Kisah Andi Selle, Warlord Tajir dari Mandar yang Cepat Tergelincir

Oleh: Petrik Matanasi - 29 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Andi Selle bersikap royal terhadap pasukannya, tewas dalam operasi penyergapan yang dipimpin M. Jusuf sesama putra Sulawesi.
tirto.id - Andi Selle adalah keturunan bangsawan Bugis di sekitar Kota Pinrang, Sulawesi Selatan. Sejarawan Anhar Gonggong dalam satu kesempatan pada 2013 mengaku juga adik dari Andi Selle. Ayah mereka terbunuh dalam pembersihan pasukan Kapten Raymond Westerling—yang disebut Belanda sebagai Kampanye Pasifikasi.

Selle dikenal karena reputasinya sebagai warlord di Mandar, daerah Sulawesi bagian barat. Dan akhir hidupnya berakhir tragis dalam Peristiwa Pinrang pada 5 April 1964 ketika Selle bertemu Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel M. Jusuf.

Selle lahir pada 1925 di Pinrang. Ia pernah belajar di sekolah dasar Islam, lalu sekolah guru Noormalschool di Mandar. Pada 1941, ia menjadi kepala Desa Kariangau. Di masa revolusi, antara 1945 hingga 1946, Selle termasuk pembentuk dan pemimpin Barisan Pemberontak Republik Indonesia bersama Abdullah Bau Massepe di Parepare.

Ia sempat berangkat ke Jawa antara 1947 hingga 1949. Pada 1950-an, ia kembali lagi ke Sulawesi Selatan. Setelah Bau Massepe terbunuh oleh militer Belanda, nama Andi Selle dapat tambahan Mattola. Menurut Anhar Gonggong, Mattola artinya "menggantikan"—dalam hal ini menggantikan posisi Bau Massepe.

Setelah pengakuan kedaulatan, ia memimpin Batalyon Bau Massepe, bagian dari Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) pimpinan Kahar Muzakkar. Pasukan Kahar ini pernah menjadi bagian dari Corps Tjadangan Nasional (CTN). Setelah Selle melarikan diri ke hutan bersama pasukannya mengikuti Kahar Muzakkar, datang tawaran padanya dan pasukannya untuk dijadikan TNI. Di ketentaraan ini ia menjadi perwira menengah dengan pangkat mayor dan memimpin bekas pengikutnya dalam Batalyon 719.


Di masa-masa jadi komandan pasukan itulah, menurut Harvey, Selle terlibat bisnis. Andi Sele menguasai daerah Polewali, Mamasa, Mamuju, dan Majene. Ia dan keluarganya menguasai monopoli perdagangan beras dan kopra. Sementara Andi Sole, koleganya sesama pejuang laskar, menguasai daerah Parepare dan Pinrang.

Anhar Gonggong dalam Abdul Qohar Muzakkar (2004) menulis bahwa meski daerah Pinrang di bawah kekuasaan Andi Sose, tetapi pada kenyataannya di bawah Andi Selle. Alasannya historis, keluarga Selle adalah keturunan penguasa Pinrang. Sementara Sose tak terikat pada satu wilayah; bisa mengirim hasil bumi di sekitar Tana Toraja.

Christian Pelras dalam Manusia Bugis (2006) menyebut Andi Selle punya peran sejarah dalam penanaman kakao. “Percobaan perkebunan kakao tampaknya pertama kali dilakukan pada akhir 1960-an di Mamuju, yang saat itu di bawah pemerintahan Andi Selle, seorang warlord yang terkenal karena inisiatif usaha perekonomian mandiri, serta hubungan dagang yang dia terakan dengan Sabah, Malaysia.” Dakade berikutnya, pada 1970-an, sebagian daerah di Sulawesi Selatan mengalami boom kakao.

Baik Andi Selle dan Andi Sose tetap berhubungan dengan Kahar Muzakkar—yang jadi musuh pemerintah karena dicap "pemberontak" mendeklarasikan Darul Islam.

Hubungan Selle dan Kahar hanya sebatas hubungan dagang. Lewat Selle, yang menguasai daerah pelabuhan, Kahar bisa memperoleh senjata dan pakaian untuk pasukan gerilya. Kepada Selle, Kahar mengirimkan bahan-bahan mentah dari daerah gerilya. Intinya, seperti ditulis Harvey, “Selle dianggap sumber utama suplai barang bagi pasukan Darul Islam.”

Alasan Selle berbisnis setelah jadi perwira karena sewaktu bergerilya demi Republik Indonesia, ia telah melupakan keluarga hingga telantar. Ia berharap keuntungan bisnisnya bisa menutupi serba kekurangan ekonomi keluarganya, selain demi kesejahteraan para prajuritnya.

Infografik HL Indepth Warlord Toraja


Kaya dari Berbisnis dan Mati Tragis

Sebagai penguasa perang alias warlord, Selle punya pasukan yang ditakuti rakyat sipil. Pernah kejadian, dua anak buah Selle yang sedang mabuk berbuat onar di satu pesta perkawinan. Dua anak buah Selle itu diamuk massa.

"Kekacauan itu membuat salah seorang prajurit itu terbunuh, [sementara] yang satunya terluka tapi bisa kembali ke barak. Solidaritas buta kawan-kawan dua serdadu mabuk yang naas itu pun bergerak. Mereka datangi lokasi pesta. Pembantaian terjadi...,” tulis Harvey.

Banyak orang di kawasan Mamasa, yang mayoritas Kristen, menderita di bawah panglima Selle. Dedy Christo Anderson, dalam tesisnya Perlawanan Rakyat Mamasa terhadap Batalyon 710 (2018), mendengar cerita lisan dari kakeknya—yang memimpin pasukan dari Desa Orobua—tentang pembakaran rumah, pemerkosaan, dan pembunuhan oleh pasukan Selle. Di bawah komando Organisasi Pertahanan Desa atau Organisasi Pertahanan Rakyat, orang-orang bersenjata tradisional ini melawan pasukan Selle.

Menurut Dedy, warga mendapatkan juga senjata api dari Pappang—pemimpin perlawanan rakyat Toraja yang sukses mengusir panglima Andi Sose pada 1953. Jenis senjata itu antara lain LE, Arisaka, M1-Corbine, dan granat. Mereka kerap menyerukan nama Toraja demi menggertak moral pasukan Selle. Dedy mencatat ada orang Mamasa yang menjadi anggota Batalyon 710, di antaranya Sersan Barend dan Livinus. Keduanya kemudian bergabung dengan warga desa dan melawan pasukan Selle.

Tak sulit bagi Selle membangun pasukan yang ditopang lewat bisnisnya. Umumnya satu batalion terdiri 1000-an orang. Namun batalion yang dipimpin Selle lebih dari jumlah lazim itu.

A. Rasyid Asba dalam Kopra Makassar Perebutan Pusat dan Daerah (2007) menyebut dari laba bisnisnya, “Andi Selle membangun batalion berjumlah kurang lebih 3.000 personel (setara 3 batalion), membangun perumahan perwira, bintara dan tamtama, membeli senjata berat dan ringan, membeli kendaraan, menyumbang persatuan istri tentara.”

Sebagai orang tajir pada era 1950-an hingga awal 1960-an, Selle juga terbilang sosok royal. “Dia bisa seenaknya memberikan jam tangan begitu saja kepada gadis-gadis cantik yang dia lihatnya di Kota Makassar,” tulis Harvey.

TNI menaruh curiga kepada Andi Selle karena aktivitas bisnis dan kedekatannya dengan Kahar Muzakkar. Ia diperintahkan untuk pindah tugas ke Kodam di Makassar tetapi ogah-ogahan, notabene bakal membuatnya jauh dari uang meski bakal naik jabatan.



Ketika Kolonel M. Jusuf menggantikan Kolonel Andi Mattalata sebagai panglima Kodam Hasanuddin, militer makin bertindak keras kepada Kahar Muzakkar. Jusuf mengerahkan pasukan dari luar Sulawesi Selatan, seperti dari Batalyon 330/Siliwangi. Tujuannya mengisolasi Kahar dan pengikutnya dari hubungan bisnis dengan para penguasa di pelabuhan.

Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit (2006) menyebut bahwa Jusuf berniat mengajak Selle dalam satu pertemuan "agar kembali ke jalan yang benar."

"Sebagai putra Sulawesi, saya ingin mengajaknya baik-baik untuk bersama-sama membangun Sulawesi,” ujar Jusuf.

Jusuf datang ke Pinrang dari Kota Makassar pada 5 April 1964. Menempuh perjalanan 184 km, Jusuf pergi bersama Corps Polisi Militer dan pasukan dari Siliwangi. Pertemuan itu semula berjalan baik, tulis Anhar Gonggong (2004). Jusuf dan Selle kemudian naik mobil sedan yang dibawa Jusuf dari Makassar.

Mobil itu semula hendak ke rumah Bupati Pinrang Haji Andi Makassau. Dalam perjalanan, mobil itu malah melaju ke arah Parepare. Pertemuan itu jadi kacau. Pertempuran terjadi. Kolonel CPM Sugiri terbunuh dalam insiden tersebut.

Banyak sumber menyebut pasukan Selle menyerang rombongan Jusuf. Konon Selle yang memberi perintah, “Tembak panglima!” Meski mobil hancur, Jusuf selamat. Apes justru dialami Selle, yang kemudian kabur dan meninggal dalam pelarian.

Insiden itu mendorong "operasi militer yang teramat keras" terhadap Selle dan pengikutnya. Dari sekitar Gunung Latimojong, yang berada di tengah Sulawesi Selatan dan terletak di Enrekang, pasukan Batalyon 330/Siliwangi diarahkan ke arah Polewali Mandar. Selle meninggal setelah penyergapan di Sungai Mamasa pada 30 Agustus 1964. Pada September, jenazahnya baru ditemukan lalu diserahkan ke pihak keluarga pada 14 September 1964.

Selle dinyatakan dipecat dengan tidak hormat dari TNI. Pangkat terakhirnya adalah letnan kolonel. Hartanya disita oleh negara. Operasi Jusuf setahun kemudian mendapatkan buruan besar: Kahar Muzakkar dinyatakan terbunuh pada Februari 1965. Baik Kahar Muzakkar maupun Andi Selle menjadi legenda dalam ingatan para orang tua saat mengenang Sulawesi Selatan pada zaman susah dan revolusi tersebut.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan