Kisah Pengepul Jelantah: Iktikad Meminimalisasi Kerusakan Alam

Oleh: Alfian Putra Abdi - 15 Mei 2021
Dibaca Normal 3 menit
Jelantah yang biasanya dibuang begitu saja berbahaya bagi lingkungan. Sebagian orang yang sudah tahu berupaya menangani itu.
tirto.id - Keluarga Maryati yang berdomisili di Jakarta Selatan tak bakal melewatkan hari tanpa makanan yang digoreng. Maryati gemar tempe goreng tepung, kedua anak remajanya menyukai aneka makanan daging olahan beku, dan sang suami menjagokan telur goreng mata sapi dan ayam goreng. Makanan jenis ini selalu punya daya tarik bagi mereka. Rasanya gurih, kerenyahannya yang sukar ditampik, dan terutama bagi Maryati penyajiannya praktis.

“Susah untuk menghindarkan menu gorengan di rumah,” akunya kepada reporter Tirto, Kamis (6/5/2021).

Ia paham terlalu sering mengonsumsi makanan berminyak akan berdampak buruk bagi kesehatan. Suaminya pun sudah terkena kolesterol dan setiap kali periksa ke dokter selalu diminta mengurangi melahap menu gorengan.

Yang tidak Maryati paham, ke mana harus membuang sisa minyak goreng bekas pakai. Dalam sebulan mereka bisa menghabiskan tiga liter minyak goreng sawit. Seumur hidup Maryati membuang jelantah ke selokan air atau lahan tanah kosong dekat rumah.

Terkadang ketidakpahaman perempuan 47 tahun itu berbuah perkara. Pernah suatu waktu Maryati panik mendapati air tergenang di saluran tempat ia biasa mencuci piring. Karena saat itu di rumah seorang diri, Maryati berinisiatif membuka tutup saluran dan menyodok lubang dengan batang bambu. Ada ampas sayuran atau plastik kemasan yang tersangkut, pikirnya. Namun tidak terlalu banyak membantu.

“Saya pakai soda api dan air panas. Air kembali mengalir normal untuk beberapa saat,” ujarnya.


Namun mampat terulang beberapa waktu kemudian, padahal Maryati sudah menambahkan jaring filter di lubang air. Ia yakin seluruh ampas sayuran dan plastik sudah terbuang di tempat sampah.

Sebagai upaya pamungkas, ia mengandalkan jasa penyedot WC.

“Hasilnya banyak kandungan minyak yang bikin aliran air jadi tersumbat,” ujarnya. Sejak saat itu ia menyadari jelantah tidak bisa diperlakukan asal.

Maryati membuang jelantah ke tukang pengangkut sampah harian. Biasanya ia menitipkan dua botol ukuran satu liter setengah. Upaya tersebut hanya memindahkan persoalan saja, sebab Maryati tidak memahami nasib jelantah di tangan para pengangkut.

“Saya tidak paham, mereka akan apakan itu. Diolah atau dibuang begitu saja,” ujarnya.

Minyak goreng sawit juga menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga Anindya. Perempuan 27 tahun itu memiliki hobi memasak, dan makanan yang digoreng adalah resep yang kerap tersaji.

Setahun terakhir ia menyadari aktivitas memasaknya dapat menimbulkan persoalan kesehatan dan lingkungan. Sebuah artikel tentang konsep hidup ramah lingkungan di media massa yang menyatakan bahwa jelantah turut menyumbang kerusakan pada bumi membelalakkan mata Anin.

“Gue mikir limbahnya mau dikemanakan. Selama ini, ya, gue cuma buang ke tong sampah dan terserah yang ngangkut. Gue enggak tahu jelantah ini diolah atau malah tercecer begitu saja,” ujarnya kepada reporter Tirto.


Anin lalu berkenalan dengan sekelompok organisasi masyarakat yang menerima jelantah bahkan dalam jumlah lebih dari tiga liter. Jelantah nantinya akan diolah menjadi biodiesel.

“Sebagai awam, gue kira ini langkah paling sederhana dan bijak untuk ambil bagian menjaga lingkungan,” ujarnya.

Persoalan limbah jelantah juga mengusik kehidupan Reby Bagja Herdian. Ia sempat kelimpungan untuk mengalokasikan stok jelantah di rumah sebelum akhirnya sejak setahun terakhir bersama organisasi Tunasmuda Care yang ia pimpin menginisiasi gerakan Donasi Jelantah, dengan lokus DKI Jakarta dan sekitarnya.

“Kami diskusi dengan DLH DKI Jakarta, infonya jelantah yang terbuang dalam satu bulan mencapai 4 juta liter,” ujarnya kepada reporter Tirto.

Reby bekerja sama dengan 4 ribu relawan yang tersebar di beberapa kecamatan DKI Jakarta, semisal Cipayung, Ciracas, Kramat Jati, Makasar, Pasar Rebo, Duren Sawit, Matraman, dan Pulo Gadung. Setiap bulan rerata ia dan tim bisa mengumpulkan 20 ribu liter jelantah hasil rumah tangga.

Sebelum ia mengangkuti jelantah di satu lokasi, tim terlebih dulu melakukan sosialisasi dan baru membentuk relawan di setiap titik pengangkutan.

Ia menyadari bahwa masyarakat pada umumnya sudah mengetahui dampak buruk minyak goreng bagi kesehatan. Namun mereka masih tidak memahami dampaknya bagi lingkungan. Orang-orang seperti Maryati dan Anin adalah fenomena yang jamak ia temukan di lapangan.

“Minyak jelantah menjadi faktor penyebab banjir. Kalau banjir besar Jakarta itu karena sampah padat, tapi kalau banjir lokal di rumah, besar kemungkinan yang membuat mampat selain sampah padat, ya, jelantah itu,” ujarnya.


Sayangnya ia belum bisa mengolah limbah jelantah secara mandiri. Ia bekerja sama dengan rekanan swasta yang akan mengekspor ke beberapa negara di Eropa untuk diolah.

“Pemprov [DKI Jakarta] sendiri belum ada dan belum punya. Kebanyakan mereka [mengolah] sampah padat. Yang di Bantargerbang saja persoalannya belum selesai-selesai,” tuturnya.

Donasi Jelantah sedang membangun komunikasi dengan para peneliti dari Universitas Trisakti agar dapat mengolah jelantah mandiri. Nantinya minyak-minyak tersebut akan diubah menjadi biodiesel dengan peruntukan industri. Reby berharap ide ini bisa terealisasi dua tahun lagi.

“Pertimbangannya nilai pasar. Karena kalau [diolah sebagai] minyak curah, setahu saya minyak goreng tidak boleh sering dipakai. Diolah sebagai sabun, tergantung risetnya. Intinya agar ada manfaat lanjutannya,” ujar Reby.

Jelantah untuk Biodiesel

Jelantah sebenarnya bisa menjadi pengganti bahan baku crude palm oil (CPO) untuk biodiesel. Manajer Riset Traction Energy Asia Ricky Murti mengatakan dia mendukung jelantah sebagai bahan biodiesel sebab program B30 standar yang tengah diupayakan pemerintah berpotensi menyebabkan defisit pasokan CPO pada 2023 dan “mengancam kawasan hutan karena ekspansi lahan perkebunan sawit untuk memenuhi permintaan pasokan bahan baku.”

“Penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel dapat membantu pemerintah mengatasi fluktuasi Harga Indeks Produksi (HIP) Biodiesel dari CPO dan solar yang tergantung pada harga di pasar internasional,” tambah Ricky.

Hal in sejalan dengan pernyataan Subkoordinator Keteknikan Bioenergi Kementerian ESDM Hudha Wijayanto yang menilai jumlah potensi jelantah Indonesia “dapat memenuhi 32 persen kebutuhan biodiesel nasional.”


Konsumsi minyak goreng di negara ini menghasilkan 13 juta ton jelantah pada 2019. Sebagai pembanding, Uni Eropa menghasilkan 22,7 juta ton, Amerika Serikat 16 juta ton, dan India 23 juta ton.

Sayangnya hanya 18,5 persen jelantah yang dapat dikumpulkan. Dalam konteks inilah upaya-upaya mengumpulkan jelantah seperti yang dilakukan Reby menjadi penting.

Pemanfaatan jelantah untuk bahan baku biodiesel akan menjadi contoh konkret ekonomi daur ulang yang efisien dan multi manfaat. Pemerintah hanya perlu menyiapkan regulasi agar setiap sektor: rumah tangga, perhotelan, restoran, dan kafe; bersedia menjadi pemasok jelantah.

“Dengan sistem tersebut, masalah minyak jelantah yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan dapat teratasi, kebutuhan pasokan biodiesel dapat terpenuhi, dan dapat berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi,” kata Ricky.

Baca juga artikel terkait SAMPAH RUMAH TANGGA atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Alfian Putra Abdi & Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Rio Apinino
DarkLight