Kisah Evie Poetiray, Perempuan Maluku yang Melawan Nazi di Belanda

Infografik evie poetiray
Evy Poetiray. FOTO/javapost.nl
Oleh: Husein Abdulsalam - 15 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Sejumlah orang Indonesia ikut melawan Nazi Jerman saat Perang Dunia II. Salah satunya ialah perempuan keturunan Maluku, Evie Poetiray.
tirto.id - Militer Jerman menyerbu Belanda pada 10 Mei 1940. Tak sampai sepekan kemudian, tepatnya pada 15 Mei 1940, Negeri Kincir Angin menyerah. Ratu Belanda, Wilhelmina, minggat ke Inggris dan membentuk pemerintahan Belanda di pengasingan. Sedangkan Putri Mahkota Juliana menyelamatkan diri ke Kanada.

Saat itu, tidak sedikit orang dari Hindia Belanda (sekarang Indonesia) tengah berada di Belanda. Mereka yang aktif di Perhimpoenan Indonesia (PI), organisasi progresif pendukung Indonesia merdeka, sebagaimana disebut Emile Schwidder dalam Menunda Perjuangan Indonesia Merdeka: Orang Indonesia Melawan Fasisme di Belanda (1940-1945) (2017), ikut melawan Jerman. Latar belakangnya berbeda-beda. Ada yang menganggap itu bagian dari perlawanan internasional terhadap fasisme. Ada pula yang melihat itu sebagai perang melawan kekuatan kolonial yang imperialis.


Di antara mereka, ada seorang bernama Georgine Eveline Poetiray. Perempuan yang akrab disapa Evie Poetiray itu berangkat ke Belanda untuk menempuh studi analis kimia. Ayahnya, George Henricus Alfaris Gerard Poetiray, bekerja di Jawatan Pos, Telegram, dan Telepon.

George Poetriay meninggal saat Evie berusia dua tahun. Kemudian, ibu Evie, Sara Suzanne Huppe, meninggal sembilan tahun kemudian. Evie dan saudari kandungnya, Reny Poetiray, tinggal di panti asuhan di Surabaya.

Pada 1937, Reny pergi ke Belanda dan disusul oleh Evie juga ke sana. Di Belanda, Evie belajar ilmu analis kimia di sebuah laboratorium di Keizersgracht. Sembari belajar, Evie juga bergabung dengan Indonesische Christen Jongeren (IJC), organisasi penghimpun muda-mudi Indonesia penganut Kristen di Belanda.

Pada musim panas 1942, ia diajak bergabung PI. Ajakan itu disampaikan secara diam-diam karena PI termasuk organisasi politik yang dilarang Nazi sejak 1940. Menurut Harry A. Poeze dkk dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2008), Evie juga ikut mengurus Roekoen Peladjar Indonesia (Reopi).

Membaca dan Menyebarkan Pers Ilegal

Evie mengawali aktivitasnya di PI dengan membaca surat kabar dan majalah ilegal, lalu mendiskusikannya bersama mahasiswa Indonesia dan Belanda. Selain itu, perempuan kelahiran Besuki, Soerabaya itu juga menulis untuk terbitan ilegal seperti Vrij Nederland, De Vrije Katheder, De Waarheid, dan Het Parool.

Menurut Poeze, Evie dipercaya rekan-rekannya untuk mengambil dan membagikan terbitan ilegal, serta mencari alamat-alamat persembunyian.

"Kegiatan sebagai kurir yang berbahaya terutama dilakukan oleh wanita, karena wanita tidak begitu menimbulkan kecurigaan," kata Poeze.

Selain itu, Evi Poetiray adalah penghubung utama PI dengan Indonesische Christen Jongeren (IJC). Saat itu, ICJ tidak dilarang pemerintahan Nazi sehingga organisasi itu tetap melakukan kegiatan.

Sepanjang 1941-1943, ICJ menyelenggarakan lima pertemuan besar. Orang-orang Indonesia di Belanda memanfaatkan betul pertemuan ICJ sebagai wadah komunikasi. Pertemuan itu terbuka untuk semua orang Indonesia, termasuk yang non-anggota ICJ dan orang Islam.

Dalam pertemuan itu, orang-orang Indonesia yang jadi buronan Nazi juga hadir. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bermusyawarah juga bertemu dengan dan mahasiswa Belanda aktif melawan Nazi .

"Evie Poetiray dan M. Siantoeri, yang kemudian menjadi suaminya, menjadi pengatur pertemuan itu. Keduanya menyelenggarakan pertemuan di luar pengetahuan pengurus ICJ yang lain," sebut Poeze.


Schwidder mencatat Evie mendapat perintah untuk menyetop kegiatannya dan menghilang dari peredaran selama musim panas 1943, menyusul penangkapan dan interogasi seorang tokoh PI. Evie bersembunyi di loteng sebuah rumah di Amsterdam barat. Ia hanya pergi ke luar jika situasi aman.

"Walau demikian, dia harus tetap berada di latar belakang. Akhirnya, rumah Poetiray kembali menjadi tempat mangkal mahasiswa Indonesia. Masing-masing dari mereka membawa ransum batu bara untuk memperoleh kehangatan bersama pada musim dingin. Sebagian lemari di rumah itu diubah menjadi tempat bersembunyi bila ada penggerebekan," tulis Schwidder.

Bergegas ke Leiden

Pada bulan-bulan terakhir Perang Dunia II, para mahasiswa Indonesia di Leiden membentuk satuan Indonesia di Nederlandse Binnenlandse Strijdkrachten (NBS). NBS sendiri dibentuk ada September 1944. Berisi berbagai kelompok bersenjata, NBS didirikan untuk memandu pasukan Sekutu dan menjaga ketertiban wilayah yang ditinggalkan Jerman.

Pada Januari 1945, seorang anggota satuan NBS Indonesia bernama Irawan Soejono mati ditembak tentara Jerman. Untuk menghormati perjuangannya, satuan NBS Indonesia menamai diri mereka "Irawan Brigade".

Mendengar Soejono dibunuh, Evie bergegas menuju Leiden menggunakan sepeda. Ada enam orang dalam perjalanan itu: tiga laki-laki, tiga perempuan.

"Kami duduk dibonceng di sepeda yang tidak berban. Salah satu dari perempuan itu, Elly Soumokil, punya bayi berumur tiga bulan, tapi dia harus dan ingin ikut ke Leiden. Dia titip anaknya itu ke sepupunya di Wilhelmina Gasthuis di Amsterdam dan dia pergi ke Leiden," ujar Evie dalam ketika diwawancarai jurnalis Herman Keppy pada 2008.

Pada hari terakhir Perang Dunia II di Belanda, Mei 1945, PI menerbitkan manifesto dua halaman berjudul "Verklaring van de Perhimpunan Indonesia aan het Nederlandse Volk!" alias "Deklarasi Perhimpoenan Indonesia kepada Rakyat Belanda". Selain merayakan kemenangan Sekutu dan capaian perjuangan anti-Nazi di Belanda, pamflet PI tersebut juga menceritakan kiprah mereka selama Belanda dikuasai Nazi.



"Mereka menjelaskan bahwa orang-orang Indonesia telah berjuang di samping orang-orang Belanda dan ikut di segala lini kerja-kerja bawah tanah: menyediakan bantuan bagi mereka yang bersembunyi, menerbitkan surat kabar ilegal, menulis artikel untuk surat kabar lain, dan bahkan membentuk kelompok bersenjata sendiri, Irawan Brigade," tulis Jennifer L. Foray dalam Visions of Empire in the Nazi-Occupied Netherlands (2012).

Dalam deklarasi itu, PI juga menegaskan pandangannya agar Indonesia dan Belanda punya relasi baru berlandaskan kerja sama dan kesetaraan. PI menuntut "Indonesia yang merdeka dan demokratis, karena hanya dalam hal itu terpampang sebuah jaminan bahwa rakyat Indonesia akan memiliki pembangunan politik, ekonomi, dan sosial di tangan mereka".

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Tapi, Belanda tidak mengakuinya dan malah melancarkan agresi militer. PI bersama Partai Komunis Belanda (CPN) menentang kebijakan Belanda itu.

Pada Februari 1946, CPN menyelenggarakan demonstrasi di Amsterdam. Tokoh Sosial Demokrat Alderman Hufo de Dreu meminta Evie untuk berorasi mewakili PI. Evie menegaskan kata-kata yang tak diantisipasi de Dreu sebelumnya. “Rakyat Belanda, apakah kalian siap mengakui hak menentukan nasib sendiri rakyat Indonesia?” ujar Evie yang setelah itu dikenal sebagai orator lantang sejak itu.

Pada Desember 1946, Evie pulang ke Indonesia. Setahun berikutnya dia menikahi Marangi Siantoeri, koleganya di PI.

Perempuan yang dijuluki Sukarno sebagai Henriëtte Roland Holst (penyair dan tokoh komunis) dari Indonesia itu meninggal pada 27 Agustus 2016 di Jakarta.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Windu Jusuf
DarkLight