Pahlawan Revolusi

Kisah Pierre Tendean dan Rukmini Tinggal Sejarah Akibat G30S 1965

Penulis: Iswara N Raditya - 1 Okt 2021 18:45 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Kisah cinta Pierre Tendean dan Rukmini Chaimin dikandaskan sejarah. Pahlawan Revolusi Pierre Tendean menjadi korban dalam peristiwa G30S 1965.
tirto.id - Kisah cinta Pierre Tendean dan Rukmini Chaimin sejatinya bakal berlanjut ke pelaminan. Namun, sejarah berkata lain. Pernikahan itu tidak pernah terjadi karena Pierre Tendean menjadi korban dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang disebut melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan sejumlah oknum dari unsur kemiliteran.

Letnan Satu Pierre Tendean adalah ajudan Menteri Pertahanan Republik Indonesia kala itu, Jenderal Abdul Haris (A.H.) Nasution. Malam itu, tanggal 30 September 1965 jelang pergantian bulan, Pierre Tendean yang sedang bertugas di kediaman sang jenderal mengalami kejadian tak terduga yang nantinya menjadi akhir dari segalanya.

Satu kompi militer bersenjata beserta satu peleton milisi sipil yang disebut pro gerakan PKI menyambangi rumah Jenderal Nasution di Menteng, Jakarta Pusat, pada tengah malam itu. Letnan Satu Pierre Tendean yang dikira sang jenderal kemudian diculik, dibawa paksa ke Lubang Buaya, lalu dibunuh.

Sejarah Hidup Pierre Tendean Hingga G30S

Nama lengkapnya adalah Pierre Andries Tendean, lahir di Jakarta tanggal 21 Februari 1939. Ayahnya, A.L. Tendean, dikenal sebagai seorang dokter yang berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Sedangkan sang ibunda, Maria Elizabeth Cornet, merupakan blasteran Indo-Perancis.

Sejak kecil, Pierre Tendean bercita-cita menjadi prajurit, atau setidaknya menjadi dokter seperti ayahnya. Tahun 1958, ia diterima di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung dan kemudian lulus dengan menyandang pangkat letnan dua.

Pierre Tendean lalu ditugaskan sebagai Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Sumatera Utara sejak 1961. Semasa berdinas di Medan inilah ia berkenalan dengan Rukmini Chaimin. Jalinan asmara dua sejoli ini semakin serius dan berniat mengikat janji bersama.

Tahun 1962, tulis Gamal Komandoko dalam Kisah 124 Pahlawan & Pejuang Nusantara (2006), Pierre Tendean dikirim ke Bogor untuk menjalani pendidikan intelijen. Setelah lulus, ia bergabung dengan Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) dan disusupkan ke Malaysia yang kala itu sedang terlibat konfrontasi dengan Indonesia.

Karier Pierre Tendean di kemiliteran melaju mulus lantaran kecakapannya sehingga mendapatkan kenaikan pangkat letnan satu pada 1965. Masa depannya semakin cerah karena tidak lama setelah itu, Lettu Pierre Tendean dipromosikan untuk mengemban tugas sebagai ajudan Jenderal A.H.Nasution.


Kisah Cinta Pierre Tendean dan Rukmini Chaimin

Pierre Tendean adalah sosok pemuda yang tampan dan berparas mirip bule dari darah campuran dari sang ibunda yang mengalir di dalam nadinya.

“Sejak menjadi taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD), Letnan Satu Pierre [Tendean] telah menjadi pusat perhatian gadis-gadis remaja,” ungkap Masykuri dalam buku yang ditulisnya berjudul Pierre Tendean (1983).

Saat ditugaskan di Medan pada 1961, Pierre Tendean pun menjadi buah bibir para gadis yang terpesona dengan ketampanannya. Dikutip dari buku Monumen Pancasila Çakti (1975), ada satu gadis yang menarik perhatian Pierre Tendean. Perempuan itu bernama Rukmini Chaimin.

Hubungan dua sejoli ini beranjak serius, bahkan hingga ketika mereka terpisah jarak dan waktu karena Pierre Tendean harus menjalankan tugas dan meninggalkan Sumatera Utara, hingga ditarik ke Jakarta untuk menjadi ajudan Jenderal A.H. Nasution.


Akhir Juli 1965, Letnan Satu Pierre Tendean ditugaskan mengawal Jenderal A.H. Nasution beserta istri ke Medan untuk melakukan peninjauan. Kesempatan ini tidak hanya digunakan Pierre Tendean melepas rindu kepada Rukmini. Ia menemui orang tua Rukmini untuk melamar kekasihnya itu.

Lamaran Pierre Tendean diterima dan disepakati bahwa pernikahan akan digelar beberapa bulan mendatang, tepatnya tanggal 21 November 1965. Kabar gembira ini kemudian disampaikan Pierre Tendean kepada ibunya. Sang ibunda berpesan kepada putra kesayangannya itu:

“Jangan terlalu memuja calon istrimu. Jangan sekali-kali mempunyai anggapan bahwa cintamu terhadap calon istrimu tidak dapat dipisahkan oleh siapa pun.”

Pesan sang ibunda yang dinukil dari buku Jejak Sang Ajudan: Sebuah Biografi Pierre Tendean (2018) yang disusun Ahmad Nowmenta Putra dan Agus Lisna itu disampaikan tepat dua hari sebelum peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965 terjadi.

Takdir berkehendak lain. Tragedi G30S 1965 yang menyorot keterlibatan orang-orang PKI dan sejumlah oknum dari unsur militer ternyata turut merenggut nyawa Letnan Satu Pierre Tendean. Sang pembela bangsa yang oleh gerombolan penculik dikira atasannya, yakni Jenderal A.H. Nasution, menjadi korban bersama 6 perwira tinggi TNI Angkatan Darat.

Jasad Pierre Tendean dan 6 jenderal TNI-AD ditemukan, kemudian dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, tanggal 5 Oktober 1965. Pemerintah RI menetapkan Pierre Tendean sebagai salah satu pahlawan revolusi dan secara anumerta dipromosikan naik pangkat kapten.


Baca juga artikel terkait PAHLAWAN REVOLUSI atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Addi M Idhom

DarkLight