Menuju konten utama

Kisah Keluarga Perawat yang Akhirnya Sembuh dari Corona

Satu keluarga perawat terserang COVID-19. Mereka karantina, dan akhirnya dinyatakan sembuh.

Kisah Keluarga Perawat yang Akhirnya Sembuh dari Corona
Petugas kesehatan menunjukkan sampel saat diagnostik cepat COVID-19 atau Rapid Test di kawasan Pasar Sentra Antasari, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (4/5/2020). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/pras.

tirto.id - Suatu hari menjelang bulan Ramadan 2020, selembar hasil tes pemeriksaan kesehatan sampai ke tangan Fauzi Firmansyah. Di dalamnya dinyatakan: istrinya, Mivtahul Jannah, 28 tahun, positif COVID-19 berdasarkan hasil swab. Saat itu ia sadar kalau hidupnya akan segera berubah 180 derajat.

Mivta adalah perawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Timur. Suatu hari, seorang pasien yang telah dirawat Mivta selama sepekan dinyatakan positif COVID-19. Akibatnya Mivta harus menjalani isolasi mandiri di rumah sakit selama dua pekan. Hasil tes swab pertama pada 18 Maret menunjukkan Mivta negatif COVID-19. Fauzi pun bernapas lega.

"Setidaknya saya dan keluarga tidak terdaftar sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP)," kata Fauzi kepada saya, Rabu (6/5/2020) lalu.

Mivta siap kembali bertugas. Ia terlebih dulu mengikuti rapid test April lalu. Tanpa diduga, tes cepat menunjukkan hasil reaktif, atau dengan kata lain terindikasi positif. Hasil tes swab kedua pada 10 April mempertegas tes cepat: bahwa Mivta positif COVID-19 tanpa gejala. Panik, stres, dan takut serentak mencengkeram pundak Fauzi.

Mivta, atas kesepakatan bersama Fauzi, memutuskan isolasi mandiri di rumah mereka di wilayah Cakung karena kondisi tempatnya bekerja banyak dihuni pasien positif yang memiliki gejala. Sementara itu, Fauzi bersama anak dan mertuanya mengungsi di rumah orangtua di Pondok Gede.

Fauzi setia datang berkunjung untuk mengantar sayur-sayuran, buah-buahan, dan obat-obatan seperti antibiotik, obat demam, dan obat batuk. "Saya WA (Whatsapp) terlebih dulu agar dia standby di teras rumah," kata Fauzi.

Aktivitas Mivta juga tak banyak berubah. Ia tetap memasak dan beres-beres. Bedanya, kini ia membiasakan diri berjemur 10 menit setiap pagi. Ia juga rutin minum susu, air jahe, dan berkumur dengan air putih hangat sebelum tidur.

Semuanya berjalan baik-baik saja untuk beberapa hari, tapi tiba-tiba sang anak yang berusia dua tahun tujuh bulan demam tinggi hingga 40 derajat dan batuk-batuk. Fauzi segera membawa anaknya ke rumah sakit, dan dokter menyimpulkan si anak infeksi paru-paru sehingga harus dirawat. Mengingat kondisi Mivta, balita itu harus dirawat dengan protokol COVID-19.

"Saat kondisi seperti ini saya mulai stres. Anak sakit dan istri positif. Selama masa itu saya bolak balik Cakung dan rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan mereka," kata Fauzi.

Di tengah kondisi penuh tekanan itu, Fauzi menemukan akun Instagram Relawan Jakarta Maju Bersama (Relawan JMB) yang menyediakan layanan bagi Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) untuk bercerita. Kepada relawan, Fauzi menceritakan kegundahannya dan merasa sedikit lega.

Dua hari kemudian, Puskesmas Penggilingan Jakarta Utara menghubungi Fauzi dan menanyakan kondisinya dan keluarga. Dia sempat bingung karena tak pernah menceritakan kondisinya ke puskesmas. Puskesmas menjadwalkan Fauzi dan keluarga untuk tes swab. Ketua RT-nya pun mengontak Fauzi dan mengatakan bahwa ia dan keluarga dikategorikan sebagai ODP.

"Aduh, kepala pusing lagi dapat kabar dari RT, padahal tidak pernah cerita," katanya.

Bukan tanpa alasan ia ogah melapor ke RT. Dia khawatir RT akan mengumumkan soal kondisinya ke warga sehingga ia sekeluarga distigma dan dikucilkan sebagaimana yang dialami beberapa orang lain. Beruntung yang ia khawatirkan tidak terjadi. Ketua RT tidak mengumumkan apa pun ke warga. Fauzi malah diberikan paket sembako dari Kementerian Sosial dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk Mivta yang sedang isolasi mandiri.

Ketua RT pun berpesan agar Mivta untuk tidak keluar rumah. Fauzi diminta tak sungkan menghubunginya jika Mivta membutuhkan sesuatu.

Sembuh

Senyum Fauzi perlahan muncul ketika anaknya sembuh setelah dirawat selama satu pekan. Biaya selama perawatan ditanggung oleh pemerintah. Hasil tes swab si anak menunjukkan hasil yang selama ini selalu diharapkan Fauzi: negatif.

Fauzi dan mertua pun dinyatakan negatif pada 21 April berdasarkan hasil tes swab.

Kegembiraan Fauzi semakin paripurna setelah pada 23 April 2020 alias satu hari menjelang Ramadan, hasil tes swab ketiga Mivta menunjukkan hasil negatif. Dengan kata lain, Mivta dinyatakan sembuh dari COVID-19.

"Akhirnya kami bisa kumpul kembali di bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah ini," katanya.

Baca juga artikel terkait PASIEN CORONA SEMBUH atau tulisan lainnya dari Mohammad Bernie

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Rio Apinino