Kisah Jose Painecur, Anak yang Ditumbalkan untuk Menghentikan Gempa

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 8 Agustus 2018
Dibaca Normal 4 menit
Gempa 9,5 SR di Chili pada 1960 memicu tsunami mematikan hingga ke Asia Pasifik. José Painecur (6) dikorbankan Suku Mapuche untuk menenangkan bumi dan laut.
tirto.id - 21 Mei 1960. Jarum jam menunjukkan pukul 6 pagi. Baru sebagian warga Curanilahue yang bersiap untuk memulai atau berangkat kerja. Curanilahue adalah sebuah komune di kota di Provinsi Arauco, Chili, dan berbatasan langsung dengan Laut Pasifik di sebelah barat.

Semua orang menghentikan aktivitasnya saat tanah tiba-tiba berguncang keras. Saking kerasnya, jaringan telekomunikasi di bagian selatan Chili mati total. Presiden Jorge Alessandri harus membatalkan peringatan Pertempuran Iquique untuk mengawasi bantuan darurat ke area terdampak.

Guncangan kedua dan ketiga terjadi pada keesokan harinya, tanggal 22 Mei 1960. Yang pertama terjadi pada pukul 6 pagi lewat sedikit. Yang kedua muncul menjelang pukul 3 sore. Getarannya bergerak ke arah selatan, hingga puncaknya, yang dicatat sebagai gempa terbesar dalam sejarah dunia, menggempur Valdivia.

Pusat episentrumnya sebenarnya di sebuah kota bernama Lumaco. Jaraknya kurang lebih 570 kilometer dari ibukota Chili, Santiago. Namun wilayah yang paling terdampak adalah Valdivia, dan melekat menjadi nama gempa itu sendiri.


Cerita tentang bencana yang akan selalu dikenang oleh warga Chili itu terangkum dalam arsip dari berbagai jurnal penelitian yang dikumpulkan oleh Survei Geologi AS (USGS).

Valvida juga langsung berhadapan dengan Samudera Pasifik. Sensus tiga tahun lalu mencatat penduduknya berjumlah sekitar 150 ribu orang lebih sedikit. Ekonomi kota yang dulu pernah dikuasai Kerajaan Spanyol itu digerakkan oleh sektor pariwisata, produksi bubur kayu, kehutanan, metalurgi, dan produksi bir.

Gempa terjadi pukul 3 lebih 11 menit sore hari. Kekuatannya luar biasa besar, serta belum pernah tercatat sebelumnya: 9,4-9,6 Skala Richter (SR). Dampaknya langsung terasa dan menyebar ke ke seluruh wilayah Chili, antara wilayah Talca dan Kepulauan Chiloe, yang luas totalnya lebih dari 400.000 kilometer persegi.

Satu jam berikutnya gelombang tsunami setinggi 8 meter menghantam pesisir Chili. 10 menit berselang gelombang setinggi 10 meter kembali datang. Seratusan orang dikabarkan meninggal. Belum termasuk warga yang tertimbun reruntuhan bangunan atau terkena longsor susulan saat berada di luar rumah.


Dua hari setelahnya musibah bertambah sebab lubang vulkanik yang berada di dekat gunung api Puyehue, bernama Cordón Caulle, turut meletus. Gunung berapi lain diperkirakan juga meletus, tetapi tidak ada yang tercatat karena kurangnya komunikasi di Chili pada saat itu.

Gempa menyebabkan banyak tanah longsor terutama di lembah glasial curam di selatan pegunungan Andes. Longsor di dekat Sungai Golgol menyebabkan meluapnya danau Puyehue. Danau lain kena dampak serupa, dan limpahan airnya menciptakan banjir besar yang melumpuhkan jalur-jalur penting—termasuk lintas perbatasan Chili-Argentina.

Alexander E. Gates dan David Ritchie mencatat dalam Encyclopedia of Earthquakes and Volcanoes (2006) bahwa gempa turut menciptakan tsunami besar yang hantamannya menyapu hingga ke negara dan benua tetangga.

Gelombang tinggi yang bergerak beberapa ratus kilometer per jam menerjang Hawaii dan menewaskan 61 orang. Tsunami mendatangi Filipina dan menewaskan 32 orang. Di Jepang, 138 kematian akibat bencana tersebut rata-rata terjadi di wilayah Sanriku, bagian timur laut Honshu.


Gelombang susulan kemudian menerjang pesisir pantai barat AS, Cina, Selandia Baru bagian timur, Australia tenggara dan Kepulauan Aleutian.

Korban tewas dan kerugian materi yang timbul dari gempa Valdivia tidak diketahui secara pasti.Ada yang memperkirakan antara 1.000-7.000 orang meninggal dunia. Beberapa sumber memperkirakan biaya kerugian yang harus ditanggung Chili berkisar antara $400 juta hingga $800 juta.

Survei Geologi AS mengutip data Departemen Survei Perdagangan, Pesisir dan Geodetik AS, yang menyatakan korban meninggal tercatat lebih dari 2.000 jiwa. 3.000 lainnya luka-luka, 2.000.000 orang kehilangan tempat tinggal, dan kerugian bagi Chili sebesar $550 juta. Hawaii rugi $75 juta, Jepang $50 juta, dan AS $500.000.

Bencana Tetap Datang, Nyawa José Melayang Sia-Sia

Sains menjelaskan gempa bumi terjadi karena pergerakan, gesekan, dan tumbukan antar-lempeng tektonik yang membuat dataran berguncang. Patahan yang menganga kemudian melahirkan tsunami. Chili juga rawan gempa bumi sebab berada jalur Cincin Api Dunia (Ring of Fire)—sebagaimana posisi Indonesia.

Sains dan teknologi modern telah membantu mengantisipasi bencana alam dan memecahkan masalah-masalah yang timbul karenanya. Namun sebagian masyarakat bersikukuh untuk meneruskan kebiasaan lama untuk merespons bencana. Salah satunya orang-orang Mapuche yang bertempat tinggal di bagian tengah hingga selatan Chili, sebagai salah satu komunitas yang paling terdampak oleh gempa Valdivia.

Suku Mapuche sebenarnya terdiri dari berbagai kelompok suku yang lebih kecil, akan tetapi memiliki struktur ekonomi, keyakinan, dan sosial yang sama. Mereka adalah keturunan pemakai bahasa Mapudungan yang punya pengaruh dari area Sungai Aconcagua ke Kepulauan Chiloé, dan menyebar ke timur hingga ke Argentina.

Sekitar 80 persen masyarakat adat Chili berasal dari suku Mapuche, yang jumlahnya kira-kira 9 persen dari populasi penduduk. Mereka terkonsentrasi di wilayah Araucanía, namun banyak yang bermigrasi ke ibukota Santiago untuk penghidupan yang lebih baik.


Salah satu kisah langka terkait gempa Valdivia dicatat oleh Amos Nur dan Dawn Burgess dalam bukunya, Apocalypse: Earthquakes, Archaeology, and the Wrath of God (2008). Mereka mengutip narasi menarik Patcrik Tierney di The Highest Altar: Unveiling the Mystery of Human Sacrifice (1990).

Ada sebuah komunitas Mapuche di desa pesisir Collileufu. Collileufu terletak di area Danau Budi, selatan Puerto Saavedra, yang pada tahun 1960 sangat terisolasi dari dunia luar. Usai gempa terjadi mereka menyelamatkan diri ke daerah yang lebih tinggi. Dataran rendah yang mereka tinggali ludes dihancurkan tsunami.

Juana Namuncura Anen, seorang dukun lokal, menawarkan solusi keji: seorang anak perlu jadi tumbal dalam ritual pengorbanan. Demi menenangkan bumi dan laut, katanya. Ia kemudian menunjuk cucu dari Juan Painecur, José Luis Painecur.

Juan tak lain adalah tetangga dari Juana sendiri. Ibu José bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Santiago. Ia menitipkan José di bawah pengawasan sang ayah. Ayah José tak mampu berbuat apa-apa di hadapan warga yang menuntut putranya dikorbankan.


Majalah Time melaporkan detail ritual yang dijalankan warga amat kejam. Mereka memukuli José dengan kayu sampai tewas. Dadanya dirobek, jantungnya diambil, kemudian dilarung ke laut. Mirip ritual pengorbanan manusia di benua Amerika tengah dan selatan sebelum kedatangan Kolombus. Mirip visualisasi film Apocalyto (2006).

Saat pihak kepolisian mengusut kasus tersebut, mereka menemukan fakta bahwa dua kuda juga dikabarkan turut dimakan hidup-hidup selama ritual pengorbanan José. Dua pelaku pembunuhan yang ditahan mengakui perbuatannya. Mereka dibebaskan setelah dipenjara selama dua tahun.

Agaknya ritual kaum Mapuche gagal total. Masih mengutip Time, pada beberapa hari usai pengorbanan José, longsor akibat hujan deras datang serta menewaskan 18 orang dekat kota Valdivia. Pada malam harinya gempa juga kembali menghantam, kali ini dengan kekuatan 7,25 SR, mengguncang sisi tenggara Chili.

Bencana susulan belum berhenti. Beberapa hari setelahnya, gempa di utara Valdivia memicu longsor yang menyeret nyawa dua warga setempat. Keesokan harinya, dua gempa lanjutan terasa di Concepcion, yang saat itu jadi pusat industri terbesar ketiga Chili. Angka korban jiwa kabur, tetapi kerugian materi akibat keruntuhan bangunan cukup besar.


Suku Mapuche tidak sendirian. Masih banyak komunitas masyarakat di dunia yang percaya bahwa gempa bumi dan tsunami digerakkan oleh makhluk raksasa penguasa bawah tanah atau lautan.

British Geological Survey mencatat bahwa penyebab gempa bumi menurut mitologi Yunani adalah tancapan trisula Poseidon ke tanah. Nama lain dewa laut itu memang “Pengguncang Bumi”.

Infografik Mitologi Gempa


Masyarakat di Pasifik Barat Laut meyakini gempa dan tsunami disebabkan oleh pertempuran antara burung besar “Thunderbird” dan ikan paus. Rakyat Jepang punya legenda ikan lele raksasa bernama Namazu yang hidup di bawah tanah. Sementara orang Maori percaya bahwa gempa disebabkan Ruaumoko, sang dewa musim,gunung berapi, dan gempa.


Perubahan cara berpikir dari mistik ke sains sebetulnya sudah terjadi usai gempa yang mengguncang Lisbon, Portugal, pada 1 November 1755. Titik episentum gempa berkekuatan 8,5-9 SR itu terletak di Laut Atlantik, kurang lebih 200 km barat daya Cape St. Vincent. Hampir seluruh bangunan di wilayah Lisbon rontok.

Gempa Lisbon tidak hanya tercatat sebagai salah satu gempa bumi terbesar di dunia, tetapi juga yang paling mematikan. Perkiraan atas jumlah korban tewas khusus di Lisbon saja mencapai 60.000-100.000 iwa.

Bencana besar tersebut amat memengaruhi kaum intelektual dari Zaman Pencerahan Eropa, mulai dari Voltaire hingga Immanuel Kant. Dari Lisbon lahir pula seismologi, ilmu tentang gempa yang kini terus berkembang. Penyebab gempa mulai ditafsir melalui metode ilmu alam. Sejak itu, mitologi gempa pelan-pelan berkurang daya tawarnya—meski tidak hilang sepenuhnya hingga hari ini.

Baca juga artikel terkait GEMPA BUMI atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf