Seri Sejarah Kodam

Kodam Merdeka: Gejolak Prajurit Minahasa dan Penumpasan Permesta

Ilustrasi KODAM XIII Merdeka. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 19 Agustus 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kelahiran Kodam Merdeka tak bisa dipisahkan dari operasi militer terhadap Permesta.
Setelah Belanda angkat kaki dari Sulawesi, banyak mantan KNIL dan laskar yang masuk ke TNI/APRIS. Salah satu pasukan di Sulawesi Utara adalah Batalion 3 Mei. Pada 1950, semua tentara Indonesia yang berada di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah berada dalam komando Tentara dan Teritorium VII yang berpusat di Makassar.

Untuk kedua wilayah ini dibentuk Komando Pasukan (Kompas) B. Tahun 1952, Kompas B dijadikan Resimen Infanteri 24 yang bermarkas di Manado. Komandannya adalah Letnan Kolonel JF Warouw yang kemudian digantikan oleh Letnan Kolonel Ventje Sumual.

Wilayah teritorial pasukan ini, sebagaimana terdapat dalam Memoar Ventje H.N. Sumual (2011:151), diperluas sehingga tak hanya Sulawesi Utara, tapi juga mencakup Maluku Utara. Namanya pun berubah menjadi Komando Pasukan Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

Menurut Suhario Padmodiwirio dalam Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit (1995:391), pasukan ini terlibat dalam penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS) yang dipimpin Christian Soumokil.


Tanggal 2 Maret 1957, Piagam Permesta ditandatangani oleh Panglima Tentara dan Teritorium VII, Letnan Kolonel Ventje Sumual dan kawan-kawan. Maka setelah itu Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution segera memecah pasukan di Sulawesi Utara ke dalam beberapa komando.

Sementara versi Ventje Sumual, sebelum ia menjadi panglima, Mayor Jenderal Nasution sudah memotong kekuasaan Panglima Tentara dan Teritorium VII. Bahkan ia menganggap Nasution sebagai pemecah belah orang-orang Indonesia timur dalam kesatuan tersebut.

Tentara dan Teritorium VII kemudian dibubarkan. Dan sejak Maret 1957, sebagaimana diceritakan dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Masa Pancaroba Kedua (1984:102), pasukan itu dibagi ke dalam empat Kodam dengan dikoordinasikan oleh Komando Antar Daerah Indonesia Timur (KADIT).

Dalam Permesta: Pemberontakan Setengah Hati (1986:106) karya Barbara Sillars Harvey disebutkan bahwa Panglima Kodam pertama di wilayah itu adalah Daniel Julius Somba yang dilantik pada 28 September 1957. Dibentuknya sejumlah Kodam baru membuat Julius Somba mengusulkan kepada KSAD untuk memasukkan 18 ribu bekas KNIL ke TNI.

Pada perjalanannya, Julius Somba menjadi salah satu pimpinan Permesta. Begitu pula dengan sejumlah anak buahnya. Posisinya sebagai Pangdam kemudian digantikan oleh Letnan Kolonel Rukminto Hendraningrat, adik tiri pengibar bendera merah-putih dalam Proklamasi 17 Agustus 1945. Ia juga yang menjadi komandan Operasi Merdeka dalam menumpas Permesta.

Pasukan TNI dari luar Sulawesi juga dilibatkan dalam operasi militer tersebut. Mereka mendarat di Kema, Sulawesi Utara, pada 16 Juni 1958, yang kemudian dijadikan Hari Jadi Kodam itu. Nama operasinya pun menjadi nama Kodam, yaitu Kodam Merdeka.

Keputusan Nasution memecah Tentara dan Teritorium VII ke dalam beberapa Kodam sangat membantu Angkatan Darat dalam menghadapi Permesta. Pengaruh Ventje Sumual di wilayah Maluku, Nusa Tenggara, Bali, dan Sulawesi Selatan akhirnya dapat ditangkal sejak dini.

Sejarah TNI di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah sebelum era Rukminto Hendraningrat menjadi panglima kemudian seolah tak dianggap. Perjuangan orang seperti Ventje Sumual untuk Indonesia sebelum 1950-an tidak dianggap berarti bagi sejarah Kodam ini dan Angkatan Darat.




Setelah setahun memimpin, Rukminto digantikan oleh Letnan Kolonel Moersjid pada 1958. Dan setahun kemudian Moersjid digantikan Letnan Kolonel Sunarijadi. Lalu pada 1960 Sunarijadi digantikan Letnan Kolonel Sunandar Prijosudarmo.

Bagi TNI, khususnya Kodam Merdeka, meski dapat dikalahkan namun Permesta cukup tangguh. Sejumlah kombatannya adalah para prajurit berpengalaman. Pergolakan bertahun-tahun itu tak bisa dibilang tuntas hanya berkat gempuran militer. Sukarno memberikan pengampunan kepada orang-orang Permesta untuk kembali ke masyarakat. Hanya pucuk-pucuk pimpinan yang mengalami penahanan.

Setelah pergolakan Permesta, orang-orang Minahasa tidak lagi dijadikan panglima di daerah mereka. Pangdam Merdeka paling banyak diisi oleh orang Jawa dan Batak. Salah satu yang terkenal adalah Rudini—pernah menjadi Menteri Dalam Negeri. Selain itu ada pula Jenderal batak yang dicap dekat dengan Benny Moerdani yaitu Adolf Sahala Rajaguguk.

Wiranto--mantan Panglima ABRI--memulai karier militernya di Kodam Merdeka dengan menjadi komandan peleton di Batalion Infanteri 712 dan Batalion Infanteri 713. Setelah itu ia menjadi komandan kompi dan wakin komandan batalion. Wiranto selanjutnya ditugaskan ke Bandung.

Tahun 1985, Kodam Merdeka termasuk Kodam yang dibekukan oleh Benny Moerdani. Kodam ini baru aktif lagi pada 2016 dengan markas berpusat di Teling, Manado. Wilayah teritorialnya meliputi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight