Kisah Sedih Maria Hagenaar, Istri Pablo Neruda yang Kelahiran Yogya

Infografik Maria hagenaar
Pablo Neruda dan Maria Antonieta Hagenaar. FOTO/Istimewa
Oleh: Maria Inggrid N - 25 Agustus 2018
Dibaca Normal 5 menit
Rumah tangga Maria dan Pablo tak bahagia. Putrinya, Malva Marina, lahir dengan kondisi hidrosefalus dan meninggal di usia 8 tahun.
tirto.id - Pada 6 Desember 1930, Maria Antonieta Hagenaar, seorang pegawai bank berusia 30 tahun, menikah dengan seorang diplomat muda asal Chili bernama Ricardo Neftali Reyes di Batavia.

Ricardo Neftali Reyes—yang beken dengan nama Pablo Neruda—saat itu baru berusia 26 tahun tetapi sudah punya reputasi internasional sebagai penyair. Ia tersohor tapi hidup dalam kemiskinan sehingga memutuskan bekerja sebagai diplomat. Awalnya Neruda ditempatkan di Myanmar, lalu India, Sri Lanka, hingga akhirnya di Batavia, Hindia Belanda.

Maria Hagenaar lahir di Yogyakarta pada 5 Maret 1900. Tak banyak yang dapat diketahui tentang latar belakang keluarga Maria, kecuali bahwa ia tinggal di Batavia bersama ibunya. Ayahnya meninggal pada 1920, disusul kedua saudara laki-lakinya setahun kemudian.


Hagenaar berjumpa dengan Neruda di sebuah klub tenis di Batavia dan menikah beberapa lama setelahnya. Neruda tidak bisa bahasa Belanda dan “Maruca,” begitu Neruda memanggil istrinya, tidak bisa bahasa Spanyol. Keduanya berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dalam Pablo Neruda: Passion, Poetry, Politics, Jodie A. Shull menulis bahwa Neruda menggambarkan Maruca sebagai “seorang gadis yang tinggi, lembut dan tidak tahu apapun tentang seni dan sastra” (2009: 45).

Kabar pernikahan itu disampaikan oleh Neruda kepada keluarganya melalui sepucuk surat. “Mulai saat ini kalian tak perlu khawatir apabila putra kalian sendirian jauh dan seorang diri, karena ada seseorang yang mendampingiku ... Kami miskin namun bahagia,” tulis Neruda (2009: 45).

Awal 1932, Maria Hagenaar, yang kemudian dikenal sebagai Maruca Reyes, ikut Neruda pulang ke Chili karena tugas sang penyair di Asia telah berakhir. Namun, pasangan itu tak lama tinggal di Chili karena setahun setelahnya Neruda mendapat pekerjaan sebagai konsul di Buenos Aires, Argentina. Di Argentina pula ia bertemu dengan penyair Spanyol, Federico García Lorca, yang kelak jadi sahabatnya.

Di Argentina, meski secara keuangan kehidupan Maruca dan Neruda sedikit lebih baik dari pada kehidupan mereka sebelumnya, pernikahan mereka tidak berjalan baik. Maruca sama sekali tidak menyukai aktivitas dan gaya hidup bohemian ala Neruda, yang memang gemar menghabiskan malam dengan minum-minum dan bersenang-senang di bar dan kafe.

Pada akhir Mei 1934, Neruda dan Maruca yang sedang hamil pindah ke Spanyol karena sang suami mendapatkan pekerjaan di Barcelona. Setelah beberapa bulan tinggal di Barcelona, Neruda mengusahakan kepindahannya sebagai konsul ke Madrid karena banyak teman Neruda yang tinggal di Madrid, kota yang saat itu menjadi pusat aktivitas kebudayaan.

Tak Setia

Pada 18 Agustus 1934, sesaat setelah pindah ke Madrid, Maruca melahirkan seorang bayi perempuan prematur bernama lengkap Malva Marina Trinidad Reyes Hagenaar. Kelahiran Malva membawa kebahagiaan bagi Maruca, Neruda, dan kawan-kawan dekatnya. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Malva Marina terlahir dengan kondisi hidrosefalus; di otaknya menumpuk cairan.

Federico García Lorca pun menulis sebuah puisi untuk Malva Marina. Puisi yang baru ‘ditemukan’ oleh anggota keluarga Lorca lima puluh tahun sesudah kelahiran Malva Marina. Menurut Volodia Teitelboim dalam Neruda: An Intimate Biography, puisi itu seperti “doa bagi keselamatan tubuh dan jiwa” Malva yang baru lahir (1991:169).

Malva Marina, siapa yang bisa melihatmu
lumba-lumba cinta dari ombak-ombak kuno,
sementara irama waltz Amerikamu menyuling
racun dan darah dari merpati yang mematikan!

Gadis kecil dari Madrid, Malva Marina,
aku takkan memberimu bunga atau keong;
memikirkanmu, kutempatkan pada bibirmu
sebatang rahmat dan cinta, nafas surga.

Neruda dan Maruca tidak pernah tahu Lorca pernah menulis puisi itu. Neruda sendiri tak pernah menulis puisi yang menyebut nama anaknya. Meski demikian, puisi “Enfermedades en Mi Casa” (“Penyakit-penyakit di Rumahku”) dan “Oda Con Un Lamento” (“Ode dengan Ratapan”) yang diterbitkan dalam kumpulan puisi Residencia en la Tierra (Tinggal di Bumi) pada 1935, menggambarkan kesedihan dalam kehidupan rumah tangganya dan menyinggung kondisi Malva yang sakit-sakitan.

Sepanjang hidupnya, Neruda banyak menulis puisi cinta yang terinspirasi oleh kekasih dan berbagai perempuan yang dijumpainya. Ironisnya, tak satu pun puisi cinta yang dipersembahkan Neruda untuk Maruca. Neruda hanya secara tersirat menyinggung Maruca dalam puisi “Maternidad” (“Keibuan”), yang juga diterbitkan dalam Residencia en la Tierra. Seperti dituliskan Matilde Sánchez dalam “The Tragic Story of Pablo Neruda’s Abandoned Daughter", Neruda “menyalahkan Maruca atas kondisi putri mereka”. Nama Maruca juga disebut secara sepintas lalu dalam puisi “Oda a Federico García Lorca” (“Ode untuk Federico García Lorca”) yang terbit pada 1935.

Neruda barangkali memang tak pernah mencintai Maruca. Dalam Neruda: An Intimate Biography, Teitelboim menulis bahwa “seluruh pernikahannya mungkin adalah kesalahan” (1991:171). Dalam salah satu bait puisinya yang berjudul “Itinerarios” (“Rencana Perjalanan”), Neruda seperti menyalahkan dirinya sendiri atas pernikahannya dengan Maruca.

Mengapa aku menikah di Batavia?
Aku seorang ksatria tanpa kastil
Seorang pengelana yang tidak siap
Seseorang tanpa pakaian atau emas
Seorang idiot yang murni dan bersalah.

Kelahiran Malva tidak memperbaiki kehidupan rumah tangga Maruca dan Neruda yang justru semakin berjarak. Neruda juga tak setia terhadap Maruca. Di Madrid, ia bertemu dan jatuh cinta dengan Delia del Carril, seorang pelukis, komunis, dan aktivis politik dari Argentina, yang usianya dua puluh tahun lebih tua dari Neruda. Gilanya lagi, Delia tinggal di dalam rumah Maruca dan Neruda sebagai sekretaris.

Pada Februari 1935, Maruca mengirim surat ke orangtua dan saudara perempuan Neruda di Chili. Surat yang menjelaskan keadaan Malva itu ditulis dalam bahasa Kastilia dan menunjukkan kemahiran berbahasa Maruca. Meski demikian, surat tersebut tidak menggambarkan kondisi sakit Malva. Maruca menulis,

“Malva sekarang berusia 5 setengah bulan dan sangat manis. Ia tumbuh dan tubuhnya terlalu gemuk. Ia lahir dengan tinggi 47 cm dan sekarang sudah 71 cm. Sangat menakutkan bagiku; aku merasa bersalah jika ia kelak setinggi aku. Ia anak perempuan yang sangat gembira, tak pernah menangis, dan selalu tersenyum. Semua orang menyayanginya, menganggapnya cantik dan cerdas. Beberapa hari yang lalu, ia mulai makan bubur seperti orang dewasa. Ia juga minum jus jeruk, tomat, anggur dengan gula, dan beberapa tetes minyak hati ikan. Ia mendapatkan perawatan UV untuk menguatkan tulang-tulangnya."

Pada 1936, Perang Sipil pecah di Spanyol. Penyair Federico García Lorca dibunuh dan keadaan menjadi sangat tidak aman bagi Maruca dan keluarganya. Mula-mula Neruda memboyong Maruca dan Malva ke Barcelona, lalu ke Perancis dengan kereta api. Pemerintah Chili menutup konsulatnya di Madrid dan berhenti menggaji Neruda.


Karena tidak ada pemasukan, pada 1937 Maruca memutuskan untuk meninggalkan Perancis dan membawa Malva ke tempat asal keluarganya di Den Haag, Belanda. Neruda tetap tinggal di Perancis dan berjanji untuk mengirimkan uang kepada Maruca setiap bulan. Namun, janji itu sangat jarang ia penuhi. Di Perancis, Neruda juga secara terbuka menjalin hubungan cinta dengan Delia del Carril.


Hidup yang Sulit

Maruca menjalani kehidupan yang sulit di Belanda. Ia tak punya pemasukan, sementara Malva sakit-sakitan dan memerlukan perawatan khusus. Melalui asosiasi Gereja Kristus Ahli Ilmu Pengetahuan (Christenwetenschap), Maruca akhirnya menyerahkan Malva kepada pasangan suami-istri Hendrik Julsing dan Gerdina Sierks di Gouda yang bersedia mengasuh Malva sebagai anak angkat. Keluarga Julsing yang memiliki tiga anak mempekerjakan seorang pengasuh yang khusus bertugas untuk mengurus Malva. Gaji sang pengasuh dibayar oleh Maruca.

Tak lama setelah itu, Maruca bekerja di kedutaan Spanyol di Den Haag. Dengan segala keterbatasannya, ia rutin mengunjungi Malva setidaknya sebulan sekali. Berkali-kali Maruca menyurati Neruda, menuntut tanggung jawabnya sebagai ayah dan suami. Karena jarang mendapat respon, Maruca mulai memanggil Neruda dengan sebutan “My dear pig” (“Babiku sayang”).

Pada 2 Maret 1943 Malva Marina meninggal dunia dalam usia 8 tahun dan dimakamkan di Gouda. Tak sepatah kata pun terkirim dari Neruda. “Neruda tidak menulis puisi untuk menandai kematian anaknya, meskipun kemudian ia menulis sebuah syair ratapan penuh perasaan untuk anjingnya,” tulis Dominic Moran dalam Pablo Neruda (2009: 60).

Maruca Reyes tak pernah tahu bahwa setahun sebelum kematian putri mereka, Pablo Neruda telah menceraikan dirinya. Pada 24 April 1942, Neruda, yang sejak Agustus 1940 bekerja sebagai konsul jenderal Chili di Mexico City, memasang pengumuman di sebuah surat kabar Mexico yang ditujukan kepada “Señora Maria Antonia Hagenaar”. Di kolom itu, ia mengajukan permohonan cerai dengan alasan “ketidakcocokan sifat.” Jika Maruca tidak merespons publikasi tersebut dalam waktu tiga hari, tulis Neruda, maka proses perceraian akan dimulai.

Maruca sama sekali tak tahu pengumuman tersebut. Pasalnya, ia tinggal jauh di Belanda yang sedang diduduki Jerman sejak 1940.

Pada Mei 1943 Maruca mengusahakan agar dirinya bisa pindah ke Chili. Kementerian Luar Negeri Chili memberi respon positif atas permohonannya. Sayang, Neruda menolak untuk memberikan persetujuan, bahkan mengancam untuk menghentikan sama sekali kiriman bulanannya.

Dikutip dari Pauline Slot dalam artikelnya “Deze Nederlandse Vrouw trouwde Pablo Neruda, en overleefde Westerbork” yang terbit di majalah HP/De Tijd, Maruca yang putus asa menulis kepada perwakilan Chili di Swiss: “Saya tidak bisa mengerti bagaimana Neruda, suami saya, bisa membuat keputusan yang mengerikan ini, dalam masa penuh kesengsaraan dan bahaya ini ketika orang seharusnya membantu sesamanya.”

Pada 1943 Neruda menikahi Delia del Carril. Tidak jelas apakah Maruca mengetahui pernikahan ini.

Pada 12 Maret 1945, Maruca ditangkap tentara Jerman dan ditahan di Kamp Westerbork, Belanda, yang juga disinggahi Anne Frank sebelum dideportasi ke kamp maut Auschwitz pada 1944. Maruca ditangkap sebagai “Austausch-Kandidat” (Kandidat-Pertukaran) untuk ditukar dengan tentara Jerman yang ditangkap. Sebagai istri seorang Chili, tulis Pauline Slot, Maruca adalah “orang asing di Belanda yang berkewarganegaraan Chili.” Maruca dibebaskan dari Kamp Westerbork pada 19 April 1945.


Dengan segala upaya, Maruca akhirnya berangkat ke Chili. Ia tiba pada Februari 1948 dan delapan bulan kemudian menyetujui perceraiannya dengan Neruda. Ia tinggal selama beberapa tahun di Chili sebelum akhirnya kembali ke Den Haag pada 1959.

Pada 27 Maret 1965 di Den Haag, Maruca Reyes menghembuskan nafas terakhir.

Pada 2010 kisah hidup Maruca Reyes diangkat ke dalam sebuah novel berbahasa Belanda oleh Pauline Slot yang terbit dengan judul En het vergeten zo lang (Dan melupakannya begitu lama). Enam tahun berselang, Hagar Peeters mengangkat kisah Malva Marina dalam novel berbahasa Belanda bertajuk Malva. Kedua penulis perempuan tersebut bermaksud “memberi suara” kepada Maruca dan Malva dan menghadirkan kembali dua tokoh yang keberadaannya seringkali terpinggirkan dalam berbagai biografi Pablo Neruda.

Baca juga artikel terkait SASTRAWAN atau tulisan menarik lainnya Maria Inggrid N
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Maria Inggrid N
Editor: Windu Jusuf
DarkLight