Kisah Komikus Tatang S. Mengangkat Cerita Rakyat Jelata

Oleh: Irfan Teguh - 3 Juli 2018
Dibaca Normal 4 menit
Meski sempat terjerat kasus penjiplakan komik Si Buta dari Gua Hantu, tapi Tatang S. terus berkarya membuat komik silat dan melahirkan komik punakawan.
tirto.id - “Salam manis tak akan habis, salam sayang tak akan hilang, buat semua pencinta karya saya.” Ungkapan itu selalu tertulis di setiap komik Punakawan atau lebih dikenal komik Petruk dan Gareng—karena kedua tokoh itu yang paling sering muncul, karya Tatang S.

Sebelum komik silat jadi populer yang ditandai dengan kelahiran Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes Th pada 1967, menurut Henry Ismono dalam Ganes Th, Sang Pendekar Kemanusiaan (2018), komik roman mengusai pasaran bacaan di Indonesia. Saat komik-komik roman karya Jan Mintaraga, Sim, dan Zaldy tengah digandrungi pembaca, Tatang S. juga ikut meramaikan pasar dengan menulis beberapa komik roman di antaranya Emas Hilang Intan Gantinya (1966), Titik Embun di Kala Subuh (1967), Diana (1968), dan Kabut yang Suram (1969).

Kehadiran karya Ganes Th, tambah Ismono, membuat arah dunia komik Indonesia berganti ke komik-komik silat, dan lagi-lagi Tatang S. tak mengikuti arus. Ia membuat komik Rahasia Dua Pusaka dan Pendekar Mata Satu. Menurut Ismono, komik-komik silat Tatang S. beberapa kali meniru karya komikus lain seperti Man dan Hengky. Beberapa waktu sebelumnya Tatang S. malah terjerat kasus plagiasi komik Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes Th dengan membuat Si Gagu dari Gua Hantu.

"Dunia komik Indonesia terguncang. Tatang menjiplak dan meniru panel-panel gambar Ganes. Sebenarnya, masa itu juga banyak epigon Ganes yang meniru karakter Si Buta. Namun, yang membuat publik komik terhenyak adalah Tatang S. membuat Si Gagu dengan rasa benci pada Ganes. Tatang membuat kisah tentang komplotan perampok yang dipimpin oleh Si Buta," tulisnya.

Langkah Tatang S. itu, menurut Ismono, didorong oleh kekecewaan penerbit karena menganggap Ganes melakukan pelanggaran perjanjian dengan penerbit yang memublikasikan karya-karyanya. Sontak, Tatang S. mendapat kecaman dari sejumlah komikus lain yang menganggap dia telah menyebarkan kebencian. Ikatan Seniman Tjergam Indonesia yang waktu itu dipimpin Jan Mintaraga malah meminta aparat kepolisian menarik peredaran komik jiplakan karya Tatang S.

Meski sempat terjerat kasus tersebut, Tatang S. ternyata tak bergeming. Ia terus membuat komik silat dengan meniru karya-karya yang lain dan mulai membuat komik punakawan.


Para Punakawan yang Laris Manis

Warsa 1980-an saat komik Indonesia mulai surut, nama Tatang S. justru terkenal sebagai pembuat komik yang menampilkan karakter Punakawan. Menurut Seno Gumira Ajidarma dalam Antara Tawa dan Bahaya: Kartun dalam Politik Humor (2012), Punakawan adalah sosok karikatural dalam pewayangan Jawa sebagai representasi rakyat kelas bawah yang dalam berperan menghibur, mengasuh, membimbing, dan menjaga para ksatria yang berkuasa.

Selain Petruk dan Gareng, tokoh punakawan lain yang muncul dalam komik karya Tatang S. adalah Bagong dan Semar, meski kehadiran keduanya tak terlalu kerap. Namun, berbeda dengan konsep punakawan dalam pewayangan, dalam komik Tatang S. para punakawan tidak hadir sebagai pengasuh dari para ksatria. Mereka hadir untuk dirinya sendiri dan tidak melayani siapa pun.

Komik ini disukai oleh khalayak luas terutama rakyat kelas bawah yang merasa terwakili oleh karakter para tokoh yang dihadirkan oleh Tatang S. Petruk dan Gareng yang paling sering muncul kerap digambarkan sebagai anak muda pengangguran, kerja serabutan, banyak utang, dan sesekali mancing ikan untuk menghabiskan waktu. Meski kere, mereka adalah anak muda yang selalu menantikan malam Minggu untuk merayu perempuan pujaan, tampil necis, dan peduli lingkungan dengan rajin meronda.

Pemilihan tokoh punakawan, khususnya Petruk dan Gareng, sebagai pembawa cerita dengan karakter seperti itu, dalam catatan Gun Gun Gunawan dalam “Kajian Gaya Visual Storytelling Tatang Suhenra” (jurnal Demandia Vol. 01 No. 01, Maret 2016) adalah sikap Tatang S. untuk menyampaikan pesan bahwa kisah-kisahnya adalah cerita rakyat jelata, orang kebanyakan, dan masyarakat marginal yang ada di sekeliling pembaca dengan kehidupan yang penuh lika-liku masalah.

“Petruk, Gareng, dan Bagong merupakan representasi sosok pembaca dari kelompok masyarakat Indonesia yang memiliki kesulitan, kegundahan, dan menemukan masalah yang menghambat cita-cita atau mimpi mereka,” tulisnya.

Secara umum, tema-tema yang diangkat oleh Tatang S. dalam komik Punakawan ada tiga: Romansa, Horor, dan Pahlawan Super. Semua tema ini amat kental dengan kehidupan rakyat jelata. Contohnya adalah komik yang berjudul Jodoh Lah Ya—yang dikutip oleh Binar Murgati Pardini dkk. dalam “Representasi Kelas Bawah pada Tokoh Punakawan dalam Komik karya Tatang S” (Jurnal Arkhais Vol. 07 No. 2 Juli-Desember 2016)—masalah asmara yang sering mendera kaum kecil karena perbedaan kondisi ekonomi sehingga kasih tak sampai, diangkat oleh Tatang S dan tergambar dalam percakapan berikut.

Petruk: Bukannya gak cinta aye sama dik Ani, tapi rasanya hubungan kita nggak seimbang.

Ani: Apa maksud Bang Petruk?!

Petruk: Dik Ani gak pantas punya pacar kayak abang karena abang orang gak punya alias kere.

“Hubungan cinta mereka [Petruk dan Ani] menunjukkan adanya oposisi biner antara kaya dan miskin, di mana hal tersebut menjadi kategori utama dalam penentuan calon pasangan. Nampak dalam petanda dalam teks tersebut bahwa terdapat kesenjangan sosial dalam konstruksi wacana mengenai cinta dalam masyarakat yang direpresentasikan dalam komik karya Tatang S,” tulis Binar Murgati Pardini, dkk.


Infografik Tatang Suhendra


Hal lain yang sering diangkat oleh Tatang S. adalah tema horor atau hantu. Ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaannya pada 1977 yang berjudul “Manusia Indonesia”. Menurutnya, salah satu ciri manusia Indonesia adalah percaya takhayul.

“Manusia Indonesia juga percaya pada segala rupa hantu, genderuwo, jurig, orang halus, kuntilanak, leak. Gamelan, gong juga ada yang bertuah, dan hanya boleh dimainkan pada waktu-waktu tertentu saja. Likantrofi, kepercayaan, bahwa manusia menjelma dalam binatang, tersebar luas di seluruh Nusantara kita,” tulisnya.

Sejumlah komik Tatang S. memang sangat banyak mengangkat tema ini, seperti: Hantu Tukang Ojek, Ririwa, Hantu Darah Kotor, Pocong Slebor, Setan Emosi, Setan Perawan, Hantu Pohon Sawo, Dendam Mayat Busuk, dan masih banyak lagi.

Masyarakat Indonesia, khususnya kelas bawah yang akses pendidikannya terbatas, biasanya masih kental mempercayai hal-hal mistis. Inilah yang coba diangkat oleh Tatang S. dalam karya-karyanya. Perkampungan dengan permukiman yang jarang biasanya dijadikan sebagai latar dalam tema hantu ini.

Nuansa angker yang dipenuhi pepohonan sengaja diangkat untuk mendukung alur kisah. Suasana sunyi dan mencekam mengawali jalannya cerita. Tak jarang perkuburan pun dihadirkan untuk mendukung kengerian.

“Kampung di mana tempat angker berada, merupakan ciri dari masyarakat kelas bawah yang merekonstruksi masyarakat yang tidak ‘modern’ dan masih menggunakan nilai-nilai lama beserta kisah-kisah di luar nalar yang menjadi wajar dalam konteks ruang tersebut,” tambah Binar Murgati Pardini dkk.

Perkembangan budaya populer seperti film tentang para pahlawan super yang diimpor dari luar negeri tak luput dari garapan Tatang S. Tokoh-tokoh seperti Batman, Robin, Superman, Megaloman, Spiderman, Robocop, dan The Flash ia hadirkan dalam karya-karyanya, tapi tetap dengan pendekatan lokal, sehingga yang muncul adalah judul-judul seperti Batman Tumaritis, Bisnis Cewek, Dua Jagoan, Ajal Cewek Mercurius, dan lain-lain yang tokoh utamanya tetap Petruk atau Gareng yang bekostum dan berkemampuan seperti para pahlawan super tersebut.

Pembelaan tokoh-tokoh pahlawan super terhadap warga kampung yang menjadi korban kejahatan menjadi bahan hiburan rakyat kelas bawah yang kerap termarginalkan, terpinggirkan secara ekonomi, dan menjadi bulan-bulanan hukum yang tak berpihak kepada mereka. Titik inilah yang coba diangkat oleh Tatang S. sebagai bentuk kepekaannya terhadap budaya populer sekaligus keberpihakannya terhadap masyarakat kelas bawah.

Tak mengherankan jika kemudian komik punakawan karya Tatang S. laris manis dan banyak diterbitkan oleh sejumlah penerbit seperti Gultom Agency, Jaya Agency, Sandro Jaya, Cahaya Agency, dan Nur Agency. Jangkauan distribusinya pun sampai ke perdesaan.

Tatang S. meninggal pada 2003 akibat penyakit diabetes. Namun, seperti sapaannya yang khas yang “… tak akan habis, … tak akan hilang“, ia tetap diingat para pembaca karyanya. Seperti dikutip Agung Wibowo dan Hendaru Tri Hanggoro dalam majalah Akar No. 1 Vol. 1 (Maret-Mei 2011), seorang penggemarnya berujar: “Tatang S tak pernah mati.”

==========

Artikel ini telah dikoreksi berdasarkan masukan pembaca bernama Henry Ismono yang mengirim surel kepada redaksi Tirto, Minggu (5/8/2018). Henry adalah kolektor komik dan penulis buku tentang komik. Kami merevisi 8 alinea awal di artikel ini berdasarkan masukan tersebut sekaligus melengkapinya dengan referensi dari buku karya Henry.

Sebelum artikel ini mengalami revisi, dikisahkan bahwa Tatang S. terpuruk sebagai pembuat komik silat setelah membuat komik epigon berjudul "Si Gagu dari Gua Hantu" yang menjiplak komik "Si Buta dari Gua Hantu" karya Ganes TH. Setelah itu Tatang S. membuat komik punakawan yang akhirnya laku keras.

Koreksi dari Henry Ismono:

Tatang S. memang betul menjiplak komik karya Ganes TH, tapi ia tidak lantas terpuruk sebagai pembuat komik silat. Setelah kasus itu, Tatang S. tetap membuat komik silat dan tetap banyak meniru karya komikus yang tengah populer, serta mulai membuat komik punakawan. Baru pada awal 1980-an ia terkenal sebagai pembuat komik punakawan saat komik Indonesia mulai surut.

Baca juga artikel terkait KOMIK atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Maulida Sri Handayani