Menuju konten utama

Kisah Ibu & Anak dengan HIV: Dijauhi Keluarga, Dirundung di Sekolah

Stigma serta diskriminasi terhadap ibu dan anak dengan HIV terjadi lantaran edukasi yang minim soal penyebaran HIV.

Kisah Ibu & Anak dengan HIV: Dijauhi Keluarga, Dirundung di Sekolah
Ilustrasi HIV pada anak. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Tidak mudah bagi Ratna, bukan nama sebenarnya, untuk menerima keadaan bahwa dirinya positif mengidap HIV (Human Immunodeficiency Virus). Makin berat lagi bagi Ratna lantaran anak perempuannya juga positif HIV.

Perempuan 40 tahun itu enggan mengungkapkan status tersebut secara terbuka. Ia hanya menceritakannya kepada keluarga dan teman-teman dekat saja.

Keraguan Ratna memuncak saat mengetahui temannya bernama Lani (42) bersama bayinya yang sama-sama mengidap HIV hampir meregang nyawa lantaran mendapat stigma dan diskriminasi. Ratna mengatakan Lani sempat tinggal tak jauh dari rumahnya.

“Dulu saya yang nawarin buat tinggal dekat sini. Cuma ternyata dianya cerita ke salah satu tetangganya kalau dia dan bayinya HIV,” kata Ratna kepada reporter Tirto saat ditemui di kawasan Jakarta Utara, Sabtu (30/11/2019) lalu.

Kabar terkait Lani dan bayinya positif HIV tersebar ke tetangga-tetangga lainnya. Sebagian warga pun menganggap keberadaan Lani beserta bayinya dapat menyebarkan virus HIV di lingkungan tersebut.

"Akhirnya, pada berencana buat bakar rumahnya malam-malam. Untung ada salah satu tetangganya yang ngasih tahu, jadi dia keburu kabur duluan sama bayinya,” kisah Ratna.

Selepas mengakui positif HIV kepada keluarga, Ratna mengaku dijauhi kakak-kakaknya. Bahkan anak-anak mereka tidak diperbolehkan mendekati anaknya Ratna lantaran dianggap berbahaya.

“Mereka soalnya enggak paham kalau enggak segampang itu juga buat nularin ke orang. Tapi ya sudahlah, yang penting orangtua saya masih menerima,” ungkapnya.

Ratna mengatakan hingga saat ini tak satu pun tetangganya yang mengetahui ia dan anaknya mengidap HIV. Ia mengaku amat berhati-hati dalam menyampaikan statusnya kepada orang lain.

Anaknya Ratna, Milea (9 tahun), bukan nama sebenarnya, juga mengalami diskriminasi saat mengakses pendidikan di sekolah.

Ratna bercerita, awalnya Milea disekolahkan di sekolah umum. Namun Milea kerap dirundung teman-teman dan gurunya karena sulit berjalan. Atas dasar itu, Ratna memindahkan Milea ke sekolah berkebutuhan khusus.

“Di sekolah baru, Alhamdulillah, dia lebih betah. Fokus juga sama pelajaran yang diajarin, terutama dalam prakarya. Maju ke panggung, dia juga menang juara empat, tapi dari ratusan murid,” kata Ratna sembari tersenyum.

Bayang-Bayang Stigma & Diskriminasi

Ibu dan anak-anak dengan HIV hidup dalam bayang-bayang stigma, mengalami diskriminasi, serta kerap kesulitan mengakses layanan kesehatan.

Menurut Manajer Psikososial Lentera Anak Pelangi (LAP) Riama Siringo, ada beberapa alasan mengapa hal itu terjadi. Pertama, ada anggapan bahwa ibu yang terkena HIV bukan perempuan baik-baik. Kedua, HIV dianggap mudah untuk ditularkan.

Stigma itu bahkan melekat ke sebagian petugas pelayanan medis. Hal itu membuat ibu dan anak enggan mengakses layanan kesehatan.

“Masih terdapat orang pelayanan yang mempertanyakan: kamu pasti bukan perempuan baik-baik sampai anak kamu positif,” kata Riama saat dihubungi reporter Tirto, Minggu (9/12/2019) lalu.

Tak hanya itu, Riama juga menemukan sejumlah kasus di mana sang ibu belum menerima dirinya positif HIV. Hal itu membuat sang ibu memilih untuk tidak berobat, tetapi mendahulukan anaknya.

“Akhirnya, anaknya sembuh, si ibu kondisinya drop, baru menyadari bahwa dia juga butuh pengobatan," ujar Riama.

"Walau sebenarnya juga sudah terlambat, karena ia sudah mengalami kondisi infeksi oportunistik. Kalau misalnya lebih awal, si ibu tak perlu mengalami itu,” imbuhnya.

Kekhawatiran akan stigma yang masih kuat di masyarakat juga kerap kali membuat orangtua enggan untuk menyampaikan status HIV kepada anak-anak. Menurut Riama, hal itu justru menghalangi hak anak untuk mengetahui status kesehatannya.

“Dalam beberapa kasus kan mereka memang dikeluarkan dari sekolah, atau mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari guru, atau teman sekolah. Nah, itu akhirnya membuat anak tidak nyaman dan tidak mau bersekolah ketika dia mendapatkan bully,” ungkap Riama.

Riama menilai sejumlah langkah perlu diambil pemerintah untuk meruntuhkan stigma masyarakat seputar HIV. Langkah yang paling penting adalah penyebaran informasi yang tepat mengenai HIV itu sendiri.

Edukasi yang minim soal penyebaran HIV menjadi faktor tingginya stigma serta diskriminasi kepada ibu dan anak dengan HIV.

“Edukasi ke masyarakat, sosialisasi, penyuluhan, itu masih harus terus dilakukan secara massif. Saat melihat isu kesehatan lain, misalnya stunting, banyak kampanye dan sosialisasi yang besar, akhirnya stunting bisa menurun,” jelas Riama.

“Dalam isu apapun, itu bisa sebetulnya. Nah, kini bagaimana membawa isu HIV menjadi isu yang mendapatkan perhatian bagi masyarakat luas karena kasihan kan malah anak-anak lagi yang terkena HIV,” tambahnya.

Riama melihat bahwa pemerintah sudah memiliki program untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Namun, program tersebut seolah berjalan dengan “sembunyi-sembunyi” karena belum dikampanyekan atau diiklankan secara masif.

Hal itu membuat orang-orang yang mengetahui informasi soal HIV hanya kelompok tertentu saja.

“Tapi bagi orang-orang awam yang belum terpapar informasi soal HIV, mereka belum tentu mau mencari informasi atau terpikirkan apa saja yang berisiko menularkan HIV,” kata Riama.

Saat ditanya mengenai langkah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menangkis stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Anung Sugihantono mengatakan hal itu bukan hanya tanggung jawab kementeriannya.

“Ya jangan nanya Kemenkes, yang bikin statement [terkait stigma terhadap HIV] kan bukan Kemenkes,” ujar Anung kepada reporter Tirto saat dihubungi, Kamis (5/12/2019) lalu.

“Teman-teman daerah [pemerintah daerah] kan juga harus bertanggung jawab memberitahukan ke masyarakat,” imbuhnya.

Baca juga artikel terkait HIV AIDS atau tulisan lainnya dari Fadiyah Alaidrus

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Fadiyah Alaidrus
Penulis: Fadiyah Alaidrus
Editor: Gilang Ramadhan