Kisah Warlord Andi Sose Gagal Menundukkan Tana Toraja

Oleh: Petrik Matanasi - 29 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Isu 'Islamisasi' dan perangai buruk gerombolan membuat rakyat Tana Toraja berhasil mengusir pasukan Andi Sose.
tirto.id - Tana Toraja terkenal sebagai basis Kristen di Sulawesi Selatan. Pada tahun 1950-an, masa yang diingat oleh orang-orang tua sebagai "zaman susah", Batalyon 720 yang dipimpin Kapten Andi Sose juga mendapatkan pertentangan dari rakyat Toraja.

Pasukan Sose sulit mendapatkan simpati dari Tana Toraja, bahkan diusir dua kali. Betapapun pasukan Sose punya bawahan bernama Frans Karangan yang kelahiran Tana Toraja, memegang posisi komandan kompi, tetapi rakyat Toraja tetap menaruh curiga pada sebagian besar pengikut Sose.

Cerita yang terus diingat oleh orang-orang Toraja jika ditanya mengenai zaman gerombolan itu kerap menilai pasukan Sose "jahat dan berhasrat untuk berkuasa", dianggap "pembunuh dan pembakar rumah adat tongkonan."

Sebagai komandan batalion di Tana Toraja, Andi Sose terkenal galak. Th. Van den End dalam Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja 1901-1961 (1994), menulis bahwa pada November 1952, "Kapten Sose merencanakan bergerilya lagi dan masuk hutan kembali. Sebagai persiapannya, ia membentuk beberapa gerombolan, masing-masing diberi tugas: membakar rumah-rumah, merampok dan membunuh penduduk.” Sose digambarkan sebagai diktator sangat buruk antara April 1952 hingga April 1953.


Selain karena desas-desus soal pelecehan gadis-gadis Toraja oleh bawahan Sose, ada isu sensitif yang bikin pasukan Sose dimusuhi orang Toraja.

Diks Pasande dalam 'Politik Nasional dan Penguasa Lokal di Tana Toraja,' dalam Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun 1950an (2011), menulis isu itu mengenai rencana pembangunan masjid di tengah Kolam Makale, pusat kota kecil Toraja. Isu lain adalah "Islamisasi" terhadap orang-orang Toraja yang sudah memeluk agama Kristen maupun masih percaya pada agama lokal Aluk Tadolo.

“Para pemimpin Kristen melihat Andi Sose sering melakukan hal-hal yang merugikan masyarakat Tana Toraja terutama terhadap mereka yang beragama Kristen, dan sebaliknya selalu menguntungkan orang-orang Islam," tulis Terance Bigalke dalam A Social History of Tana Toraja 1870-1965 (1981).

"Sementara dalam pandangan Andi Sose, para pemimpin Kristen di Tana Toraja merupakan saingan dan penghalang untuk mewujudkan rencananya menguasai Tana Toraja,” lanjut Bigalke.


Infografik HL Indepth Warlord Toraja

Perlawanan terhadap Andi Sose

Frans Karangan, anak buah Andi Sose yang menjadi komandan kompi, belakangan berbalik melawan sang patriark. Karangan, yang lahir pada 12 Mei 1927 dan berpendidikan MULO (setara SMP), baru mendekati Sose setelah masa gerilya (1945-1949) berakhir, menurut Erli Aqamuz dalam Profil Abdul Qahhar Mudzakkar (2007).

Menurut Aqamuz, solidaritas kesukuan dan rasa terancam saudara satu suku membuat Karangan dan serdadu-serdadu dari Toraja angkat senjata melawan Sose pada 4 April 1953.

“Di Bori’, pasukan Frans Karangan mempersiapkan penyerangan yang diawali upacara adat yang dipimpin oleh Pong Massangka, seorang agama Aluk yang disebut Tominaa (pemuka Aluk Tadolo),” tulis Diks Pasande.

Karangan memimpin penyerbuan langsung terhadap pasukan Andi Sose. Sebelumnya, pasukan penyerbu berkumpul di Rantepao. Pasukan dari Batalyon 422/Diponegoro yang simpati pada orang-orang Toraja juga diam-diam memasok senjata untuk menyerang Batalyon 720 pimpinan Andi Sose. Meski sulit, dalam pertempuran bulan April itu, pasukan Karangan mampu menghajar Batalyon 720 selama lima jam, betapapun pasukan Sose mampu bertahan.

Pertempuran menentukan terjadi pada 11 April selama kurang lebih empat jam. Hasilnya, "Karangan dan pasukan Diponegoro menduduki Kota Makale,” tulis Pasande.

Pasukan Andi Sose mau tidak mau harus menarik diri ke arah selatan, lalu ke Pompanua, Bone.

Setelahnya, pasukan bekas kompi II dari Batalyon 720 pimpinan Frans Karangan dipindahkan ke Palu dan dijadikan Batalyon 758. Selain itu, Batalyon 422/Diponegoro ditarik dari Toraja, dan digantikan oleh pasukan Brawijaya dari Jawa Timur.

“Sukses perlawanan itu menaikkan prestise pemimpin-pemimpin Kristen (Gereja Toraja) di Toraja, yang pada gilirannya menjelaskan insiden tersebut sebagai luapan kesadaran etnis. Kekalahan utama sesungguhnya dialami oleh kalangan elite tradisional di selatan (Tallu Lembangna) dan kelompok muslim, sekutu mereka di Makale, yang berpihak pada Andi Sose. Sejumlah dari mereka ini sementara waktu melarikan diri dari Toraja mengikuti pasukan yang mengundurkan diri,” tulis Bigalke.

Terkait perlawanan Frans Karangan terhadap Sose itu, beredar cerita di selatan Makale—daerah Enrekang, kampung asal Sose—jika perlawanan itu tak lain agar Frans Karangan bisa lepas dari Sose dan membangun pasukan sendiri yang secara tidak langsung membuat pangkat Frans naik.

Ada hukum saat itu jika seorang bawahan menentang atasannya maka ia bisa melepaskan diri dan membangun kesatuan lebih besar. Barbara Harvey dalam Permesta: Pemberontakan Setengah Hati (1988) menyebut Karangan menjadi warlord alias panglima perang di daerah kekuasaannya di Palu.

Pada 1958, Sose tak lagi menjabat komandan batalion. Dia menjadi komandan Resmien Infanteri 23, yang membawahi pasukan berjumlah 3 batalion atau sekitar 3.000 ribu personel. Rencananya, kesatuan di bawah Sose bakal menggantikan pasukan Brawijaya di Rantepao. Pasukan Brawijaya akan ditugaskan untuk menumpas Permesta yang bergolak pada 1958. Di masa itu, Frans Karangan tidak memilih Permesta. Dia berusaha mengambil langkah-langkah untuk melindungi orang-orang di Tana Toraja.


Rencana pergantian pasukan itu membuat tokoh-tokoh Partai Kristen Indonesia (Parkindo) di Tana Toraja melayangkan surat dan mengutus delegasi ke Jakarta untuk memprotes penarikan pasukan Brawijaya. Resolusi bersama dari partai-partai di Toraja pun dikirimkan melalui kepala daerah kepada Gubernur Sulawesi Selatan dan Menteri Dalam Negeri di Jakarta. Usaha itu sia-sia. Sose yang diperkirakan dendam akan masuk kembali ke Toraja yang lima tahun sebelumnya diusir.

“Andi Sose menyerang Toraja dengan alasan Toraja berpihak pada gerakan pemberontak Permesta, karena Toraja beragama Kristen, yang menyimpulkan pasti mendukung Sulawesi Utara yang sesama Kristen,” tulis Esther Velthoen dalam 'Memetakan Sulawesi 1950-an' dalam Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun 1950-an (2011).

Situasi itu membuat Frans Karangan punya "tanggung jawab moral" melindungi Tana Toraja. Ia meliburkan satu kompi orang Toraja dalam pasukannya lalu mengirim mudik ke Tana Toraja. "Orang berpangkat paling tinggi di antara tentara yang berlibur itu adalah Pappang. Tak hanya di Palu. Orang Toraja yang jadi tentara di Palopo dan Makassar juga ikut pulang," tulis Pasande.

Pappang dan koleganya menyatu dalam satu komando yang disebut Barisan Komando Rakyat (BKR). Orang-orang kampung juga diorganisasikan dalam Organisasi Pertahanan Desa. Para pelajar dan orang sipil lain terlibat dalam menyambuat Resimen Infanteri 23 pimpinan Sose.

Sebelum meletus pertempuran, para orang tua, anak-anak dan perempuan yang tinggal di sekitar Rantepao dan Makale, diungsikan ke pegunungan. Tanggal 20 Mei 1958 ditentukan sebagai hari perlawanan. Rencananya, setelah terjadi kontak senjata kecil-kecilan, BKR memakai taktik mundur penuh ke Pangala’.


"Pasukan Sose maju mengejar seakan-akan tanpa dapat ditahan, sambil membakar lumbung-lumbung desa, rumah-rumah dan sekolah-sekolah,” tulis Bigalke. Tapi, orang-orang Toraja memilih tak gentar meski ada rumor Sose kebal peluru dan pasukan Sose unggul soal senjata dan keterampilan.

Strategi agaknya mulus: pasukan Sose kelelahan sampai di Pangala'. Saat itulah mereka dikepung dan digebuk. Banyak yang terluka dan tertawan. Tiga hari kemudian, semua pasukan Resimen Infanteri 23 ditarik dari Makale dan meninggalkan Tana Toraja.

Pasande menyebut bahwa faktor Sose tak bisa mengalahkan orang Toraja tak cuma terkait soal perbedaan agama, tetapi alasan terbesarnya berhubungan dengan perilaku militer dan kekayaan Andi Sose sebagai warlord lokal. Artinya, Sose sama saja dengan Frans Karangan, yang hasrat untuk menguasai wilayah demi kepentingan ekonomi.

Belakangan Sose ditarik ke Jakarta lalu dibebaskan pada 1965. Ia kemudian terjun ke dunia bisnis sepenuhnya. Adapun Frans Karangan, sesudah terlibat dalam penumpasan Permesta, berkarier menjadi politikus sebagai anggota DPR. Ia pensiun dengan pangkat brigadir jenderal.

Di kalangan orang Toraja, Karangan dianggap setara Pong Tiku—pahlawan nasional asal Toraja—yang berhasil mengerem ambisi Sose merambah Toraja.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan