17 Oktober 1962

Klaim Tanah Air dan Muka Gajah Mada ala Mohammad Yamin

Ilustrasi Mohammad Yamin sebagai Gajah Mada. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 17 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Mohammad Yamin mengklaim Nusantara yang "disatukan" Majapahit sebagai tanah air Indonesia. Ia juga merekayasa wajah Gajah Mada.
tirto.id - Abad ke-20 adalah masa jaya pemerintah kolonial di Hindia Belanda. Semua wilayah sudah bisa dikendalikan. Raja-raja lokal juga sudah patuh. Jika tidak patuh, gubernur jenderal tinggal mengirim ratusan pasukan dari batalion-batalion KNIL untuk menghajar raja-raja itu.

Demi mempermudah kolonialisasi, dengan embel-embel politik etis, banyak sekolah dibangun pemerintah kolonial. Mulai dari sekolah dasar yang bermacam jenis berdasar bangsa dan kasta sampai sekolah tinggi yang menjadi bumerang bagi pemerintah kolonial di kemudian hari. Sebutlah sekolah kedokteran STOVIA dan sekolah hukum Recht Hogeschool (RHS) di Betawi, juga sekolah teknik Technische Hogeschool (THS) di Bandung. Muncul orang macam Sukarno, Tirto Adhi Soerjo, Soetomo, Johannes Leimena, Johannes Latuharhary, Amir Sjarifudidin, dan tentu saja Mohammad Yamin.

Pemuda-pemuda itu bersekolah di sekolah-sekolah yang dibangun Belanda setelah semua wilayah Nusantara, dari Sabang sampai Merauke, sudah dikuasai Belanda. Meski daerah yang dikuasai Belanda itu tak persis sama seperti yang dikuasai Sriwajaya dan Majapahit dulunya. Sebagian wilayah yang sekarang jadi milik Filipina atau Malaysia tak masuk dalam wilayah Belanda. Namun, sebagian besar daerah lainnya yang dulu diklaim dua kerajaan kuno itu sudah dikuasai Belanda.

Pada 1928, ketika masih kuliah di RHS, Yamin, bersama Soegondo Djojopuspito dan Amir Sjarifuddin, menjadi Panitia Kongres Pemuda II 1928 yang bersejarah itu. Di situlah lagu "Indonesia Raya" ciptaan W.R. Supratman diperdengarkan pertama kali. Soegonodo sebagai ketua kongres, Amir sebagai bendahara, dan Yamin adalah sekretarisnya. Kongres itu dihadiri berbagai organisasi pemuda kedaerahan. Inilah momen persatuan para pemuda untuk bergerak menuju sebuah bangsa Indonesia.

Banyak sejarawan berpendapat sebelum Kongres Pemuda II 1928 para pemuda di Indonesia lebih banyak bernaung dalam organisasi seperti Jong Java, Jong Sumatra Bond, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon dan lainnya. Meski begitu, organisasi yang tidak terkait etnis atau daerah sudah ada. Sebutlah Sarekat Islam dan Indische Partij yang keanggotaan mereka begitu terbuka. Bahkan lebih terbuka ketimbang Boedi Oetomo.

Dua tahun sebelumnya, Yamin juga ikut dalam Kongres Pemuda I di tahun 1926. Ketika itu, kongres menggunakan bahasa yang merupakan bahasa pengantar di Nusantara sejak dulu.

Kongres Pemuda II jelas bersejarah dengan adanya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 itu. Isinya begitu dahsyat. Mulai dari menganggap bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, berbangsa satu sebagai bangsa Indonesia, dan satu lagi terkait tanah air.

“Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.”

Tanah air yang dimaksud Yamin dan diamini para hadirin itu tak lain adalah seluruh Hindia Belanda yang sudah lebih dari 300 tahun disatukan oleh VOC dan pemerintah kolonial penerusnya dengan bantuan KNIL dan uang dari kekayaan Indonesia. Di sinilah letak kehebatan Yamin.

Tentu saja Yamin menuntut kembali apa yang selama beratus-ratus tahun dirampas oleh kolonialis Belanda. Namun, apa yang diklaim Yamin sebagai tanah air itu bukanlah Indonesia seperti sebelum VOC datang, ketika daerah-daerah itu dulu bukan satu kesatuan, terpecah-pecah, bahkan saling berseteru. Pada 28 Oktober itu, Yamin menuntut sebuah tanah air yang sudah utuh. Tanah air yang sudah disatukan oleh kolonialis Belanda dengan memakai tangan orang Indonesia selama 300 tahun lebih.

Yamin dan Gajah Mada

Mohammad Yamin, yang meninggal pada 17 Oktober 1962, tepat hari ini 57 tahun lalu, adalah sosok kutu buku. Ia doyan membaca buku sejarah, termasuk terpengaruh kitab Pararaton, yang berisi riwayat raja-raja sejak era Ken Arok hingga zaman Majapahit. Di situlah ia mengenal sosok Gajah Mada sang pemersatu Nusantara.

Semua yang pernah membaca sejarah Indonesia tentu tak asing dengan Gajah Mada, yang terkenal lewat Sumpah Palapa-nya. Dia bersumpah tak akan mencicipi buah palapa sebelum Nusantara takluk di bawah Majapahit. Bagi sebagian orang, Gajah Mada barangkali mirip dengan Otto Von Bismarck yang menyatukan Jerman atau Giuseppe Garibaldi yang mempersatukan Italia.



Yamin termasuk sejarawan yang menggali sosok Gajah Mada dalam sejarah. Suat hari di tahun 1940-an, Yamin mengunjungi Trowulan untuk melihat lokasi bekas kerajaan Majapahit. Yamin menemukan pecahan terakota, salah satunya berupa wajah seorang pria berwajah gempal dan berambut ikal.

Yamin memperhatikan wajah terakota itu. Berdasar air muka wajah itu, jika dilihat dengan ilmu membaca wajah atau fisiologi, Yamin menafsirkan seperti itulah wajah Gajah Mada sang pemersatu Nusantara. Meski tak semua orang sepakat dengan pendapatnya. Begitu tiba di Jakarta, Henk Ngantung disuruh Yamin membuat gambar seperti di Terakota tersebut. Sebagai sejarawan, Yamin pun akhirnya menulis biografi Gajah Mada berjudul Gadjah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara (1945).

Gambar wajah yang disangka Yamin sebagai Gajah Mada itu pun belakangan jadi lambang Polisi Militer (PM). Semua calon anggota PM konon harus bermuka seperti Gajah Mada versi Yamin, yakni harus kuat digebuki hingga berwajah bengkak. Banyak yang percaya, wajah yang disangka Gajah Mada itu tak lain wajah Yamin sendiri.

Terlepas dari benar atau tidaknya wajah itu, Gajah Mada dan Yamin memiliki jasa yang sama untuk Nusantara. Apa yang dilakukan Yamin pada 1928 dalam Kongres Pemuda II barangkali merupakan "pengulangan" dari apa yang dilakukan Gajah Mada setelah tahun 1336 hingga masa tuanya: menyatukan Nusantara.

Dengan klaim dalam Sumpah Pemuda, Yamin telah menyatakan Nusantara yang sudah disatukan Belanda itu sebagai tanah air dari bangsa yang berbahasa Indonesia.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 25 Agustus 2016 dengan judul "Yamin adalah Gajah Mada". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight