, Alissa Wahid, Ulil Abshar Abdalla, dan masih banyak lainnya.


Baca juga artikel terkait PENEMBAKAN SELANDIA BARU atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight