Kisah Dua Komunis Kristen dari Minahasa yang Melawan Kemiskinan

Oleh: Petrik Matanasi - 25 Desember 2020
Dibaca Normal 2 menit
Thomas Najoan dan Giroth Wuntu tidak memisahkan komunisme dengan ajaran Kristus. Keduanya juga berjuang melawan kemiskinan.
tirto.id - Hingga hari ini banyak orang Indonesia yang masih menganggap orang-orang komunis adalah kaum anti-Tuhan. Mereka yang beranggapan macam itu biasanya mengabaikan fakta bahwa di antara orang-orang komunis ada pula yang religius dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan.

Propaganda Orde Baru tidak bisa menerima fakta jika ada seorang dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang rajin salat seperti Hasan Raid atau yang rajin ikut kebaktian macam Giroth Wuntu. Ada juga fakta lain seperti banyaknya haji dan orang Islam yang ikut pemberontakan PKI 1926 lalu dibuang ke Boven Digoel.


Giroth Wuntu: Dari KNIL sampai Komunis

Giroth Wuntu (1920-2010) berasal dari tanah Minahasa yang subur. Buku Menembus Tirai Asap: Kesaksian Tahanan Politik 1965 (2003: 115) menyebut di usia 18 tahun pada 1938, Giroth “jual kapala” dengan masuk dinas tentara kolonial Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlandsche Indisch Leger (KNIL). Jadi tentara KNIL alias serdadu kompeni di zaman itu sebetulnya sama saja dengan jadi anggota TNI saat ini. Sama-sama tentara profesional yang digaji oleh negara.

Kemiskinan telah membuat Giroth hanya bisa sampai kelas empat di sekolah yang seharusnya dia jalani lima tahun. Orang tua Giroth juga sakit-sakitan. Ayahnya, William Wuntu, adalah seorang peladang dan ibunya merupakan penganyam tikar rotan. Dari 13 anak yang dilahirkan ibunya, hanya empat yang bertahan hidup hingga dewasa.

Giroth muda dilatih jadi awak meriam artileri KNIL di Cimahi lalu dikirim ke Palembang. Ketika Perang Dunia II pecah, Giroth berada di Jakarta. Ia sempat ditugaskan di Cirebon dan Indramayu sebelum ditawan di Bandung sejenak. Ia berhasil kabur dan bersembunyi di sekitar Gunung Ciremai.


Setelah 1945, Giroth sebetulnya mau-mau saja mendukung Republik yang penuh dengan ketidakpastian, namun dia dipaksa masuk KNIL. Serdadu KNIL yang diam-diam mau mendukung Republik Indonesia tentu bukan cuma Giroth. Dukungannya kepada Republik pernah membuatnya masuk penjara.

Di dalam penjara, Giroth bertemu Jan Dengah yang memperkenalkannya kepada suatu jalan baru bernama komunisme. Jika menjadi KNIL hanya bisa melawan kemiskinannya sendiri, maka menjadi komunis membuatnya melawan kemiskinan kolektif. Giroth cocok di jalan itu.


Rupanya Giroth Wuntu yang besar dalam tradisi Kristen, seperti kebanyakan orang Minahasa, menemukan kecocokan antara komunisme dengan kristen. “Saya gabungkan pengertian dari kitab suci dengan maksud Karl Marx. Memang itu bisa digabungkan,” kata Giroth Wuntu dalam Menembus Tirai Asap (hlm. 119). Giroth mendapat julukan "Komunis Yesus". Begitulah jalan Giroth Wuntu melawan kemiskinan.

Koleganya, Ben Wowor, sangat percaya Giroth Wuntu tetaplah seorang Kristen. Giroth bukan satu-satunya komunis yang dikenal Ben. Masih ada beberapa yang lain di sekitar Manado. Ben berkeyakinan mereka bukan orang yang jauh dari Tuhan. “Mereka percaya pada Tuhan,” kata Ben kepada Tirto.

Najoan, Pengkritik Pemerintah Kolonial

Giroth Wuntu bukan satu-satunya komunis yang Kristen. Seorang Minang bernama Sutan Sjahrir adalah saksi bahwa ada seorang Kristen komunis lain dari Minahasa. Orang yang dimaksud Sjahrir adalah Liantoe alias Thomas Najoan (1893-1942).

“Seorang manusia yang baik, berbudi luhur dan berpendidikan. Rasa humanitasnya yang besar berasal dari etika agama Kristen; ia seorang Manado dan berasal dari keluarga Kristen. Selain itu, ia salah seorang sosialis Indonesia yang pertama-tama, mulai dari zaman Sneevliet dan Baars. Sebelum itu ia ikut partai Douwes Dekker yang disebut Indische Partij. Rupanya ia sangat menderita,” tulis Sjahrir dalam Renungan dan Perjuangan (1990: 145).

Sebagai seorang Kristen, Najoan dianggap seperti Nabi Isa atau Yesus yang punya kepedulian kepada orang lain.


Infografik Komunis komunis Kristen Melawan Kemiskinan
Infografik Komunis komunis Kristen Melawan Kemiskinan. tirto.id/Fuad


Thomas Najoan, yang berpendidikan cukup baik di zamannya itu, pernah jadi buruh di Lindeteves, tapi hanya sebentar karena dipecat. “Ia kehilangan pekerjaan lantaran membantu gerakan saudaranya,” tulis koran Sinar Hindia (9/12/1919). Soe Hok Gie dalam Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang, 1917–1920 (1999) menyebut, “Peristiwa‐peristiwa yang dialami Najoan (kemiskinan dan pemecatan) juga telah membawanya ke jalan sosialisme.”

Tidaklah mengherankan bahwa Najoan terlibat gerakan buruh di Jawa bersama Soerjopranoto si Raja Mogok. Di awal 1920-an, Najoan jadi bahan pemberitaan media. De Indische Courant (22/10/1923) menyebut Najoan adalah sosok yang getol mengkritik pemerintah. Bagi Najoan, pemerintah kolonial tak pernah punya uang untuk pendidikan dan guru, tapi mereka selalu punya uang untuk membeli peluru.


Sebagai bagian dari PKI di tahun 1920-an, Thomas Najoan adalah salah satu orang yang terciduk aparat kolonial. Najoan kemudian dibuang ke Boven Digoel hingga kematiannya yang misterius pada 1942 di dalam pelariannya. Najoan termasuk orang yang enggan menyerah kepada pemerintah kolonial meski dirinya terkurung. Kabur menjadi bentuk perlawanannya di pembuangan.


Di Minahasa yang tanahnya subur, komunis tidak berkembang subur. “Orang Minahasa itu kaya,” kata Roger Allan Kembuan, sejarawan Universitas Sam Ratulangi, kepada Tirto. Orang miskin seperti Giroth Wuntu tentu bukan mayoritas.

Baca juga artikel terkait NATAL 2020 atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight