Sejarah Indonesia

Kisah Oerip Soemohardjo Muda Melawan Politik Rasial

Infografik Oerip Soemohardjo
Illustrasi Oerip Soemohardjo. tirto.id/Sabit
Oleh: Petrik Matanasi - 17 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Oerip Soemohardjo adalah perwira muda keras kepala. Setidaknya, sebanyak dua kali dia melawan politik rasial orang Belanda di Kalimantan.
tirto.id - Jenderal Oerip Soemohardjo barangkali kalah populer dari Jenderal Soedirman, sang Panglima Besar. Meski kenyataannya, Oerip adalah penyusun organisasi tentara dengan membentuk Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta.

Setidaknya, buku babon Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Jepang dan jaman Republik Indonesia (1984:109) menyebut Oerip "diserahi tugas menyusun tentara nasional" dan melaksanakannya. Atas jasanya, tak heran pemerintah Republik Indonesia menganugerahi Oerip gelar Pahlawan Nasional, berdasar Keputusan Presiden No. 314 Tahun 1964.

Kepahlawanan Oerip, tak hanya ia perlihatkan ketika mendirikan TNI saja sekitar tahun 1945. Pada zaman kolonial, ia bahkan tak segan, dengan caranya sendiri, melawan politik rasial yang dilakukan oleh kolonialis Belanda sebanyak dua kali. Sikap kepahlawanan Oerip sebagai orang Indonesia ini ia tunjukkan pada masa mudanya kendati kala itu ia belum memiliki kesadaran ataupun merasa sebagai orang Indonesia.


Melarang Kereta Api Rasis


Oerip Soemohardjo adalah Letnan muda di Tentara Kerajaan Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), sejak 1914. Setelah 1915, ia dikirim bertugas ke Kalimatan bagian selatan dan timur. Daerah yang pernah disinggahinya antara lain, Banjarmasin, Curuk Pahu, Muara Tewe, Tanah Grogot, Balikpapan, Samarinda, Tarakan dan Malinau.

Waktu di Balikpapan, sekitar 1916-1919, Letnan Oerip Soemohardjo sudah berani bikin masalah dengan orang Belanda di sana.

Kota Balikpapan saat itu merupakan kota tambang dan menghasilkan minyak. Penguasa minyak di kota ini adalah Bataafsch Petroleum Maatschappij (BPM). Sejak dulu, sudah ada kereta api kecil di kota itu. Kereta itu milik BPM.

Kereta kecil milik BPM itu, "digunakan untuk mengangkut pegawai perusahaan minyak dari kota ke pedalaman," tulis Amrin Imran dalam Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo (2001:79). Kereta api itu berangkat tiap hari, sebetulnya demi kepentingan operasi BPM juga.

Seperti kelaziman kolonial, kuli rendahan BPM adalah orang-orang pribumi Indonesia. Orang-orang Belanda, sementara itu, biasanya menjadi para pemimpin perusahaan. Kala itu, hanya orang-orang Belanda yang boleh menaiki kereta itu.

Rohmah Soemohardjo-Soebroto, istri dari Oerip Soemohardjo, dalam bukunya Oerip Soemohardjo: Letnan Jenderal TNI (22 Pebruari 1893-17 November 1948) (1973:45-46), (1973:45-46) bercerita, waktu di Balikpapan, sebagai perwira KNIL, Letnan Oerip melihat ada orang yang ikut naik kereta api itu, maka dia pun ikut naik ke dalam kereta. Waktu itu, kereta disebut juga sebagai sepur, dari bahasa Belanda: Spoor.

Masinis kereta melihat hal itu segera menegurnya. "Tuan, sepur [ini] hanya untuk kulit putih," kata sang masinis.

Si masinis tidak tahu bahwa Oerip adalah orang Jawa yang tidak hanya keras hati, namun berani dan keras kepala pula. Omongan si masinis itu pun membuat Oerip melarang kereta api kecil itu berangkat. Tentu saja Oerip berhak melakukan hal itu, alibinya: Keamanan daerah operasi BPM di Balikpapan itu adalah daerah wewenangnya.

Orang-orang kulit putih petinggi perusahaan minyak pun mengadukan tindakan Oerip kepada petinggi militer di Jawa. Jawaban sang petinggi malah semakin membuat orang-orang Belanda itu kesal.

"Sikap Letnan Oerip dibenarkan," tulis Rachmah, menirukan jawaban sang petinggi. "Sejak itu kereta api itu mengangkut penumpang kulit putih dan kulit coklat."


Ogah Hadir di Ulang Tahun Ratu Belanda


Kisah di Balikpapan bukan satu-satunya perlawanan Letnan Oerip muda kepada Belanda. Kisah lainnya terjadi di Banjarmasin.

Tiap tahunnya, hari kelahiran Ratu Wilhelmina selalu diperingati pada tanggal 31 Agustus. Entah di tahun berapa, tapi ketika ia masih berada di Kalimantan, Oerip memilih tidak hadir dalam acara yang wajib diperingati oleh pegawai dan tentara Hindia Belanda itu.

Acara yang seharusnya dihadiri Letnan Oerip itu diadakan di tempat ekslusif yang disebut Kamar Bola (disebut juga Societeit), di mana hanya orang-orang Eropa saja yang boleh masuk. Bukan tidak mungkin di dinding tempat itu terdapat tulisan: Verboden voor honden en inlander (dilarang masuk untuk anjing dan pribumi).

Saat acara itu berlangsung, atasannya yang berpangkat kolonel tak melihat Oerip. Orang seperti Oerip, yang memiliki pangkat dan kedudukan, kadang disamakan statusnya dengan orang-orang Eropa. Ini berarti Oerip mendapatkan pengecualian sehingga bisa masuk ke tempat itu.

Karena tidak hadir, maka pada esok hari, Oerip pun dipanggil atasannya ke kantor.



Sang atasan bertanya mengapa Oerip tidak hadir. Oerip menjawab singkat: "Saya bukan anggota Kamar Bola, karena hanya orang Eropa yang boleh menjadi anggota," jawab Oerip, seperti dicatat Rochmah (1973:46).

Sesungguhnya, beberapa seniornya yang orang Eropa pun tidak suka dengan aturan yang berbau rasisme di Kamar Bola itu. Aturan itu kemudian ditinjau oleh atasannya.

Pada akhirnya, Oerip pun diperbolehkan jadi anggota Kamar Bola. Tapi, mau tidak mau dia harus berkenan datang ke acara kerajaan Belanda. Mau tidak mau, dia pun harus hadir tiap 31 Agustus demi memperingati hari lahir Ratu Wilhelmina.


Bersitegang dengan Pejabat Pribumi


Tak hanya kepada orang-orang Belanda rasialis saja Oerip berani main keras. Kepada pembesar pribumi, Oerip Soemohardjo juga tidak takut. Di tahun-tahun terakhirnya berdinas di KNIL, misalnya, Oerip menunjukkan keberaniannya itu. Kali ini kepada bupati Purworejo.

Saat itu, tahun 1938, Oerip yang berpangkat mayor sudah jadi orang penting di batalyon KNIL di Purworejo. Dalam suatu upacara, Bupati Purworejo terlambat 30 menit dan sesuai aturan, si bupati pun dilarang masuk ke lapangan.

Sang bupati — yang biasanya merasa diri paling diraja di kabupatennya — tidak terima. Bupati itu "menganggap dirinya lebih berkuasa daripada Mayor Oerip," tulis Amrin Imran (2001:39). Oerip sendiri, masih menurut Amrin, "tetap pada pendiriannya."

Karena itu, berselisihlah Oerip dengan sang bupati hingga si pejabat kabupaten itu mengadu kepada junjungannya, pemerintah kolonial Hindia Belanda. Alhasil, Oerip pun "ditendang" dari Purworejo.

Atas keputusan itu, Oerip pun tidak mau terima. Atasan Oerip sesungguhnya sudah menawarkan jabatan dengan pangkat lebih tinggi di Gombong. "Ya, dan pangkatmu dinaikkan menjadi letnan kolonel," kata sang atasan yang pangkatnya sudah jenderal mayor.

Oerip tak tergiur. Bukannya menerima tawaran sang atasan, dia malah balik mengatakan, "sayang sekali saya harus bertindak melanggar disiplin. Saya menolak! Bersama ini saya minta berhenti dari dinas tentara."

Sebagai orang tak bersalah, Oerip akhirnya memilih pensiun dari KNIL dengan pangkat mayor. Padahal, dia bisa jadi seorang letnan kolonel.

Oerip termasuk orang Indonesia dengan pangkat tertinggi di jajaran tempur KNIL di zaman kolonial. Di zaman kolonial, orang Indonesia yang dapat mencapai pangkat letnan kolonel biasanya adalah seorang dokter.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight