Kisah Andi Sose, Putra Bangsawan Enrekang yang Diuntungkan Revolusi

Oleh: Petrik Matanasi - 29 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Andi Sose, panglima laskar dari Sulawesi Selatan, memilih bergabung dengan TNI dan jalan jadi pengusaha pun terbuka lebar.
tirto.id - Sosok Andi Sose sangat dikenal di sekitar Makassar, Enrekang, dan Tana Toraja. Mantan pejuang Angkatan 45, pengusaha kaya di masa lalu, orang tua nan dermawan—begitulah Andi Sose dikenal saat ini. Sose yang kini sepuh memiliki beberapa yayasan. Hartanya masih banyak, meski banyak perusahaan miliknya yang dijual. Ia punya banyak anak dari beberapa istri dan di antaranya ada yang terjun ke dunia politik.

Sose berasal dari kampung bernama Sossok di kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, pusat keramaian dan menjadi jalan poros antara Tana Toraja dengan kabupaten dan kota-kota lain ke arah Makassar. Tak jauh dari kampung halaman Sose, ada daerah bernama Baraka yang pernah jadi markas Kahar Muzakkar pada 1950-an. Tidak jauh dari situ, ada suatu tempat yang disebut Alla—pernah menjadi daerah perlawanan Pong Tiku melawan pemerintaha kolonial Belanda.

Orang-orang di daerah kelahiran Sose lebih suka mengklaim sebagai "orang Duri"—digolongkan sebagai Massenrempulu (etnis-etnis yang bermukim di Enrekang). Mereka menganggap bukan orang Bugis meski selalu digolongkan demikian oleh orang-orang di luar Sulawesi Selatan. Sebagai etnis, Massenrempulu bukan termasuk etnis besar. Antropolog Christian Pelras dalam Manusia Bugis (2006) hanya menyebut Bugis, Toraja, Makassar, dan Mandar—etnis besar di Sulawesi Selatan ketika belum ada provinsi Sulawesi Barat. Agama yang dominan di daerah ini adalah Islam.

Ayah Sose adalah Puang Liu dan ibunya adalah Andi Sabbe. Puang adalah gelar terhormat di kawasan itu. Meski orang-orang di sana tak merasa sebagai orang Bugis, gelar bangsawan Bugis dipakai ibunda Sose serta Sose sendiri. Puang Liu, kepala masyarakat di daerahnya, tidak berbeda sebagai raja kecil. Banyak kerajaan di luar Pulau Jawa adalah kerajaan-kerajaan kecil. Sose lahir pada 15 Maret 1930. Setelah belajar di Volkschool (sekolah rakyat yang cuma tiga tahun) di Anggeraja, Sose melanjutkan ke Schakelschool (sekolah rendah lanjutan) di Makale, Tana Toraja.


Terkait masa kecilnya, dalam autobiografi yang disusun Misbahudin Ahmad berjudul 70 Tahun Haji Andi Sose: Dari Revolusi ke Militer, Wiraswasta, dunia sosial sampai Reformasi (2000), Sose bercerita bahwa ia bergaul dengan anak dari semua kalangan dan "[…] hobi berjalan kaki ke tempat yang jauh, mendaki gunung, memanjat tebing, berenang."

"Bila bertemu anjing, saya gemar mengusiknya supaya menggonggong, jika bertemu kambing, saya ganggu supaya mengembik,” aku Sose.

Sekolahnya tak berjalan mulus. Di kelas 2, Jepang datang. Setelah itu, Sose pindah ke Makassar untuk pendidikan yang lebih baik meskipun berantakan. Sose sempat belajar sekolah menengah yang disebut Tokubetsu Chugakko. Kawan-kawan sekolahnya antara lain Maulwi Saelan dan Andi Galib.

Sose tak lama di sekolah karena Jepang keburu kalah. Di masa revolusi, Sose kemudian masuk SMP Nasional—yang dibina Sam Ratulangi—di Jalan Gowa (kini Jalan Sam Ratulangi) Makassar. Mereka yang pernah jadi guru Sose di antaranya Manai Sophian (politikus PNI dan ayah dari aktor Sophan Sophian) dan Sjamsudin (ayah dari Ma’ruf dan Sjafrie Sjamsoedin). Sose mondok di rumah Sjamsudin dan ikut bantu-bantu di rumah itu. Murid paling sohor di SMP Nasional adalah Wolter Mongisidi. Tak heran jika Sose bangga bersekolah di tempat itu.

Waktu pecah revolusi, Sose terlibat bersama anak muda lain. Ia pernah ikut pasukan laskar pimpinan Daeng Bahang. Pasukan ini kemudian menjadi "Harimau Indonesia." Menurut Radik Djarwadi dalam Surat Dari Sel Maut: Kisah Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi (1960), Sose termasuk anggota penting Laskar Harimau Indonesia yang dipimpin Mongisidi. Ia juga bergabung dengan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) melawan tentara Belanda. Nama Sose tercatat pada Tugu Harimau di tengah Kota Makassar.


Sose gerilya di sekitar daerah asalnya. Puang Liu, seperti digambarkan Sose dalam autobiografinya, sangat membantu Sose dan pasukannya ketika bergerilya melawan tentara Belanda saat revolusi. Bagi beberapa bangsawan Bugis, revolusi 1945 hingga 1949 barangkali jadi waktu tepat untuk balas-dendam melawan Belanda kembali setelah La Pawawoy, raja Bone, ditangkap Belanda dan banyak bangsawan Bugis dilumpuhkan.

Pamannya Puang Tambone ikut gerilya, meninggalkan posisinya sebagai zelfbestuur (pejabat Belanda). Daerah pegunungan Enrekang jelas sangat bagus menjadi tempat gerilya melawan Tentara Belanda. Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang personelnya terbatas hanya bisa bergerak di sekitar kota-kota kecil Sulawesi Selatan. Mereka tak mampu menembus pegunungan tempat gerilyawan bersembunyi.

Sose berhasil menghimpun banyak pejuang di masa gerilya itu. Ia menjadi komandan Laskar Harimau Indonesia daerah Enrekang utara. Setelah pasukannya kuat, Sose bergerilya ke selatan Kota Enrekang.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, dan Negara Indonesia Timur dibubarkan, Pasukan Sose mulai turun gunung. Rambut Sose memanjang dan kumisnya lebat. Program pemerintah soal reorganisasi dan rasionalisasi tentara memasukkan pasukan Sose sebagai Corps Tjadangan Nasional. Setelah berontak dan masuk hutan bersama Kahar Muzakkar, pasukan Sose diakui dalam Tentara Nasional Indonesia.


Infografik HL Indepth Warlord Toraja

Menjadi Perwira yang Terlibat Bisnis

Andi Sose diangkat oleh pemerintah Indonesia sebagai kapten pada 4 Maret 1952 dan menjadikannya komandan Batalyon 720. Ia memiliki wewenang teritorial militer di daerah Parepare, Sidrap, Wajo, Pinrang, dan Enrekang. Di masa jadi komandan pasukan inilah Sose terlibat bisnis. Dan bisnis membuat Sose kaya.

Menurut Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII (1989), Sose tak terikat pada satu wilayah. Ia bisa mengirim hasil bumi di sekitar Tana Toraja; beras dari Wajo dan kopra dari Parepare . Meski dicurigai masih berhubungan dekat dengan Kahar, menurut Harvey, Sose telah berusaha ikut menyelesaikan masalah Kahar dengan pemerintah pusat.

Bersama Andi Rivai dan Azis Taba, Sose pernah ikut mengatur pertemuan dengan Kahar untuk mengakhiri permusuhan. Lebih lanjut, Harvey menulis, "Andi Sose tidak terlalu menonjol. (Ia masih hidup, jadi orang mungkin lebih hati-hati dalam mengemukakan cerita mengenai dia). Kata orang ia telah menegakkan disiplin yang ketat di wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaannya; perintah-perintahnya ditaati. Tetapi, ia sendiri menafsirkan perintah atas sekehendak hatinya sendiri.”


"Selama bertahun-tahun ia mencapai persetujuan dengan para pemimpin Darul Islam setempat, yang pada hakikatnya merupakan gencatan senjata. Sebagai komandan yang lama berkuasa di daerah Tanah Toraja, terorisme yang ditimbulkannya terhadap rakyat di sana adalah sebab langsung dari peristiwa dalam tahun 1953 dan 1958,” tulis Harvey.

Sose, seperti juga pemimpin laskar lain macam Andi Selle, terbilang betah dengan posisinya di "pangkuan Ibu Pertiwi". Mereka berdua dicurigai punya bisnis sekaligus tetap berhubungan dengan pasukan Kahar Muzakkar.

Pihak petinggi TNI tak tinggal diam. Mereka berusaha digeser dengan memindahkan Andi Sose dari Parepare dan Andi Selle dari Polewali ke staf Kodam di Makassar. Sose akan dijadikan asisten satu (Intelijen) dan Selle sebagai asisten tiga (personel). Namun, baik Sose maupun Selle tak pernah benar-benar memegang posisi itu.


Demi kelancaran operasi penumpasan Kahar Muzakkar dan pengikutnya, Panglima Kodam Hasunuddin M. Jusuf menjauhkan Sose dari jangkauan Kahar. Antara tanggal 5 April dan 15 April 1964, Sose diperintahkan ke Jakarta dan ditahan tanpa pernah diadili. Kekayaan Sose pun disita. Semua bisnisnya diambil alih Kodam Hasanuddin.

Sose baru dibebaskan pada 1965 setelah Kahar dikabarkan terbunuh. Belakangan ia pensiun dengan pangkat brigadir jenderal. Kemudian, terjun ke dunia bisnis sepenuhnya. Ia makin kaya sebagai pimpinan dari Bank Marannu. Kelebihan uang membuatnya jadi dermawan di Sulawesi Selatan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan