Kisah Iwan Simatupang Menjadi Manusia Hotel

Iwan Simatupang. tirto.id/Sabit
Oleh: Irfan Teguh - 22 Maret 2018
Dibaca Normal 5 menit
Jauh sebelum Candri Winarta yang tinggal di hotel selama 10 tahun menjadi pemberitaan, Iwan Simatupang pernah tinggal di Hotel Salak, kamar 52.
tirto.id - “Ibu ini memang ada rumah, tapi juga ada trauma di masa lalu. Karena yang bersangkutan pernah dirampok, ada tindak kekerasan. Itu yang bikin trauma,” kata Bambang Kusuma, kuasa hukum Candri Widarta, pelaku dugaan penelantaran anak yang tinggal di hotel selama 10 tahun.

Candri Winarta, menurut keterangan polisi, tinggal di hotel yang berbeda-beda. Ia berpindah-pindah dari Twin Plaza, Peninsula, dan Le Meridien. Menghabiskan biaya yang tak sedikit tentu saja. Menurut pengakuannya ia mendapat bantuan dana dari gereja, dan ia juga mengaku melakukan praktik pengobatan tradisional, sehingga menganggap wajar tinggal di hotel selama bertahun-tahun.

“Kalau punya duit, memangnya kenapa?” ujarnya.

Meski dengan motivasi berbeda, pada 1960-an, Iwan Simatupang (selanjutnya ditulis Iwan)—sastrawan pengarang novel Merahnya Merah (1968), Ziarah (1969), dll, pernah melakukan hal yang sama dengan Candri: memutuskan tinggal di hotel.

Iwan pertama kali menikah dengan Corinne Imalda de Gaine (Corry) pada tahun 1955. Mereka dikaruniai dua orang anak, Ino Alda dan Ion Portibi. Lima tahun kemudian istrinya meninggal. Hal ini membuat ia terpukul. Warsa 1961, Iwan menikah lagi dengan Tanneke Burki, penari balet di Bandung. Dari pernikahannya yang kedua, Iwan mempunyai lagi anak bernama Violeta. Pernikahan keduanya kemudian bubar pada tahun 1964.

Kehidupan rumahtangga Iwan dan relasi lainnya menjadi salah satu penyebab yang mendorongnya untuk tinggal di hotel. Bagaimana sesungguhnya perjalanan hidup Iwan sebelum tinggal di hotel?


Riwayat hidup Iwan berdasarkan catatan Dami N. Toda dalam Novel Baru Iwan Simatupang (1984) mula-mula sekolah di SMA Padang Sidempuan, tapi tidak selesai karena keburu terjadi Agresi Militer Belanda II. Dalam kecamuk revolusi itu Iwan bergabung dengan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) sebagai komandan, dan aktif juga di Perhimpunan Pelajar Indonesia Sumatra Utara sebagai ketua.

Tahun 1949 ia tertangkap Belanda dan dilepaskan di Medan. Setelah tamat dari HBS Medan, ia melanjutkan ke Sekolah Kedokteran Surabaya, lalu melanjutkan studi di Belanda dan mendapatkan jodoh orang sana. Setelah itu belajar pada Full Course International Institute For Social Studies di Den Haag, dan Ecole de L’Europe (Brugge), sambil belajar drama di Amsterdam. Tahun 1958 belajar filsafat pada Prof. Jean Wahl di Sorbonne (Paris).

Namun riwayat pendidikan Iwan diragukan Ajip Rosidi. Dalam kumpulan mini biografi dan tulisannya lainnya yang dihimpun di buku Lekra Bagian dari PKI (2015) bab “Iwan Simatupang”, Ajip menyebutkan bahwa Iwan berangkat ke Eropa pada tahun 1954 atas undangan dari Sticusa atau Stichting voor Culturele Samenwerking (Yayasan Kerjasama Kebudayaan) di Belanda dengan tujuan memajukan kehidupan budaya di daerah jajahan Belanda.

Sticusa dibubarkan pada 1956 dan Iwan kembali ke Indonesia awal 1958. Ajip menjelaskan bahwa kalau benar Iwan kuliah, itu dimungkinkan setelah Sticusa bubar. Tapi jarak antara lembaga tersebut bubar dengan kepulangan Iwan ke Indonesia amat pendek, sedangkan kalau kuliah membutuhkan waktu yang lebih dari dua tahun.

“Kalau dia benar masuk universitas niscaya dibutuhkan waktu yang lebih lama, karena dia baru mungkin kuliah setelah Sticusa bubar, yaitu tahun 1956. Dengan disebutnya nama empat universitas […] sedangkan ia di Eropa [di luar Belanda] setelah undangan Sticusa habis hanyalah kira-kira dua tahun saja. Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa cerita tentang Iwan mengikuti kuliah di empat universitas itu semuanya hanya angan-angan saja,” tulis Ajip. (hlm. 138)


Anggapan Ajip tentang Iwan yang berangan-angan, ia tegaskan dalam hal lain di luar cerita kuliah.

“Banyak cerita tentang Iwan yang dikisahkan sebagai anekdot saja. Kita tak tahu sampai di mana kebenarannya. [...] Saya sendiri kalau mendengar cerita Iwan, banyak diam, karena tidak semua ceritanya dapat dengan mudah dikenali sebagai khayalan. Dan caranya bercerita sangat mengasyikkan,” terangnya. (hlm. 139)

Sepulangnya dari Eropa, ia tinggal sebentar di Cipanas, lalu pindah ke Bogor. Di sinilah istrinya meninggal karena sakit tifus yang membuat Iwan sangat menderita. Di tahun yang sama dengan kematian istrinya, Iwan dirawat di Klinik Sakit Jiwa dengan komplikasi bronchitis. Novel Ziarah yang ia tulis dari bulan Oktober sampai November 1960 adalah persembahan untuk istrinya.

Hotel Salak Kamar 52

Bersama dua orang anaknya Iwan pernah tinggal di Hotel Salak, Bogor, di kamar 52. Berapa lama ia tinggal di hotel tersebut? M. Ryana Veta dalam “Selamat Sore, Pak Iwan: Memori 4 Agustus, Setahun Meninggalnya Iwan Simatupang” yang dimuat Harian Abadi, 8 Agustus 1971, menyebutnya 4 tahun.

M. Ryana Veta yang tergabung dalam grup Study Teater Bogor menceritakan bahwa Iwan menyediakan konsumsi latihan drama untuk ia dan kawan-kawannya ketika akan mementaskan drama “Pangeran Wiraguna” karya Mochtar Lubis. Ia menambahkan bahwa itu terjadi sekitar bulan Juli tahun 1967 saat Iwan masih tinggal di hotel Salak.

“Kehadirannya selama 4 tahun di kota Bogor banyak memberi pikiran-pikiran baru bagi sementara pekerja kesenian kota itu,” tulisnya.


Sementara Aulia A. Muhammad dalam Bayang Baur Sejarah: Sketsa Hidup Penulis-penulis Besar Dunia (2003) bab “Si Manusia Hotel” menulis bahwa Iwan tinggal di Hotel Salak selama 9 tahun (sejak 13 Agustus 1961-5 November 1969).

Di luar perbedaan tentang berapa lama Iwan tinggal di Hotel Salak, dalam surat-suratnya kepada H.B. Jassin, seperti dikutip Aulia A. Muhammad, Iwan terlihat tertekan oleh persoalan-persoalan hidup.

Dalam surat bertitimangsa 14 April 1968 yang ia tulis di kamar 52 Hotel Salak, Iwan menyampaikan bahwa ia banyak mengalami kegetiran, dan itu hanya bisa diobati jika novel-novelnya terbit.

“Aku banyak sekali mengalami kegetiran akhir-akhir ini, Hans. Dan, hanya dengan terbitnya novel-novelku inilah yang mampu memberi kompensasi kepada frustasi-frustasiku. Bahkan, kegetiran yang bagaimanapun aku tak gentar menghadapinya, bila saja karya-karyaku dapat terbit,” tulis Iwan.

Lalu pada 3 Desember 1968, saat bulan Ramadan, ia menulis, “Mengapa terasa begini menyesakkan dada kesulitan yang kita alami, Hans? Cari uang susah, memelihara hubungan pribadi baik dengan kenalan atau kawan sangat sulit, sedangkan langit terlalu biru dan cerah sekali, serta jalan-jalan aspal kering sekali.”

5 November 1969, Iwan menulis surat lagi, “Rasa asing dalam diriku, terhadap diriku, anak-anakku, dan dunia selebihnya semakin parah saja. Aku semakin tak punya kepentingan apa-apa lagi dengan kehidupan dan dunia ini. Aku semakin letih saja.”

Dari ketiga kutipan surat tersebut tampak sekali hidup Iwan tidak sedang baik-baik saja. Ia kesulitan mencari uang, novel-novelnya yang kata dia mampu memberi kompensasi terhadap frustasi-frustasinya tak kunjung terbit. Ia juga kesulitan memelihara hubungan pribadi dengan kawan dan kenalannya. Pada akhirnya hal-hal itu membuat ia merasa asing dan menyatakan tak punya kepentingan lagi dengan kehidupan.

Iwan memang sempat mengalami hubungan yang kurang baik dengan sebuah penerbit. Hal itu ia sampaikan kepada H.B. Jassin di surat tanggal 30 Oktober 1963.

Menurutnya, ia dibuat repot oleh Zaini dari Mega Bookstore. Novel Merahnya Merah yang rampung ditulis pada Oktober 1961, dijanjikan Zaini akan segera terbit dalam sebulan. Namun ternyata Zaini meralatnya, bahwa novel tersebut baru bisa terbit paling cepat setelah Januari 1964. Hal ini tenrtu saja menjengkelkan Iwan, sebab ia membutuhkan uang untuk biaya hidupnya.

“Alangkah nonchalant-nya penerbit macam Saudara Zaini ini. Dia terlalu sadar rupanya akan pentingnya dia—penerbit, bagi kita, para pengarang! Apa boleh buat aku terpaksa mengalah. Sebab, aku mempunyai kepentingan yang sangat agar terbit segera mungkin!” tulisnya.






Karya-karya Iwan memang mengalami jeda cukup panjang antara waktu selesai penulisan dengan waktu terbitnya: Merahnya Merah selesai ditulis 5 Oktober 1961, terbit 1968 oleh Gunung Agung. Ziarah selesai 2 Desember 1960, terbit 1969 oleh Djambatan. Kering kelar 5 Desember 1961, terbit 1972 oleh Gunung Agung. Kooong selesai tahun 1968, terbit 1975 oleh Pustaka Jaya.

Dalam surat-suratnya yang lain, Iwan menyampaikan bahwa ia tinggal di hotel karena suka dan terpaksa, meski ia pun menulis bahwa pada dasarnya “kita tak pernah merasa betah”.

“Inilah inti dari psikologi manusia hotel. Ia adalah tamu! Dan tamu selalu berarti: (baru) datang, (bakal) pergi (lagi). Jadi, ia manusia datang dan pergi. Ia manusia mobil. Ia selalu ada dalam perjalanan, antara datang dan pergi. Oleh sebab itu, bumi kehidupan manusia hotel juga berlangitkan relativisme. Filsafat hidup hari-harinya adalah juga filsafat riskan,” tambahnya.

Tuhan bagi manusia hotel, terang Iwan, adalah polisi yang setiap hari mengontrol hidup melalui buku tamu. Selain itu, piket patrol garnisun bagi manusia hotel selalu menyediakan banyak penamaan: manusia tersangka-gerombolan-petualang-penganggur.

“Pada hakikatnya, tanpa berita acara dari piket patrol garnisun ini, manusia hotel sudah lama menjadi kesemuanya itu. Manusia hotel adalah the modern tramp, pengembara yang berpretensi punya kegelisahan modern, berpretensi jadi Don Kisot modern. Manusia hotel adalah partisan dalam arti yang sebenarnya,” ujar Iwan.

Iwan keluar dari Hotel Salak karena kondisi keuangan dan kesehatannya semakin memburuk. Ia kemudian menumpang di bagian belakang rumah adiknya di Jalan Kencana 11, Jakarta.

Saat Sides Sudyarto—penulis buku Salat Lebaran di Kamp Konsentrasi (2006) menjenguknya, ia harus menahan tangis melihat kondisi Iwan yang dijerat kemiskinan. Iwan duduk seorang diri di tepi tempat tidurnya dengan hanya mengenakan celana dalam. Tangannya tengah menjahit bagian celana anaknya. Ia menyambut Sides dengan perubahan muka yang menjadi cerah.

Sambil menjahit kancing celana anaknya ia berkata, “Sides, sudah lama kutunggu kau. Hari ini, kau harus mengemis untukku. Kalau tidak, resep dokter ini tak tertebus dan aku akan segera meninggal,” ujar Iwan. (Aulia A. Muhammad dalam Bayang Baur Sejarah: Sketsa Hidup Penulis-penulis Besar Dunia: 2003, hlm. 87)

4 Agustus 1970, pukul 10 pagi, Iwan meninggal dunia di rumah kakak perempuannya. Pada pidato pemakamannya, Frans Seda (teman dekat Iwan yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Perhubungan) berkata:

“Saya teringat pada Iwan di saat saya mengajarkan Schubert, yaitu Simfoni yang tak selesai-selesai, dan inilah yang saya lihat dalam hidupmu berjalan, simfoni dari pahit getir, frustasi, kontradiksi-kontradiksi. Iwan, kamu selalu intensif dalam hidup ini, intensif dalam marah, dalam hal-hal yang menggiurkan, kepahlawanan yang hebat-hebat, dan di situlah kau Iwan menjadi besar.”

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Zen RS
DarkLight