Seri Sejarah Kodam

Kodam Diponegoro: Awal Soeharto dan Tempat Lahirnya Banteng Raider

Ilustrasi KODAM Diponegoro. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 13 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Soeharto, Ahmad Yani, dan Gatot Subroto berasal dari rumpun Diponegoro.
Suatu malam, seorang pemuda asal Inggris yang tengah melakukan penelitian tentang Ratu Adil diajak temannya menonton wayang kulit. Pemuda itu belum lama tiba di Yogyakarta. Keduanya tidak tahu pasti tempat digelarnya acara tersebut, kecuali di pinggir kota. Entah mendapat informasi dari mana, mereka kemudian naik becak dari Malioboro menuju Tegalrejo tempat perhelatan wayang kulit.

Acara itu ternyata diadakan di sebuah pendopo yang baru diperbaiki oleh Kodam Diponegoro. Dan pemuda asal Inggris tersebut adalah Peter Carey yang kelak menulis berjilid-jilid buku tentang Pangeran Diponegoro.

Menurut Ben Anderson dan kawan-kawan dalam A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia (2009:17-18), berbeda dengan Jawa Barat yang "makmur, bersemangat, dan sangat Islami", Jawa Tengah ia sebut "miskin, mawas diri, dan sangat abangan”. Hal ini pula yang membedakan rumpun Diponegoro dengan Siliwangi.


Pada masa Perang Kemerdekaan, Komandemen Jawa Tengah yang dipimpin Jenderal Mayor Soeratman--mantan Kapten KNIL--terdiri atas empat divisi. Wilayah teritorialnya tak hanya di Jawa Tengah, tapi juga meliputi Cirebon, Madiun, dan Bojonegoro.

Dalam buku Sejarah Rumpun Diponegoro dan Pengabdiannya (1977:162-167) disebutkan bahwa divisi-divisi itu adalah Sunan Gunung Jati (Keresidenan Banyumas, Cirebon, Tegal, dan Brebes); Diponegoro (Yogyakarta, Kedu, Pemalang, dan Pekalongan); Penembahan Senopati (Keresidenan Semarang, Surakarta, dan Pacitan); Ronggolawe (Keresidenan Pati, Bojonegoro, dan Madiun).

Setelah diadakan Reorganisasi dan Rasionalisasi pada 1948, seperti dicatat dalam Sejarah Rumpun Diponegoro dan Pengabdiannya (1977:176), di Jawa Tengah hanya terdapat satu divisi yang dipimpin Kolonel Bambang Sugeng dan Komando Pertempuran Senopati pimpinan Kolonel Sutarto.

Sesudah Belanda angkat kaki, militer di Jawa Tengah berada di bawah komando Tentara & Teritorium IV yang dipimpin Kolonel Gatot Subroto. Wilayahnya meliputi seluruh Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tahun 1952 Gatot Subroto digantikan Kolonel Bachrun. Empat tahun berselang Bachrun digantikan Kolonel Soeharto. Lalu berturut-turut Pranoto Reksosamudro, M. Sarbini, Suryosumpeno, Surono Reksodimedjo, Raden Widodo, lalu Yasir Hadibroto—yang mengeksekusi Ketua CC PKI Dipa Nusantara Aidit, dan seterusnya. Semua perwira itu adalah mantan PETA.

Mulai akhir Oktober 1959, tepatnya di pengujung masa kepemimpinan Soeharto sebagai panglima, Tentara & Teritorium IV berganti nama menjadi Komando Daerah Militer (Kodam) Diponegoro.

Setelah perang dengan Belanda berakhir, tentara di Jawa Tengah disibukkan dengan pemberontakan DI/TII, Peristiwa Andi Azis, PRRI, dan G30S dengan menghabisi PKI yang sebelumnya sangat kuat di provinsi tersebut.

Meski para petinggi Kodam Diponegoro mayoritas berasal dari PETA, namun di lapangan bekas pasukan KNIL juga cukup memberi pengaruh di kalangan serdadu terbawah pada bagian tempur.

Menurut Amelia Yani--putri Jenderal Ahmad Yani yang berasal dari rumpun Diponegoro--dalam biografi ayahnya yang bertajuk Profil Seorang Prajurit TNI (1990:67), satu kompi bekas pasukan Andi Azis yang berontak di Makassar pada 1950 dipakai Ahmad Yani ketika memimpin Operasi Banteng Negara melawan DI/TII. Dari sini kemudian lahir pasukan Banteng Raider Jawa Tengah. Pasukan ini ikut melumpuhkan PRRI di Sumatra.



Beberapa orang yang terlibat dalam G30S seperti Untung dan Ali Ebram pernah bertugas Banteng Raider. Begitu juga pembunuh DN Aidit, Yasir hadibroto, pernah berdinas di kesatuan ini.

Istri Ahmad Yani, Yayuk Ruliah, dalam Ahmad Yani, Sebuah Kenang-kenangan (1981:123) menyebut ada batalion didikan KNIL dari Sumatra Utara yang masuk resimen pimpinan Ahmad Yani. Batalion itu pimpinan Nokoh Barus. Pasukan ini juga ikut melawan DI/TII di Jawa Tengah.

Banteng Raider terus berkembang. Pada 1960-an awal di Kodam Diponegoro telah terbentuk tiga batalion Banteng Raider. Sejumlah personel dari batalion ini kemudian ada yang bergabung dengan Resimen Cakrabirawa dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat).

Rumpun Diponegoro melahirkan para perwira yang kariernya sukses seperti Gatot Subroto dan Ahmad Yani. Ada pula Sarbini Sumawinata yang pernah menjadi Menteri Urusan Veteran. Sementara Soeharto yang menjadi presiden dan berkuasa lebih dari 32 tahun, pada awal pindah ke Jakarta menjadi Panglima Kostrad.

Pranoto Reksosamudro yang menggantikan Soeharto sebagai Pangdam Diponegoro, sebetulnya sudah ditarik sebagai pembantu Ahmad Yani. Setelah G30S, ia hendak dijadikan pejabat sementara Menteri Panglima Angkatan Darat oleh Sukarno sebagai pengganti Ahmad Yani yang dibunuh. Namun nasib berkata lain, justru Soeharto yang naik menjadi orang nomor satu di Angkatan Darat. Dan belakangan Pranoto Reksosamudro malah sempat menjadi ditahan politik pasca G30S.

Beberapa pembantu penting daripada Soeharto di bidang Intelijen seperti Ngaeran, Ali Moertopo, dan Yoga Sugomo, juga dari bagian keuangan seperti Soedjono Hoemardani, semuanya berasal dari rumpun Diponegoro. Perkenalan Soeharto dengan Liem Sioe Liong dan Bob Hasan, juga terjadi wilayah teritorial Kodam Diponegoro.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight