Kisah Kematian Eden Bebari, Anak Muda Papua Diduga Ditembak TNI

Oleh: Adi Briantika - 17 April 2020
Dibaca Normal 4 menit
Eden Bebari, 19 tahun, tewas ditembak aparat keamanan Indonesia saat mencari ikan di sebatang sungai areal PT Freeport Indonesia.
tirto.id - Senin, 13 April 2020, pukul 8 pagi. Eden Armando Bebari membangunkan Vinska Mallo untuk pamit memancing (atau molo dalam bahasa setempat). Wilayah memancingnya adalah sebatang sungai di sekitar Mile 34, Distrik Kwamki Narama. Kawasan itu termasuk area raksasa tambang emas dan tembaga PT Freeport Indonesia, yang beroperasi sejak 1967 di Mimika, Papua.

Eden membawa noken, isinya pinang, rokok, dan kunci motor milik ibunya.

“Saya jalan dulu sekalian bawa senapan molo dua. Sa pigi deng teman,” kata Eden, yang pergi menangkap ikan bersama Roni Wandik.

Sebentar suaminya pamit, Vinska menyusui Ana Veronika Bebari, buah hati mereka berumur satu tahun, lalu kembali tidur.

Namun, tidak biasanya Eden belum pulang sampai tengah malam. Vinska dan keluarga cemas. Tetangga sekitar datang ke rumah. Mereka bertanya-tanya, curiga, khawatir. Ke mana lelaki berusia 19 tahun itu pergi?

Dua saudara laki-laki Vinska mencari Eden dan Roni ke area Mile 32, lokasi biasa warga memarkir sepeda motor bila turun ke sungai untuk menangkap ikan. Sekitar jam 12 malam waktu setempat, Vinska mengenali foto lelaki dalam postingan Facebook seorang teman Roni. Foto itu memperlihatkan seorang pemuda dalam keadaan mati di atas bebatuan. Vinska seketika terkejut. Itu foto suaminya.

Di dada Eden ada tato dengan tulisan ‘Vinska Janne Mallo Mirino’ dan ‘Only God Can Judge Me’. Jenazah suaminya telah dibawa ke Rumah Sakit Umum Mimika pada Selasa dini hari, 14 April.

“Mukanya hancur,” kata Vinska, yang melihat luka tembak di paha suaminya.

Esok siangnya, dalam keadaan hati hancur dan jerit putrinya yang mencari-cari bapaknya, Vinska mengantar jasad suaminya dikuburkan.

Ia masih kesal suaminya meninggal ditembak oleh aparat keamanan Indonesia yang menganggap Eden Armando Bebari sebagai anggota Organisasi Papua Merdeka. Selama mengenalnya, Eden "tidak punya ketertarikan sama sekali” dengan gerakan kemerdekaan di Papua, kata Vinska kepada saya via telepon.


Kesaksian Orangtua: Anak Saya Korban Tembak

Situasi pandemi virus corona (COVID-19) yang menjalar ke Papua, beberapa daerah menerapkan karantina skala lokal, menyulitkan orangtua Eden Bebari yang tertahan di rumah saudaranya di Jayapura sejak 27 Maret. Deminikus Bebari dan Nirmala Ohee mendengar kematian anaknya dalam upaya mereka pulang ke Mimika.

Mereka sebetulnya telah mengurus dokumen kesehatan bebas COVID-19, surat keterangan dari otoritas Jayapura, dan rekomendasi surat jalan dari Kodim 1710/Mimika—beberapa prosedur yang diterapkan bagi warga untuk keluar-masuk daerah karantina.

Dalam situasi itulah pada Senin, 13 April, sekitar pukul 21.30 waktu setempat, orangtua Eden menerima kabar anaknya belum pulang sejak pagi hari mencari ikan. Pada tengah malam, Deminikus Bebari mengetahui unggahan foto di Facebook memperlihatkan jasad Roni Wandik, teman anaknya.

Seingatnya, foto itu diimbuhi keterangan bahwa anaknya dan Roni dituduh “dua anggota kelompok bersenjata" yang ditembak saat ada patroli aparat keamanan Indonesia di sekitar areal Freeport. Keterangan lain menyebut barang bukti dari kedua orang tewas adalah amunisi, senapan molo, rokok, pinang, dan korek api.

“Dari keterangan itu saya memang curiga. Biasanya anak saya suka makan pinang dan merokok,” kata Deminikus.

Sampai dini hari, ia mematut-matut satu jenazah yang lain dalam keadaan telanjang, darah di sekitar paha, area hidung, dan badan menelungkup ke kiri. Itulah jenazah anaknya.

Deminikus berkata anaknya tak memiliki dan tak mengenakan gelang 'Bintang Kejora' apalagi "gelang itu terlihat bersih seperti baru,” katanya.

“Ada dua gelang di pergelangan kaki kanan Eden. Di tangan, tidak. Menurut anak-anak saya, dia tidak pernah pakai gelang (Bintang Kejora) selama kami di Jayapura,” ujar Deminikus, seorang staf Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa), organisasi adat penduduk suku terbesar di Mimika.

Cepat-cepat, Demikinus mengurusi kepulangan begitu yakin anaknya menjadi korban tembak aparat keamanan Indonesia.

Demikinus berpikir, meski tanpa memegang surat persetujuan perjalanan dari Bupati Mimika, mungkin ia bisa menumpang rombongan Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw dan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen Herman Asaribab, yang terbang ke Mimika melalui Bandara Sentani pada 15 April. Rombongan itu mengizinkannya setelah ia menceritakan kejadian yang menimpa anaknya.


'Mereka Warga Sipil'

Eden Armando Bebari, lahir 29 Agustus 2000 adalah anak ketiga dari empat bersaudara, sempat pergi ke Jakarta tapi memutuskan pulang ke Timika karena satu pengalaman pahit, ujar Deminikus.

Pada 2018, Eden sempat menjadi mahasiswa jurusan Teknik Komputer di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, Banten.

Suatu hari, ceritanya ayahnya kepada saya via telepon, Eden hendak pulang ke apartemen di Great Western Resort tempatnya menetap sebagai mahasiswa. Eden naik taksi. Entah bagaimana, ia tersesat hingga ke Tangerang Selatan. Ia memilih turun dan melanjutkan perjalanan dengan ojek.

“Dia diputar-putar. Ia merasa kecewa dan patah semangat, lalu dia memutuskan pulang ke Timika,” kata ayahnya. Sebelum pulang, Eden sempat tinggal sebentar di rumah saudaranya di Bandung.

Vinska Mallo, istrinya, berkata kepada saya bahwa alasan lain Eden pulang ke Timika, ibu kota Mimika, lebih karena ia tak tega meninggalkannya saat mengandung putri mereka.

Humas UMN Endang Widyastuti berkata Eden hanya masuk kelas pada akhir Juli 2018 atau pekan pertama semester.

“Saat itu masih perkenalan dari dosen, jadi [dosen maupun teman seangkatan) belum begitu kenal dia,” ujar Endang.

Menurut cerita salah satu warga di lingkungan Kwamki Narama, setahun terakhir Eden bekerja sebagai kurir depot air di tempat pamannya. Kadang juga kurir hasil kebun dan kayu bakar bagi siapa saja yang mau membayar. Pekerjaan antarbarang inilah yang membuat “seluruh orang di Kwamki Narama kenal Eden,” kata Michael Madai, paman Roni Wandik.

“Setiap gang kampung hingga Timika (kota) dia antar,” kata Madai.

Madai berkata keponakannya, Roni Wandik, meninggalkan rumah orangtuanya di Ilaga, Kabupaten Puncak, untuk berobat ke Timika.

Roni kelahiran 28 Oktober 1996. Ia meninggalkan seorang istri bernama Odina Ongomang dan dua anak, Edoar (usia 4 tahun) dan anak berusia tiga pekan yang belum diberi nama.

Madai bersaksi bahwa Roni dan Eden tidak terkait jaringan OPM, “Mereka warga sipil.”


'Ini Keadilan, Masalah Nyawa'

Keluarga korban menuntut tanggung jawab para pelaku harus dihukum secara adil.

“Saya meminta Kapolda dan Pangdam Papua harus bekerja secara jujur, adil, untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhan anak saya dan Roni. Setiap peristiwa yang selama ini tidak diungkap, mengecewakan keluarga,” kata Deminikus Bebari.

Vinska menuntut pelaku harus bertanggung jawab, "Ini keadilan, masalah nyawa.”

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid berkata ada empat hal yang harus dilakukan pemerintah Indonesia.

Pertama, menginvestigasi kasus itu secara efektif, tidak memihak, dan transparan; kedua, berani membuka diri atas keterlibatan aparat keamanan dalam penembakan; ketiga, investigasi harus diarahkan pada peradilan umum yang terbuka, bukan peradilan militer; keempat, tidak melontarkan pernyataan publik yang menyalahkan "kelompok kriminal bersenjata" tanpa disertai bukti.

“Jika semua itu tidak serius dilakukan, hanya akan terus memperlihatkan negara ini dikelola dengan cara amatir,” kata Usman.

Kasus penembakan terhadap dua anak muda Papua menjadi bukti “belum terlihat kemauan dan kemampuan pemerintah pusat memperbaiki tatanan penggunaan dan pengerahan kekuatan bersenjata di Papua,” kata Usman.

Riset Amnesty International mencatat ada 69 kasus dugaan pembunuhan di luar hukum oleh pasukan keamanan Indonesia di Papua sepanjang Januari 2010-Februari 2018, dengan 95 jiwa melayang. Dalam 34 kasus, para tersangka berasal dari kepolisian; 23 kasus dari militer; 11 kasus dari Polri dan TNI yang diduga terlibat bersama-sama.

Beka Ulung Hapsara dari Komnas HAM berkata lembaganya akan merekomendasikan pembentukan Tim Gabungan TNI-Polri untuk mengungkapkan penembakan terhadap Eden Bebari dan Roni Wandik. Tim bertugas menyelidiki penyebab penembakan “dan memproses hukum semua anggota TNI yang diduga terlibat dalam penembakan tersebut,” katanya.


Alasan 'Sulit Membedakan' Sipil atau OPM

Aparat keamanan Indonesia belum menunjuk hidung siapa pelaku penembakan, tapi tak menyanggah dugaan tersebut.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen Herman Asaribab berkata akan menunggu hasil investigasi. “Untuk memastikan benar atau salahnya anggota kami, nanti proses hukum yang akan menyatakannya,” kata Herman, dikutip dari Antara.

Sementara Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw berkata situasi di wilayah konsesi tambang Freeport Indonesia tidak kondusif karena berulang kali terjadi penyerangan oleh OPM. Ia mengatakan situasi itu bikin aparat keamanan Indonesia sulit membedakan mana warga sipil mana OPM.

“Karena situasinya begitu terbuka, terkadang kami sulit membedakan mana kelompok-kelompok yang berseberangan dengan kami, mana masyarakat biasa,” kata Waterpauw, dikutip dari Antara.

Usman Hamid menanggapi pernyataan Waterpauw justru menegaskan “aparat keamanan Indonesia terlihat semakin tidak profesional” karena secara tidak langsung mengakui mereka “gagal memilah kelompok bersenjata dan warga sipil."


Baca juga artikel terkait PELANGGARAN HAM atau tulisan menarik lainnya Adi Briantika
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Rio Apinino
DarkLight