Kisah Muslim yang Menyelamatkan Yahudi dari Holocaust

Abdol Hossein Sardari, kedua dari kanan, ditugaskan menjadi Duta Besar Iran di Paris saat kedutaan besar dipindahkan ke Vichy. Foto/Istimewa
Oleh: Ahmad Khadafi - 4 Mei 2017
Dibaca Normal 3 menit
Ada banyak muslim yang berkontribusi pada Perang Dunia Kedua. Banyak di antara mereka menjadi penyelamat nyawa orang-orang Yahudi dalam tragedi Holocaust.
tirto.id - Selama ini bayangan kisah kemanusiaan pada periode terburuk sejarah Eropa pada Perang Dunia Kedua hampir selalu menyasar pada sosok Oskar Schindler.

Seorang pengusaha yang juga dikenal aktif sebagai anggota Partai Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei atau yang lebih dikenal dengan singkatannya: NAZI. Kisah Schindler menyelamatkan ribuan Yahudi saat kampanye anti-semit NAZI selama periode Perang Dunia Kedua memang begitu melegenda. Apalagi setelah Steven Spielberg meriwayatkannya kembali ke panggung Hollywood melalui film Schindler’s List pada 1993.

“Mereka telah mempertaruhkan hidup mereka untuk menyelamatkan kami,” kenang Johanna Neumann, Yahudi berusia 86 tahun, mengenang orang-orang hebat tersebut, kepada Time.

Yang sedang dikenang Neumann di sini bukan hanya kisah Schindler yang menyelamatkan Yahudi dengan menyelundupkan mereka sebagai buruh pabriknya di Krakow, Polandia. Upaya menyelamatkan 1.300 Yahudi di Polandia ini hanyalah satu dari banyak kisah penyelamatan ratusan ribu (beberapa sumber menyebut jutaan) Yahudi yang dibantai.

Neumann juga sedang mengenang juga aksi orang-orang muslim di banyak wilayah yang membantu menyelamatkan orang-orang Yahudi dari tragedi Holocaust. Kisah-kisah mereka tak banyak direkam sejarah. Salah satunya adalah kisah Abdol Hossein Sardari, seorang diplomat Iran.

Apa yang dilakukan Konsulat Iran untuk Prancis ini sama heroiknya dengan aksi Schindler. Itulah mengapa Sardari juga dijuluki “Schindler dari Iran” oleh orang-orang Yahudi yang berhasil ia selamatkan.

Cara Sardari mengelabui petinggi-petinggi NAZI di Prancis memang berisiko, tapi sungguh brilian. Jika Schindler awalnya memanfaatkan orang-orang Yahudi sebagai “budak” untuk pabriknya, maka Sardari menggunakan celah undang-undang anti-semit NAZI untuk menyelamatkan—setidaknya—lebih dari 2.000 orang Yahudi Prancis.

Sejak Prancis diduduki oleh NAZI pada 1940 dan undang-undang anti-Yahudi mulai diterapkan, Sardari mencoba meyakinkan petinggi-petinggi NAZI di Perancis bahwa Yahudi Prancis sebenarnya adalah warga negara Iran. Dengan argumentasi sejarah, Sardari meyakinkan bahwa Yahudi Prancis (yang berhasil ia selamatkan) adalah Ras Arya yang sebenar-benarnya karena nenek moyang mereka berasal dari Iran.

Dari bangunan logika demikian, artinya Yahudi-Yahudi yang disebut orang Iran ini bukanlah orang-orang yang harus tunduk pada “The Reich’s Racial Laws” atau Hukum Ras Reich bikinan NAZI sendiri. Dan untuk semakin melengkapi tipuannya, Sardari tidak keberatan mengeluarkan ribuan paspor Iran untuk Yahudi-Yahudi Prancis itu. Paspor pun menjadi batas antara kematian dengan kehidupan.

Untuk itulah nama Sardari masuk pada “Holocaust Remembrance Day” di Jenewa dalam peringatan mengenang salah satu genosida paling kelam dalam sejarah Eropa.

Selain Sardari, ada nama Khaled Abdul Wahab, muslim Arab, dan menjadi orang Arab pertama yang dihargai karena jasanya menyelamatkan lebih dari dua lusin Yahudi Tunisia.

Khaled berumur 32 tahun saat NAZI menduduki Tunisia pada November 1942. Pada periode tersebut, ada sekitar ratusan ribu Yahudi yang tinggal di Tunisia. Mereka diharuskan mengenakan atribut Bintang Daud dan—seperti yang terjadi di Eropa pada tahun-tahun sebelumnya—harta kekayaan mereka juga diambil paksa oleh NAZI sebelum akhirnya mereka dibantai.

Faiza Abdul-Wahab, putri Khaled, pada 2007 silam menceritakan kesaksian ayahnya sebelum meninggal pada 1997. "Ya, saya menyembunyikan beberapa keluarga di ladang pertanian selama perang, keluarga Yahudi,” kata Khaled seperti ditirukan Faiza.

“[...T]ak masalah, sebab kami semua hidup bersama di Tunisia—Yahudi, bukan Yahudi, orang Italia, orang Prancis, orang Arab,” kata Faiza seperti direkam United States Holocaust Memorial Museum. "Ikatan utama kami yang pertama adalah kami orang Tunisia. Kami makan makanan yang sama, kami memiliki hal yang sama dan berbagi banyak hal. Jadi bagi saya, ketika dia mengatakan itu, saya tidak tahu dia telah mengambil resiko dengan hidupnya—tentu saja—karena ayah saya tidak memberitahukan semuanya kepada saya. Baginya itu normal, dan itu saja.”

Kisah penyelamatan juga dilakukan Saide Arifova, seorang guru taman kanak-kanak di Bakhchisaray, Crimea (saat ini masuk wilayah Ukraina). Wilayah Crimea adalah salah satu area brutal pada Perang Dunia Kedua karena menjadi pertempuran berdarah antara tentara Soviet dengan NAZI.

Dengan sekuat tenaga, perempuan muslim beretnis Turki ini menyelamatkan anak didiknya yang Yahudi dengan membuat identitas palsu untuk mereka. Arifova juga dengan berani memberikan kesaksian palsu bahwa anak-anak di sekolahnya bukanlah anak-anak Yahudi. Meski ia harus mengalami berbagai siksaan dahsyat saat interogasi Gestapo (Polisi NAZI Jerman), tapi Arifova kukuh merahasiakan ihwal anak-anak Yahudi yang ia sembunyikan.

“Apakah hal ini mengerikan bagi saya? Tidak, bagi saya sudah tidak ada lagi rasa takut dan ngeri. Tulang-tulang saya sudah telanjur patah setiap kali bertemu Gestapo,” ujar Arifova. Karena keteguhannya, Arifova berhasil menyelamatkan 88 Yahudi Crimea beserta 70 anak asuhnya.

Ucapan Terima Kasih untuk Muslim Albania

Kisah penyelamatan semacam ini kemudian diabadikan oleh orang-orang Yahudi melalui Yad Vashem di Israel. Sebuah museum peringatan akan peristiwa Holocaust sekaligus merupakan penghargaan bagi 20 ribuan orang-orang pahlawan non-Yahudi dari berbagai negara atas jasa mereka menyelamatkan orang-orang Yahudi.

Beberapa nama seperti Sardadi, Khaled, dan Arifova adalah beberapa di antara banyak nama muslim yang jumlahnya mencapai 70 orang. Sebanyak 63 orang adalah orang Albania. Pada 2007 silam, untuk pertama kalinya dalam sejarah diadakan pameran fotografi mengenang khusus para muslim atas jasa mereka menyelamatkan orang-orang Yahudi. Pemeran ini menyasar beberapa keluarga muslim Albania yang mempertaruhkan keselamatan keluarganya untuk menyembunyikan keluarga-keluarga Yahudi.

Ketika NAZI masuk ke Albania pada 1943, negeri ini menjadi satu-satunya negara yang penduduknya menolak untuk mematuhi undang-undang anti-semit NAZI. Hal inilah yang mengakibatkan jumlah Yahudi Albania justru melonjak semasa perang karena pencari suaka memilih lari ke Albania.

“Kisah luar biasa Albania, di mana seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun penduduk, bertindak untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi sungguh luar biasa,” kata Yehudit Shendar, pengelola Yad Vashem, pusat peringatan resmi Israel untuk orang-orang Yahudi korban Holocaust.

Hampir semua orang Yahudi yang tinggal di negara tersebut berhasil diselamatkan. “Ini adalah kisah yang jarang dipublikasikan, kisah tentang suatu negara yang menyelamatkan semua orang Yahudi,” kata Ya’acov Altarat, salah satu Yahudi yang selamat.

Sepuluh tahun kemudian, warga Yahudi di New York, Amerika Sreikat kembali mengenang para tokoh muslim yang mereka anggap pahlawan.

“Peringatan ini menunjukkan bahwa kita masih bisa memiliki harapan bahkan pada saat-saat seperti Holocaust,” kata Mehnaz Afridi, Profesor Manhattan College, menyambut upacara tersebut.

“Mengapa ayah saya menyelamatkan orang asing dengan mempertaruhkan hidupnya dan kehidupan seluruh desa?” lontar Enver Alia Sheqer, anak laki-laki dari Ali Sheqer Pashkaj, muslim Albania yang mendapatkan penghargaan. Ia lalu menjawabnya sendiri, “Ayah saya adalah seorang muslim yang taat. Dia percaya bahwa dengan menyelamatkan satu kehidupan, ganjarannya adalah surga.”

Baca juga artikel terkait NAZI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Khadafi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Ahmad Khadafi
Penulis: Ahmad Khadafi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight