Kisah Nitisemito, Kejayaan dan Keruntuhan Raja Kretek dari Kudus

Nitisemito. FOTO / dok. Budiman dan Onghokham dalam buku Hikayat Kretek [diambil dari artikel yang ditulis oleh Rizka Khaerunnisa]
Oleh: Petrik Matanasi - 25 Agustus 2020
Dibaca Normal 2 menit
Nitisemito adalah raja kretek dari Kudus yang jatuh bangun di tahun 1940-an. Merek kretek terkenalnya adalah Bal Tiga.
Sejarah kretek tak bisa melupakan nama Nitisemito. Sebelum Hindia Belanda runtuh, juragan kretek dari Kudus ini pernah sukses dengan merek Bal Tiga. Kretek adalah rokok yang tembakaunya dicampuri rajangan cengkih, lahir dari tangan M. Djamhari.

Nitisemito, seperti dicatat Indrawan Sasongko dalam artikel "Penguasa Tidak Pernah Menjadikan Pengusaha sebagai Sarana Kemakmuran" yang dihimpun dalam buku Seribu Tahun Nusantara (2000), oleh cucu-cucunya disebut sebagai pencetus ide kewirausahaan untuk menjadikan kretek sebagai komoditas industri.

Mulanya, Nitisemito adalah penjual daging kerbau dan bertugas sebagai carik desa. Ia anak seorang lurah yang sebenarnya tidak betah bekerja di pemerintahan. Jiwanya condong untuk menjadi pedagang.

Dalam buku Republik Indonesia Propinsi Djawa Tengah (1953) disebutkan bahwa pada 1910 Nitisemito awalnya secara kecil-kecilan membuat rokok yang ia kerjakan sendiri. Masa kejayaannya baru ia nikmati antara tahun 1922 hingga 1940.

Dalam menjalankan bisnisnya, pada 1934 ia mempekerjakan 10 ribu buruh. Sebelumnya, ia hanya menitipkan pengerjaan itu ke sejumlah pengrajin di kampung-kampung. Namun, karena kualitasnya kurang baik, maka ia pun membangun pabrik di daerah Jati, Kudus. Pada masa jayanya, produksi rata-rata setiap hari pabrik kretek Nitisemito mencapai 8 juta batang.

Rokok Bal Tiga dipasarkan Nitisemito dengan biaya yang tak sedikit. Menurut Solichin Salam dalam Kudus Selayang Pandang (1995:92), Nitisemito “mempergunakan selebaran lewat udara dengan menyewa kapal terbang jenis Fokker pakai baling-baling seharga 150-250 gulden." Selain itu, menurut JA Noertjahyo dalam artikrl "Sigaret Kretek, Tonggak Bangsa" yang dihimpun dalam buku Seribu Tahun Nusantara (2000:284), Nitisemito juga mempunyai Radio Vereniging Koedoes (RVK) yang juga ikut memasarkan rokok Bal Tiga.

Selain merek Bal Tiga milik Nitisemito, industri kretek Kudus juga memproduksi merek Gunung Kedu, Tebu & Cengkeh, Trio, dan Tiga Kaki. Para juragan rokok lainnya adalah M. Nadiroen, Haji Muslich, Haji Ma’roef, dan Haji Nawawi—yang memelopori penggunaan mesin untuk memproduksi kretek.

Nitisemito menjalankan perusahaannya secara modern. Setidaknya sistem pembukuan dan administrasinya seperti perusahaan-perusahaan orang Eropa. Tahun 1936, perusahaan Nitisemito dikunjungi oleh Sri Susuhunan Pakubuwana X dari Kesunanan Surakarta.


Rintangan dan Regenerasi

Bisnis Nitisemito bukan tanpa rintangan. Setelah kunjungan Pakubuwana X, pajak yang dibebankan kepada perusahaannya bertambah hingga 350 ribu gulden. Sementara kala itu depresi ekonomi sedang melanda dunia dan Hindia Belanda. Selain itu, persaingan antara pengusaha pribumi dengan Tionghoa juga menjalar ke bidang kretek dan berujung kerusuhan pada 31 Oktober 1918 yang menelan banyak kerugian.

Perusahaan Nitisemito juga pernah dituduh menggelapkan pajak sebesar 160 ribu gulden. Sementara menurut koran Nieuwsblad voor Sumatra (27/11/1939), perusahaannya berhutang pajak 75 ribu Gulden. Beruntung perusahaan dan pabrik kretek Nitisemito tidak sampai ditutup yang akan menimbulkan pengangguran. Syaratnya Nitisemito harus mencicil pajak yang konon digelapkan itu sampai lunas.

Nitisemito cukup memperhatikan bawahannya. Ia menjadikan Kasmani, karyawannya yang berbakat, sebagai menantunya. Kasmani yang dinikahkan dengan putri keduanya itu dijadikan manajer pabrik. Bahkan nama Kasmani dicantumkan bersama nama Nitisemito dalam bungkus rokok Bal Tiga. Namun, Kasmani tidak pernah menggantikan Nitisemito. Kasmani meninggal lebih dulu daripada mertuanya karena sakit setelah dituduh menggelapkan pajak dalam sebuah pengadilan.

Ketika Perang Pasifik berkecamuk, bisnis Nitisemito merosot. Begitu pula ketika Jepang menduduki Indonesia. Pada masa itu, ia lebh banyak berdiam di karena bisnis lesu. Meski demikian, seperti disebutkan dalam Orang Indonesia Terkemoeka di Djawa (1944:257), Nitisemito tetap berjualan kretek sambil menyewakan sejumlah rumah.




Setelah Jepang kalah, Nitisemito yang sudah tidak muda lagi berjuang melanjutkan kejayaan Bal Tiga. Namun, ketika pabriknya mulai berjalan lagi, Belanda melancarkan Agresi Militer I pada pertengahan 1947.

Pada masa-masa tersebut--setelah Kasmani meninggal dunia--Nitisemito menyimpan harapan kepada Sumadji untuk mengembangkan bisnisnya. Namun, Sumadji justru lebih aktif di Masyumi ketimbang mengurus perusahaan. Maka bisnis kretek Nitisemito pun kembali macet.

Setelah Belanda angkat kaki, Nitisemito masih menekuni bisnis kretek. Produksinya kala itu tidak bisa banyak karena cengkeh langka. Lama-lama bisnisnya semakin mundur dan kretek Bal Tiga semakin sulit bersaing di pasaran. Seiring jatuhnya bisnis Nitisemito, di Kudus mulai muncul Nojorono dan Djarum. Kisah Nitisemito belakangan dinovelkan oleh Iksaka Banu dengan judul Sang Raja (2017). Bagaimana pun Nitisemito adalah raja kretek di zamannya.

Nitisemito yang lahir pada 1863, wafat pada 7 Maret 1953 dan dimakamkan di Krapyak, Kudus. "Sebelum perang (PD II), almarhum dikenal di seluruh Indonesia sebagai Raja Rokok Kretek," tulis koran De Locomotief (9 Maret 1953).

Baca juga artikel terkait ROKOK KRETEK atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight