Kisah Pasar Ekstrem Tomohon, Secuplik Perlawanan, dan Lelucon

Kelelawar di pasar ekstrem, Sulawesi. FOTO/iStockphoto
Oleh: Petrik Matanasi - 1 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kebiasaan orang Minahasa, khususnya Tomohon, dalam mengonsumsi kelelawar, tikus hutan, ular, kucing, dan hewan lainnya.
tirto.id - Tomohon adalah kota kecil nan dingin di Kabupatan Minahasa, Sulawesi Utara. Jaraknya kira-kira satu jam perjalanan dari Manado dengan menggunakan kendaraan bermotor. Ruas jalan yang menyambungkan kedua kota ini berkelok-kelok, melewati Pineleng (tempat pembuangan Tuanku Imam Bonjol) dan Kinilow (pernah menjadi markas Permesta).

Sejak dulu, Tomohon adalah salah satu kota pelajar di Sulawesi Utara. Meski kecil, kota ini telah mempunyai sekolah setingkat SMA, yakni Algemene Middelsbare School (AMS). Selain itu, Tomohon juga memiliki sekolah setingkat SMP dan SD, yaitu Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan Hollandsch Inlandsche School (HIS).

Kini, di kota ini terdapat Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Sekolah Tinggi Teologi, Fakultas Psikologi dan PGSD dari Universitas Negeri Manado (UNIMA), dan kampus-kampus lainnya. Di kota ini, beberapa orang terkemuka Minahasa pernah bersekolah, salah satunya adalah pelukis Henk Ngantung yang pernah menjadi Gubernur Jakarta.

Namun, kiwari Tomohon justru terkenal karena keberadaan pasar ekstrem yang menjual berbagai daging binatang yang di sejumlah daerah tidak lazim dikonsumsi. Nama resmi pasar tersebut adalah Pasar Beriman Kota Tomohon. Jika Anda mengetik kata "Tomohon" di mesin pencari, maka yang pertama muncul adalah gambar dan artikel tentang pasar tersebut.

Sejumlah hewan yang dagingnya dijual di pasar ini di antaranya adalah kucing, anjing, tikus hutan, kelelawar, dan ular. Sebagian besar sudah dipanggang, hanya ular piton yang masih berupa potongan daging mentah.

Salah satu hewan yang dagingnya sudah dilarang untuk diperdagangkan sehingga tak mudah ditemukan adalah monyet. Meski demikian, kata seorang supir taksi di Tomohon yang saya ajak bicara pada 2018, daging monyet masih bisa ditemukan di pasar sebelum hari terang.

Selain di Tomohon, ada beberapa tempat yang juga menjual daging ular piton, salah satunya di Terminal Malalayang, Kota Manado. Di sana juga terdapat sejumlah restoran yang menyajikan makanan olahan dari hewan-hewan tersebut.

Ular Piton yang biasa disebut patola, kerap dimasak sebagai makanan bersantan atau sate. Hewan ini agak sulit ditemukan di Sulawesi Utara sehingga harus disuplai dari Sulawesi Tengah. Dan kelelawar juga biasanya diolah dengan bumbu santan yang bernama paniki. Selain itu, ada juga olahan tikus hutan yang disebut kawok.

Alex Mendur, salah seorang pemotret momen Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang mendirikan IPPHOS, seperti dicatat dalam buku Alexius Impurung Mendur (1986:9), ketika bocah sering mengonsumsi hewan tersebut:

”Alex Mendur suka berburu tikus kebun (tikus hutan) bersama teman-temannya. Begitu dapat lalu dibakar dan dimakan.”



Perang, Lelucon, dan Pembelahan

Kebiasaan mengonsumsi hewan-hewan yang tak lazim dimakan, membantu orang Minahasa ketika harus bertahan di hutan. Pada era konflik bersenjata tahun 1950-an, orang-orang Minahasa yang menjadi gerilyawan--baik dalam Pasukan Pembela Keadilan (PPK) pimpinan Jan Timbuleng maupun Permesta pimpinan Vintje Sumual--mampu bertahan hidup dengan logistik yang terbatas.

Sebuah contoh disampaikan oleh Rudy Manoppo, salah seorang pengikut Permesta yang belakangan masuk Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang angkatan 1962. Dalam kursus kecabangan infanteri, seperti terdapat dalam buku Kompi Sulhaspati: Pengabdian dan Perjuangan (2002: 320), Rudy memberikan contoh bertahan hidup di hutan dengan memakan monyet dan ular.

Kebiasaan mengonsumsi hewan-hewan ini kemudian melahirkan sejumlah lelucon. Salah satunya adalah ungkapan bahwa "semua yang bisa terbang asal bukan pesawat, semua yang melata asal bukan kereta api, bisa dimakan oleh orang Minahasa".

Sejak lama, hewan-hewan itu sudah jadi santapan orang Minahasa, bahkan sebelum agama Kristen dan Islam masuk ke Sulawesi Utara. Sebagian orang Kristen yang tidak mengharamkan makanan ini kemudian melanjutkan kebiasaan tersebut.

”Jelas bahwa makanan membelah antara Kristen-Minahasa dan Islam,” tulis Nono Sumampouw dalam bukunya Menjadi Manado: Torang Samua Basudara, Sabla Aer, dan Pembentukan Identitas Sosial (2018:11).

Namun ia menegaskan bahwa hal itu terjadi hanya dalam soal makanan, bukan membelah Minahasa secara luas. Selain orang Islam, menurut Roger Allan Kembuan, sejarawan dan pengajar di Universitas Sam Ratulangi, penganut Kristen Advent juga tidak mengonsumsi hewan-hewan tersebut.

Baca juga artikel terkait PASAR TOMOHON atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight