Kisah Pernikahan dan Bisnis Dua Anak daripada Soeharto

Soeharto dan Siti Hartinah. FOTO/ AP
Oleh: Petrik Matanasi - 3 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Awal tahun 1972, Soeharto menikahkan dua anaknya dalam waktu yang berdekatan, yakni Tutut dan Sigit.
Tahun 1971, Sigit Hardjojudanto baru lulus SMA. Tahun berikutnya, tepatnya pada 23 Januari 1972, anak daripada Soeharto ini naik ke pelaminan pada usia 20 tahun. Ia menikahi Elsje Anneke Ratnawati yang usianya setahun lebih tua dari Sigit. Acara pernikahan mereka digelar di Komplek Polisi Militer Pasar Rebo dengan memakai adat Jawa.

Hubungan cinta antara Sigit dan Elsje, seperti dicatat majalah Varia nomor 721 (09/02/1972), bermula sekitar tahun 1970 di lapangan basket SMA 1 Budi Utomo. Sekolah ini dulu bernama Prins Hendrik School.

“Pandangan pertama yang amat mengesankan ini, dilanjutkan dengan hubungan intim, sehingga kedua insan bersepakat untuk mengarungi bahtera hidup sebagai suami istri,” tulis Varia.

Sigit dan Elsje sama-sama anak tentara. Soeharto, seperti kita tahu, adalah jenderal yang pernah menjadi Panglima Kostrad. Sementara ayah Elsje adalah Letnan Kolonel Djoefrie, perwira polisi militer yang tidak menonjol dalam sejarah kemiliteran Indonesia. Maklum, polisi militer tidak dilahirkan untuk menjadi bintang pertempuran, melainkan menjaga disiplin tentara.

Jika Sigit menikah pada 23 Januari 1972, maka kakaknya, Siti Hardijanti Hastuti alias Tutut, menikah pada 29 Januari di tahun yang sama. Saat itu, usia Tutut telah menginjak 23 tahun. Ia dipersunting oleh Indra Rukmana, anak Edi Kowara, pengusaha nasional sejak zaman Orde Lama.

“Beberapa tahun yang lalu hati Tutut (yang wajahnya mirip dengan wajah Ibu Tien) terpaut pada seorang pemuda tampan, Indra Rukmana,” tulis Varia nomor 721.

Hubungan mereka berawal ketika sama-sama kuliah di Universitas Trisakti. Ketika bertemu, Tutut baru tingkat empat, sementara Indra beberapa tahun di atasnya. Ketika menikah, hubungan mereka telah berjalan selama empat tahun.

Selama kuliah, Indra sering mengurus perkebunan milik ayahnya di Sukabumi. Hal ini membuatnya kerap tak masuk kelas. Ayahnya yang dibesarkan di Bekasi pada mulanya memulai bisnis dengan menjadi pemborong kecil-kecilan sebelum akhinya menjadi pengusaha konstruksi raksasa di bawah bendera PT Tehnik Utama.

"Salah satu perusahaan terbesar di Indonesia di bawah Soeharto yang terlibat dalam konstruksi, teknik, dan perdagangan umum,” tulis Joe Studwell dalam Asian Godfathers: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa (2017:352).

Sementara dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia (1984: 393-394), Edi Kowara disebutkan tidak hanya mempunyai PT Tehnik Umum, melainkan masih memiliki sepuluh perusahaan lain. Beberapa di antaranya adalah pembotolan Coca-Cola untuk Jawa Barat, makanan ternak, asuransi jiwa, suku cadang mesin tekstil, pabrik minyak kelapa, perkebunan karet, pabrik baja, dan PT Cipta Sarana.



"Contoh yang Baik kepada Masyarakat"

“[Resepsi] perkawinan mereka (kakak beradik Tutut dan Sigit) telah dilakukan dalam satu upacara yang meriah di Istana Bogor tanggal 29 Januari 1972,” tulis O.G. Roeder dalam Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto (1976: 200).

Sukamdani, kerabat Tien Soeharto yang menjadi bos Hotel Sahid, menulis dalam memoarnya yang bertajuk Memoar Sukamdani S.G.: Otobiografi II 1993-2001: Kisah Kegiatan Bisnis, Pendidikan, Sosial-Budaya, dan Harapan Saya (2001:163) tentang kemeriahan acara resepsi perkawinan tersebut.

“Pada hari pernikahan udara pagi cerah. Para duta besar dan menteri datang menghadirinya,” tulisnya.

Majalah Varia mencatat bahwa tujuan dilakukannya hajatan secara serempak adalah untuk menghemat pengeluaran alias alasan ekonomis.

“Pendek kata, Pak Harto dan Ibu Tien kabarnya menginginkan supaya semua putra dan putri mereka dalam hal turut memberi contoh yang baik kepada masyarakat ramai,” tulis Varia.

Agar bisa dekat dengan anak-mantunya, Soeharto dan Ibu Tien telah membangun rumah-rumah yang berdekatan dengan tempat tinggal mereka di sekitar Jalan Cendana.

Pada perjalanannya, Sigit dikenal sebagai pengusaha dan pemilik klub bola Arseto. Maklum, ia doyan bermain sepakbola. Sementara Tutut yang di akhir pemerintahan Soeharto diangkat menjadi menteri, juga dikenal sebagai pengusaha. Ketika Soeharto masih hidup dan berkuasa, anak mantunya terlibat dalam sejumlah yayasan di luar dunia bisnis.

“Sigit bersama Indra duduk dalam Yayasan Dharmais,” kata Soeharto dalam autobiografinya yang ditulis oleh Ramadhan K.H, bertajuk Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989:293).

Setelah Soeharto lengser, kejayaan bisnis anak-anaknya juga perlahan meredup, meski mereka masih tetap tajir.

Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight