KLB Polio

KLB Polio di Pidie Aceh, Eks Pejabat WHO: Galakkan Vaksinasi

Reporter: Farid Nurhakim, tirto.id - 21 Nov 2022 16:40 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Pemerintah juga didesak lakukan surveilans acute flaccid paralysis untuk menemukan kemungkinan kasus dan surveilans lingkungan untuk mencari VDPV.
tirto.id - Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama menanggapi adanya kejadian luar biasa (KLB) polio di tingkat Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh.

Dia mendorong agar pemerintah menggencarkan vaksinasi di Provinsi Aceh dan daerah lainnya, salah satunya dengan melakukan vaksinasi massal kepada penduduk Indonesia.

“Perlu digalakkan adalah penggalakkan vaksinasi, dalam dua bentuknya. Outbreak response immunization (ORI) dan vaksinasi massal penduduk,” kata dia melalui keterangan tertulis, dikutip Senin (21/11/2022).

ORI merupakan salah satu upaya penanggulangan KLB suatu penyakit dengan pemberian imunisasi. Selain itu, Tjandra menyebut pemerintah harus melakukan surveilans dalam dua bentuk yaitu surveilans acute flaccid paralysis (AFP) untuk menemukan kemungkinan kasus dan surveilans lingkungan untuk mencari vaccine derived polio virus (VDPV) di lingkungan, seperti yang ditemukan di Inggris walaupun tidak ada kasus pada manusia.

VDPV merupakan kasus polio yang disebabkan oleh virus dari vaksin, di mana terjadi apabila banyak anak tidak diimunisasi. Adapun Tjandra mengatakan bahwa pemerintah harus melakukan penanganan pada pasien polio.

“Artinya untuk kejadian di Aceh memang harus diperiksa amat seksama di sekitarnya,” tutur Mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Penyakit (P2P) dan Mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia tersebut.

Dia memprediksi bahwa kasus polio di Provinsi Aceh kemungkinan adalah karena vaccine derived polio virus type 2 (VDPV2). Sebelumnya pada 27 Februari 2019 ketika Tjandra masih menjabat sebagai Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, terdapat dua kasus vaccine derived polio virus type 1 (VDPV1) di Provinsi Papua.

Lanjut dia, kasus pertama merupakan anak dengan kelumpuhan jenis AFP, yang bermula pada 27 November 2018. Dan kasus ke dua adalah anak lain yang sehat tetapi tinjanya didapatkan positif VDPV pada 24 Januari 2019, lokasi tinggalnya di desa terpencil berjarak 3-4 kilometer dari kasus pertama.

Kemudian Tjandra menjelaskan bahwa Indonesia masih berstatus bebas polio sejak tahun 2014. Negeri ini telah mendapat sertifikat bebas polio dari WHO.

Dia juga menyebut bahwa di dunia hanya dua negara yang belum bebas polio, yaitu Afganistan dan Pakistan. Semua negara lain termasuk Indonesia sampai sekarang masih berstatus bebas polio.

“Jadi sesudah 2014 [bebas polio], maka setidaknya sudah ada 2 kali KLB polio di kita, yang keduanya VDPV, bukan virus polio liar,” pungkas Tjandra.

Di samping itu, Kemenkes melaporkan ada sebanyak 415 kabupaten atau kota di 30 provinsi di Indonesia masuk dalam kriteria risiko tinggi polio karena rendahnya imunisasi, termasuk Provinsi Aceh. Oleh karena itu, pemerintah mengklaim bakal menggencarkan upaya imunisasinya.

“Kalau lihat cakupan oral polio virus OPV (oral polio vaccine) dan IPV (inactivated polio vaccine) memang seluruh Indonesia rendah terutama saat pandemi COVID-19,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu lewat rilis Kemenkes, dikutip Minggu (20/11/2022).

Dia menuturkan pada awal November 2022 ditemukan satu kasus polio di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh berdasarkan penelusuran real time polymerase chain reaction (RT-PCR). Sehingga kemudian pemerintah Kabupaten Pidie menerapkan KLB polio tingkat Kabupaten Pidie.




Baca juga artikel terkait KLB POLIO ACEH 2022 atau tulisan menarik lainnya Farid Nurhakim
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Restu Diantina Putri

DarkLight