Kisah Perias Jenazah yang Kerap Merias di Acara Take Me Out

Oleh: Rizky Ramadhan - 6 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Pekerjaan merias jenazah sudah dijalani selama 15 tahun. Selama waktu itu pula, Fakhru punya banyak kisah selama menjadi perias jenazah.
tirto.id - Suasana di Rumah Duka Sentosa, Jakarta Pusat, tampak lengang, pada Rabu (5/92018). Siang itu, Pahrudin alias Fakhru Agnia, pria 38 tahun, duduk di salah satu sudut kamar mayat di pemulasaran bertaraf internasional itu. Ia tengah asik menceritakan sebagian kisah hidupnya sebagai perias jenazah kepada saya. Tak lama berselang, sebuah mobil Hyundai H-1 putih datang. Fakhru menghentikan obrolan.

“Ada jenazah datang. Nanti disambung lagi,” kata Fakhru. Saya pun mengikutinya yang bergegas menyambut kedatangan mobil khusus jenazah itu.

Fakhru membantu membukakan pintu masuk. Lima petugas berseragam hijau turun dari mobil yang bertuliskan “Rumah Duka dan Taman Pemakaman”. Mereka membuka pintu belakang mobil, mengeluarkan keranda berisi jenazah yang dibungkus kain putih. Lalu mereka membawanya masuk ke ruang rias jenazah.

Sepasang suami istri keturunan Tionghoa keluar dari mobil lain dan ikut mengantar keranda ke dalam. Mereka tak menangis, hanya matanya berkaca-kaca.

“Jenazahnya perempuan, mungkin itu keluarganya,” ujar Fakhru. Ia kemudian masuk ke dalam ruangan rias jenazah yang pintunya tertutup rapat.

Mengambil gambar dan melihat langsung prosesi merias jenazah tak diperbolehkan. Saya menunggu di dekat kolam kecil berisi ikan koi warna-warni. Belasan menit berlalu, Fakhru kembali mengajak saya masuk di ruangan yang terpisah dengan keluarga yang tengah berduka.

Dalam sebulan, Fakhru sering merias hingga 50 jenazah. Untuk merias jenazah, kata Fakhru, keluarga yang berduka harus merogoh kocek dari harga Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Itu hanya untuk mengganti alat riasnya saja. Kosmetik yang digunakan terdiri dari blush on, lipstick, eyeshadow, eyeliner, foundation, bedak tabur, bedak padat, maskara, hairspray, alat sasak rambut, dan blow.

“Yang harga Rp 1 juta itu kosmetik lokal, yang Rp 2 juta impor dari Paris,” tuturnya menjelaskan.

“Wah, berapa gaji sebulan mas?” tanya saya penasaran.

“Di atas UMR lah. Yah, saya enggak mikir ke nominalnya. Saya lebih mikir aspek sosial, yakni menolong orang.”

Fakhru hanya tamatan sekolah dasar yang awalnya bekerja sebagai cleaning service di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Ilmu merias didapat dari ibunya yang bekerja sebagai perias pengantin. Kemudian medio 2007, ada teman yang menawarkannya sebagai perias jenazah. Karena punya kemampuan di bidang itu, tanpa berpikir panjang, Fakhru mengambil peluang tersebut.

Untuk memantapkan ilmu riasnya, Fakhru kemudian ikut sekolah kecantikan di Johnny Andrean School and Training pada 2011. Di sana kemampuannya untuk merias wajah dan menata rambut ditempa.

“Selain merias jenazah,” lanjut Fakhru. “Saya juga merias pengantin dan artis di beberapa stasiun televisi.”

Memang usai menempuh sekolah kecantikan, karir Fakhru meningkat, dia memiliki pekerjaan sampingan merias artis. Ia mempermak wajah artis pertama kalinya di ajang Take Me Out Indonesia yang dipandu Eko Patrio. Setelahnya, dia bekerja merias artis di acara dangdut hingga sinetron di berbagai stasiun televisi swasta, dan paling sering di Indosiar.

Pekerjaan merias artis tak menganggu waktu kerjanya sebagai perias jenazah karena ia mengambil kerja di hari Sabtu dan Minggu, atau di hari-hari libur. Terlebih, pekerjaan sampingan Fakhru lainnya ialah merias model dan pengantin.

Setelah kawan-kawannya tahu bahwa Fakhru bekerja sebagai perias jenazah, banyak yang takut. “Tapi saya bilang, saya enggak pernah pakai alat yang sama kok untuk artis dan jenazah,” ungkapnya sembari terkekeh.

Susahnya Merias Mereka yang Tak Bernyawa

Merias jenazah pada dasarnya sama dengan merias manusia yang masih hidup. Hanya saja, tubuh orang mati tidak bisa diarahkan dan bergerak. Dalam kasus tertentu, menurut Fakhru, justru lebih susah merias mereka yang tak bernyawa.

Kesulitan yang sering dialami ialah ketika jenazah merupakan korban kecelakaan, terbakar, dan sebagainya yang menyebabkan kondisi tubuh tak normal. Jika tubuh jenazah tak rusak, Fakhru bisa merias dalam waktu setengah jam. Namun ketika jenazah dalam keadaan buruk, bisa memakan waktu rias hingga tiga jam.

“Jika jenazah korban tak utuh, kami enggak langsung rias. Ada penanganan khususnya, baru kemudian setelah rapi, kami rias,” kata Fakhru.

Fakhru punya trik khusus untuk merias jenazah yang meski sudah diautopsi dan dijahit, masih ada bekas jahitan di wajah. Supaya bekas tersebut tak terlihat, ia oleskan alas bedak (foundation) dengan perlahan.

“Kalau ada yang berlubang atau enggak rata, itu saya tambal pakai foundation. Memang tidak mudah,” cerita Fakhru.

Penanganan khusus lain, ketika jenazah menderita penyakit liver, seluruh tubuhnya akan menguning. Sama halnya jika jenazah punya penyakit jantung, tubuhnya mula-mula akan memar lalu menghitam.

Cara menanganinya hampir sama, melapisinya dengan alas bedak yang lebih tebal. Namun kadang, kata Fakhru, keluarga tak mau jenazah terlihat menor. Dia menanggapinya sebagai tantangan yang harus dilaksanakan.


Perbedaan lain antara merias jenazah dengan manusia hidup ialah daya tahan riasan. Pada pengantin atau model, riasan boasanya hanya bertahan paling lama satu hari. Akan tetapi untuk jenazah bisa tiga hingga tujuh hari.

“Pernah suatu waktu, tahun lalu tepatnya, ada keluarga membawa tukang make up pribadi. Biasa orang kaya memang punya tukang make up sendiri. Alat yang digunakan terlihat mahal dan lengkap. Eh ketika mau merias, tangannya gemetaran,” kenang Fakhru diiringi ledakan tawanya sendiri.

Pengalaman tak mengenakkan bagi Fakhru ialah ketika ada jenazah yang bibirnya tidak mau menutup meski sudah dibacakan doa. Pihak keluarga akhirnya minta bibirnya dijahit. Hal lain ialah ketika ada jenazah yang sudah lama menderita penyakit stroke, rahangnya juga tidak mau menutup. Keluarga minta rahang jenazah dipatahkan.

“Saya enggak tega sebenarnya, dalam agama saya diajarkan untuk memperlakukan mayat dengan baik. Bahkan untuk memandikannya saja tidak boleh keras-keras,” kenangnya.

Hingga kini sudah lima belas tahun ia bekerja sebagai perias jenazah. Ia tetap tak merasa bosan dengan pekerjaannya. Ia menyukai pekerjaan tersebut karena tak banyak orang yang berani berdamai dengan tantangan merias jenazah.

“Kalau perias yang lain itu udah banyak banget. Perias jenazah itu saingannya sedikit, uangnya juga gede,” ucap Fakhru sambil tertawa. Entah dia serius atau hanya bercanda.

Kini, Fakhru Agnia sudah semakin sering merias jenazah, artis, model dan pengantin. Bahkan ia pernah diundang tampil di beberapa stasiun TV, menghadiri talk show seperti Intermezzo di MNC TV, Hitam Putih di Trans 7, Jelang Siang di Trans TV, D’Clinic Show di GTV, dan On the Spot di Trans 7.

Baca juga artikel terkait RIAS JENAZAH atau tulisan menarik lainnya Rizky Ramadhan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Rizky Ramadhan
Penulis: Rizky Ramadhan
Editor: Dieqy Hasbi Widhana