Obituari

Kisah Klasik Ani Yudhoyono: Anak Jenderal Jatuh Cinta pada Taruna

Kristiani Herrawati dan Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Raya Idul Fitri 2011 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (31/8/2011). ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/foc.
Oleh: Petrik Matanasi - 3 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Fase penting pertama dalam hidup Ani adalah jadi anak tentara, lalu jadi istri tentara. Fase penting berikutnya adalah dari istri menteri, lalu ibu negara.
tirto.id - Sedari lahir Kristiani Herrawati terbiasa dengan kehidupan tentara. Papinya, Sarwo Edhie Wibowo, adalah serdadu. Sarwo Edhie berpangkat terakhir letnan jenderal Angkatan Darat. Ketika Kristiani lahir pada 16 Juli 1952 di Yogyakarta, pangkat ayahnya belum mencapai kolonel.

Seperti pada umumnya anak-anak tentara, Ani—begitu dia dipanggil hingga kini—tentu merasakan kehidupan tangsi. Biasanya anak-anak tentara, terutama yang tinggal di tangsi, sering disebut "anak kolong". Sebab di zaman sebelumnya anak serdadu rendahan biasanya tidur dan bermain di kolong tempat tidur tangsi.


Sarwo Edhie Wibowo adalah komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) sekitar 1965. Di masa itu Ani merasakan tinggal di kompleks perumahan tentara di Cijantung, Jakarta Timur. Pada periode penuh ketegangan setelah meletusnya G30S Ani masih jadi anak sekolah. Menjadi anak tentara tentu membuatnya harus siap mandiri. Ada kurun ketika dia tidak bisa tiap hari melihat Papinya di rumah.

Ketika Sarwo Edhie ditugaskan ke Papua sebagai Panglima Kodam Cendrawasih lalu Gubernur Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) Magelang, Ani juga tidak tinggal dengan Papi dan Maminya, Sunarti Sri Hadiyah. Ani dan beberapa saudarinya berada di Jakarta, demi meneruskan sekolah.

Cinta Bersemi di Lembah Tidar

Ketika Papinya jadi Gubernur Akabri di Lembah Tidar, Magelang, Ani sudah terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta. Ani yang menikmati masa kuliahnya di Cawang itu tak lupa mengunjungi orang tuanya ke Magelang pada 1973. Selain tahun 1952, yang merupakan tahun kelahirannya, tahun 1973 juga warsa penting dalam hidupnya. Tahun itu merupakan periode terakhir bagi taruna yang masuk Akabri pada 1970, salah satunya Susilo Bambang Yudhoyono alias Sus. Di tahun inilah Ani bertemu dengan Sus.

“Kali ini ada sesuatu yang berbeda,” kenang Ani dalam autobiografinya, Kepak Sayap Putri Prajurit (2010: 165-166), yang disusun Alberthiene Endah.

Balai Taruna, gedung yang digunakan untuk kegiatan ekstra kurikuler, kala itu sedang diresmikan. Ani ada di sana, Sus juga di sana. Seperti ditulis Usamah Hisyam dalam SBY: Sang Demokrat (2004: 75), “[Sus] terpilih menjadi komandan divisi korps taruna saat duduk pada bulan-bulan terakhir di tingkat tiga.”

Ani tentu tidak canggung. Maklum, dia sudah lebih dari dua dekade jadi anak tentara. Bedanya, Papi Sarwo Edhie sudah jenderal. Sebagai taruna penting di Akabri Magelang, Sus mau tidak mau harus terlihat oleh Papinya Ani.

“Ketika Papi hendak menggunting pita, taruna bertubuh jangkung yang tampaknya adalah komandan itu, mendekati Papi. Aku memperhatikan siluet tubuhnya yang sangat jenjang,” kenang Ani.

Sus kerap bolak-balik di hadapan Ani. Awalnya biasa saja barangkali, tapi pemuda jangkung asal Pacitan itu harus terlihat lagi oleh mata Ani.

Suatu ketika rumah Mayor Jenderal Sarwo Edhie Wibowo disambangi Sersan Mayor Taruna Susilo Bambang Yudhoyono. Kali ini bukan Sarwo Edhie saja yang melihat Sus, tapi juga Ani. “Aku terpana. Lagi-lagi sosok jangkung itu yang muncul. Karena jarak kami dekat, kali ini kedua mataku bisa lebih fokus lagi menganalisis dia. Wajahnya tampan. Atribut seragamnya, dengan tali komandan tersemat di dada, melihatnya terlihat gagah dan berwibawa,” ingat Ani bertahun-tahun kemudian.

Intinya, meski tak masuk universitas mentereng, Sus adalah pemuda terpelajar.

Semua tak berakhir di sini. Meski Ani harus kembali ke Jakarta sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran UKI. Bulan-bulan berikutnya, Desember 1973, Sus lulus bersama hampir semua kawan-kawan seangkatannya yang masuk Akabri pada 1970.

Sus kemudian dinas di Kostrad. Sebagai perwira, dia melampaui ayahnya, Raden Sukotjo, yang jabatan terakhirnya "hanya" Komandan Koramil di Pacitan. Ani dan Sus kemudian dekat.

Ketika Sus jadi Komandan Peleton di Batalyon Infanteri 330 pasukan pemukul elite Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di Cicalengka, Ani diharuskan ikut ke Seoul oleh Papinya yang diangkat jadi Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan. Sebelum berangkat, Ani dibuat terkejut oleh permintaan sang Papi. “Ani, sebaiknya kamu bertunangan dulu dengan Bambang,” kata Sarwo Edhie.

Bambang yang dimaksud adalah Sus. Ani tidak tahu, saat Sus diwisuda di Akabri Magelang, orang tua Sus rupanya sudah bertemu dengan Sarwo Edhie dan melamarkan Ani untuk Sus. Sarwo Edhie tentu saja punya penerawangan istimewa terhadap Sus. Sebagai taruna cemerlang, Sus berpeluang jadi perwira yang sukses. Bukan tidak mungkin dia akan jadi jenderal.

Ani dan Sus akhirnya menikah pada 30 Juli 1976, kala Sarwo Edhie masih “didubeskan” oleh Presiden Soeharto di Seoul. Ani tentu tahu risiko jadi istri serdadu dan dia siap dengan itu. Belum sempat merasakan nikmatnya berbulan madu, Sus harus kembali bertugas.


Mendampingi Perwira Terpelajar

Meski tak secemerlang Prabowo Subianto, kawan seangkatannya yang telat lulus Akabri dan sukses jadi perwira korps baret merah, Sus tetap melakoni pekerjaannya dengan baik. Walau mertuanya tak disenangi Soeharto, Sus tetap suka dengan kariernya di ABRI.

“Pak, apakah Bapak menyesal menikah denganku?” tanya Ani suatu kali pada Sus.

“Sama sekali tidak. Buatku hal terpenting dalam hidup ini adalah keluarga,” jawab Sus penuh kemantapan.

Betapa hebatnya Ani dengan menerima Sus dalam hidup yang tidak abadi ini, begitu pula sebaliknya. Orang akan bilang ini cinta. Ani rela dinikahi laki-laki yang kelas keluarganya berbeda, bagaimana pun adalah sesuatu. Bahkan ketika Sus naik pangkat sebagai perwira menengah dengan gaji yang tidak besar, kemudian ditambah dengan kelahiran Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), Ani tetap bertahan dengan cinta sejatinya itu. Ani tentu banyak belajar dari ibunya, yang juga istri tentara.



Setelah bertahun-tahun di Kostrad sebagai prajurit yang tergolong perwira terbaik, Sus kemudian tak berjaya di kesatuan itu. Sus yang terpelajar bukan menonjol sebagai komandan tempur, tapi sebagai perwira staf yang secara akademis dianggap mumpuni. Pada 1990-an posisi penting ABRI banyak diisi kelompok yang terkenal dengan nama "ABRI Hijau", yaitu mereka yang berada di luar lingkaran Benny Moerdani. Salah satu yang berjaya di masa ini adalah Prabowo.

Sus bernasib agak mirip dengan perwira macam A.M. Hendropriyono. Dia tak mendapat jabatan strategis macam Panglima Kostrad, Kasad, atau Panglima ABRI. Namun "ditendang ke atas" dengan jabatan sipil, termasuk jadi menteri yang tidak mengurusi urusan militer. Di era menjelang lengsernya Soeharto, Sus dijadikan Kepala Sosial Politik (Kasospol) ABRI.

Sus kemudian dikenal sebagai SBY. Setelah Soeharto lengser dan kawan Akabrinya yang telat lulus suram kariernya, SBY naik jadi menteri. Ani pun mendampingi SBY di kementerian dengan aktif di persatuan istri Dharma Wanita.

SBY makin populer di masa kepresidenan Megawati. Dalam Pilpres 2004, SBY sukses menjadi Presiden RI. Dalam sejarah Indonesia, SBY adalah presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Dengan naiknya SBY sebagai presiden, Ani pun naik pula posisinya sebagai ibu negara.

Ani dikenal sebagai ibu negara yang berusaha melibatkan diri dalam kebudayaan. Ani dekat dengan batik maupun hasil kerajinan Indonesia lainnya. Kepenulisan buku Batikku: Pengabdian Cinta Tak Berkata (2010) adalah atas namanya. Ani pernah jadi ibu negara yang kerap membawa kamera dalam banyak acara. Soal kamera, belum ada ibu negara yang seperti Ani.

Sejak 2004, keluarga Ani dan SBY adalah keluarga yang menjadi simbol Partai Demokrat, partai yang mengantarkan SBY ke gerbang Istana Negara. Partai Demokrat hampir mirip dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bagi Megawati dan keluarganya.

Ketika Ani Yudhoyono meninggal pada Sabtu (1/6/2019) kemarin, ribuan, mungkin jutaan, orang di seluruh negeri menangisi kepergiannya. Dia dikenang sebagai perempuan inspiratif yang berbuat baik bagi banyak orang.

Baca juga artikel terkait ANI YUDHOYONO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight