Kisah Tiga Mahasiswa Universitas Brawijaya Menyelamatkan Hiu

Oleh: Aditya Widya Putri - 20 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Mereka menemukan Electro Shield System yang bisa mengurangi jumlah hiu yang ditangkapi alat tangkap sampingan.
tirto.id - Lebih dari 70 persen hiu yang diperdagangkan di pasar domestik dan internasional saat ini merupakan hasil tangkapan sampingan. Berbekal niat mengurangi praktik tersebut, trio mahasiswa dari Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya membuat alat bernama Electro Shield System (ESS). Alat itu berfungsi menghalau hiu dengan cara memancarkan gelombang listrik.

Galih Dandung Akbar Gumala, Muhamad Ali Dofir, dan Romi Dwi Nanda dipertemukan dalam sebuah organisasi karya ilmiah di Fakultasnya. Dari sanalah mereka sering bertukar pikiran dan membahas ragam polemik di sektor perikanan Indonesia, terutama hiu. Bagi mereka, predator utama di rantai makanan ini punya peranan besar dalam menyeimbangkan ekosistem laut. Jika populasinya turun, otomatis ekosistem laut akan terganggu.

“Setelah kami lihat, penelitian tentang hiu di Indonesia sangat minim. Upaya pengurangan hiu sebagai tangkapan sampingan belum diaplikasikan dengan cara yang lebih modern dan efektif,” ungkap Galih ketika berbincang singkat bersama Tirto.

Akhirnya, pada bulan terakhir 2015, mereka sepakat memulai riset ilmiah tentang hiu. Ketika itu, Galih dan Dofir masih menempuh semester tiga perkuliahan, sementara Romi berada satu semester di bawah mereka. Riset dimulai dengan mempelajari sifat-sifat dasar hiu. Ketiga mahasiswa itu menemukan satu kesimpulan: hiu peka terhadap rangsang listrik dengan gelombang tertentu.

Premis serupa juga dipaparkan oleh laman NPR. Hiu menerjemahkan gelombang listrik tertentu sebagai ancaman, sama seperti sifat ikan lele dalam sektor perikanan air tawar. Berbekal teori tersebut, mereka kemudian membikin ESS. Kebetulan pada Januari 2016, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan World Wide Fund for Nature (WWF) menggelar kompetisi inovasi alat tangkap. Galih bersama dua orang temannya pun mendaftar sebagai peserta.


Namun, lantaran dana terbatas, dalam kompetisi mereka menggunakan sampel ikan lele dan nila. Pada frekuensi 50-200 hz, ikan lele dianggap stres dan mengambang, sementara nila tidak terpengaruh. Singkat cerita, trio Brawijaya menang karena dianggap berkontribusi besar dalam inovasi di sektor perikanan tangkap Indonesia.

“Setelah alat dimatikan, ikan lele kembali bergerak. Hasil pengamatan itu kemudian kami rekam dan dipresentasikan,” lanjut Galih.

Selepas lulus, Galih dan dua kawannya sudah melakukan dua kali riset lanjutan ESS. Riset ketiga yang dilakukan pada 2018 ini mencoba membikin tampilan ESS lebih sederhana. Saat kompetisi alat penghalau hiu yang dibuat Galih, dkk. masih berupa kabel berkutub positif dan negatif. Pada riset lanjutan, alat tersebut berkembang bentuk menjadi kotak besi berkaki.

Untuk menghantarkan listrik, kaki-kaki ESS harus menyentuh permukaan air laut. Pengembangan di riset terbaru membikin ESS kedap air dengan melapisi kotak menggunakan fiber. Selain itu, kaki-kakinya diberi pelampung berupa pipa peralon yang terhubung antar kaki satu dengan kaki lainnya. Kesimpulan sementara ketiga riset Galih, dkk. menyatakan frekuensi paling efektif menghalau hiu berada di 100 hz.

Sebelumnya, mereka telah menguji frekuensi pada 75-150 hz di perairan Banyuwangi, Bangka Belitung, dan Flores. Pada frekuensi 75 hz terdapat 3 hiu yang tertangkap, namun pada frekuensi 100 hz nihil, dan frekuensi 150 hz tertangkap satu. Kini Galih tengah memfokuskan penyederhanaan bentuk ESS agar bisa dikemas lebih ringkas.

“Kalau ini terealisasi, selain untuk menghalau hiu di perikanan tangkap, bisa juga dipakai manusia guna menghalau hiu saat berselancar.”


Hiu pada Sektor Tangkapan Sampingan

Hiu hanya memakan hewan yang terluka atau sakit, ia berperan sebagai pembersih lautan, memastikan kesehatan ekosistem laut terjaga. Laman World Wide Fund for Nature (WWF) menyebut Atlantik sebagai contoh nyata terganggunya ekosistem laut akibat penurunan populasi hiu. Wilayah itu kehilangan populasi 11 jenis hiu sehingga membikin mata rantai di bawahnya kacau.

Populasi 12 jenis ikan pari meledak hingga 10 kali lipat karena kehilangan pemangsa. Sementara makanan ikan pari berupa kerang-kerangan (bivalvia) menurun jumlahnya. Kondisi tersebut membikin tingkat kekeruhan air meningkat sehingga kemampuan fotosintesis lamun menurun. Hilangnya lamun pada akhirnya membikin ikan-ikan tak dapat bertahan hidup dan hilang dari perairan. Kawasan itu kini disebut sebagai zona mati.

Zona mati Atlantis tak hanya membikin kematian pada ekosistem laut, tapi juga berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar karena sektor pariwisata dan bisnis kuliner lautnya runtuh. Di dunia, turunnya populasi hiu banyak disebabkan oleh perburuan yang justru bukan menargetkan hiu sebagai tangkapan utama, melainkan tangkapan sampingan.

Infografik Electro shield system ESS
Infografik Electro shield system ESS


Dwi Ariyogagautama, Koordinator Konservasi Bycatch dan Hiu dari WWF Indonesia, menyebut 72 persen pasokan hiu didapat dari hasil tangkapan sampingan. Lazimnya, hiu berukuran besar akan diekspor ke negara konsumen seperti Hong Kong, Singapura, Vietnam, Thailand, Cina, dll.

Sementara itu, hiu berukuran kecil diperdagangkan pada pasar domestik. Di Indonesia, hiu sebagai tangkapan target hanya berada di daerah Lampulo-Aceh, Muncar-Banyuwangi, Tanjung Luar-Lombok Timur, dan Rote-NTT.

“Biasanya yang tangkapan target hanya menangkap hiu di atas 2 meter. Yang kecil justru dilepaskan karena tidak laku diekspor,” kata Yoga kepada Tirto.

Sementara nelayan yang menjadikan hiu sebagai tangkapan sampingan berada di Indramayu dengan jenis tangkapan ikan tongkol, lalu di Lamongan dengan target ikan pelagis, dan Benoa, Cilacap, Muara Baru, Pelabuhan Ratu, Bungus-Padang dengan target ikan tuna. Tangkapan hiu mereka tak pernah dilaporkan karena menggunakan praktik shark finning (hanya memotong bagian sirip dan membuang sisa tubuh hiu yang masih hidup ke laut).

Dalam sehari, hiu sebagai tangkapan sampingan bisa terjerat sebanyak lebih dari 1 ton. Mereka dipasok ke daerah konsumen domestik terbesar hiu di Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dan Denpasar. Bagi Yoga, cukup sulit menghentikan hiu sebagai tangkapan sampingan karena rata-rata nelayan menggunakan alat tangkap yang menyiduk semua jenis ikan termasuk hiu. Selain juga karena insentif tambahan yang bisa didapat nelayan.

“Nelayan tuna misalnya, digaji hanya sejuta sebulan. Kalau nangkap hiu kan hasil penjualannya hanya dibagi bersama kapten dan anak buah.”


Lebih lanjut Arifsyah Nasution, Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia dan Asia Tenggara, menambahkan bahwa perikanan tuna menyumbang pasokan hiu terbesar dari tangkapan sampingan. Mereka berkontribusi dalam penangkapan hiu sebanyak 40-50 persen. Menurutnya, industri perikanan tuna dengan alat tangkap long line justru mendapat keuntungan dari tangkapan sampingan mereka.

Long line adalah alat tangkap terdiri dari banyak cabang yang diikatkan pada tali utama. Di bawah tali cabang tergantung kail-kail berisi umpan yang ditempatkan hingga kedalaman 20-50 meter dari atas permukaan laut. Jamaknya, praktik tangkapan sampingan hiu dilakukan oleh kapal-kapal dengan ukuran 30-100 GT.

“Paling banyak yang kena tangkap di perikanan tuna adalah blue shark, itu sekitar 20 persen,” katanya.

Pada kondisi ini, jika saja alat inovasi bikinan Galih sudah bisa diaplikasikan, jumlah hiu sebagai tangkapan sampingan bisa ditekan jumlahnya.

Baca juga artikel terkait IKAN HIU atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani