23 Januari 1950

Kisah Adolf Lembong Bergerilya di Filipina dan Gugur di Bandung

Oleh: Petrik Matanasi - 23 Januari 2021
Dibaca Normal 4 menit
Perjalanan hidup Adolf Lembong dari Filipina, Yogyakarta, sampai Bandung. Jagoan gerilya ini menjadi korban keganasan pasukan APRA pimpinan Westerling.
tirto.id - Sebelum ditawan tentara Jepang, Adolf Gustaaf Lembong adalah operator radio KNIL. Lembong yang berasal dari Minahasa itu oleh Jepang dijadikan anggota heiho (pembantu tentara). Bersama sejumlah tawanan lain, mereka dikirim ke wilayah dekat medan pertempuran Perang Pasifik.

Mula-mula mereka dikirim ke Rabaul, Papua Nugini. Beberapa hari kemudian baru pindah ke Luzon, Filipina. Setelah terjalin kontak dengan gerilyawan Filipina dan tentara Amerika Serikat, Lembong dan anggota heiho lainnya kabur dari kamp tentara Jepang.

Selama di Filipina, Lembong menulis laporan perjalanan gerilyanya yang diketik dalam bahasa Inggris. Laporan tersebut diarsipkan oleh intel Belanda, Netherland Forces Intelligence Service (NEFIS), yang kemudian disimpan di Arsip Nasional Belanda di Amsterdam. "Laporan kegiatan gerilya Adolf Lembong (Letnan Satu LGAF USAFFE) Agustus 1943 hingga April 1945", demikian judul catatannya.

Selain laporan itu, NEFIS juga mengkliping artikel tentang Adolf Lembong yang ditulis Arsenio Lacson dengan judul "Inside Indonesia". Artikel ini dimuat dalam surat kabar Manila Times edisi 15 November 1948.

Bukan Jago Kandang

“Jangan berkecil hati. Milikilah harapan dan terus berjalan, dan jangan bertanya ke mana kita akan pergi! Waktunya akan datang dan tujuan kita akan tercapai,” kata perwira Amerika Serikat saat pertama kali bertemu dengan Lembong dan kawan-kawannya sesama heiho.

Selama bergerilya, Lembong dan kawan-kawannya kerap ditolong oleh orang-orang Filipina. Apalagi dia sering menyamar sebagai penduduk lokal. Hal tersebut perlu dilakukan saat memasuki desa dan kota karena di sana banyak tentara Jepang berkeliaran. Sekali waktu--dalam penyamarannya--Lembong mengaku sebagai penjaga kampung saat tentara Jepang memeriksanya. Di lain kesempatan, dia pernah juga menyamar sebagai kondektur kereta api.

Karena matanya agak sipit dan kulitnya putih, Lembong bahkan sering dikira sebagai orang Jepang. Namun di sisi lain, tampilan fisiknya itu nyaris mencelakakannya. Dia hampir dibunuh karena disangka mata-mata Jepang.

“Saya Adolf Lembong bekas tentara Belanda,” ungkapnya kepada orang-orang Filipina yang mencurigainya. Maka dia pun semakin dekat dengan orang-orang Filipina dan sempat dipercaya untuk memimpin sebuah regu gerilya.

Nama Lembong semakin diperhitungkan para gerilyawan Filipina setelah dia terlibat adu tembak dengan serdadu Jepang dan berhasil merobohkan sejumlah serdadu musuh. Setelah kejadian itu, dia dipercaya oleh komandan gerilya tentara Amerika Serikat di Filipina, Kapten Robert Lapham.

Lembong kemudian diberi pangkat Letnan Dua dengan jabatan sebagai instruktur, lalu merangkap perwira intelijen. Beberapa bulan kemudian, dia diangkat sebagai komandan Squadran 270. Pasukannya adalah orang-orang Minahasa yang ikut kabur bersamanya ditambah beberapa orang Filipina.

Sekali waktu, Lembong beserta pasukannya menyergap rombongan serdadu Jepang yang melintas di Jalan San Leon. Dia disertai sembilan gerilyawan yang semuanya orang Manado dan bekas KNIL. Pada 6 Januari 1945, mereka mula-mula mengepung gedung pusat makanan dan peralatan Jepang yang kebetulan sedang tak dijaga.

“Kemenangan untuk semua!” teriak Lembong dan kawan-kawannya setelah mengambil semua bahan pakaian dan makanan dari gudang tersebut.

Esok harinya, 7 Januari 1945, barulah mereka melancarkan maksudnya yakni menyergap sebuah truk berisi serdadu-serdadu Jepang dan membunuh 27 personel. Sementara Lembong dan pasulannya tak ada satu pun yang menjadi korban. Selain Lembong, orang-orang Manado yang terlibat dalam penyergapan truk itu adalah Alexander Rawoeng, Jan Pelle, Marcus Taroreh, Marthin Sulu, Alexander Kewas, Albert Mondong, Hendrik Terok, Andries Pacasi, dan William Tantang.

Setelah Squadron 270 dibubarkan, pangkat Lembong nail jadi Letnan Satu. Dia ditempatkan di Batalion Pertama Infanteri APO 6, di bawah komando Letnan Kolonel Francis Corbin.

“Aku menyebutnya Crack Battalion karena batalion ini selalu berani berhadapan langsung dalam posisi tembak tentara Jepang,” kata Lembong. Maksudnya, pasukan ini terus bergerak bahkan maju meskipun ada tembakan senapan mesin, artileri, juga sniper dari tentara Jepang.

Pada masa-masa gerilya inilah Lembong bertemu dengan jodohnya yang juga seorang gerilyawan asal Filipina yang sering membantu gerilyawan Minahasa. Namanya Asuncion Angel atau Cion. Mereka menikah pada 26 Oktober 1944. Cion setia menemani Lembong dan ikut pulang ke Indonesia.


Bergabung dengan Republik

Jelang kekalahan Jepang pada Perang Dunia II, Lembong keluar dari kelompok gerilya di Filipina. Dia tetap ingat kampungnya di Amurang, Sulawesi Utara, yang masih di duduki Jepang. Pada Juli 1945, Lembong mengajukan proposal penyusupan ke Sulawesi Utara kepada Sekutu.

“Jika aku jadi diterjunkan ke Minahasa dengan tujuan mengorganisasi kekuatan gerilya, aku akan mengambil beberapa orang dari beberapa distrik berbeda di Minahasa untuk ikut bergerilya bersamaku. Distrik-distrik itu adalah Manado, Tondano, Tonsea, Tomohon, Kawangkoan, dan lainnya,” usul Lembong.

Dia juga berencana melibatkan kawan-kawannya sesama orang Manado dan eks KNIL yang ikut gerilya di Filipina.

“Tim akan masuk ke Minahasa dengan tidak bersenjata dan disamarkan sebagai orang sipil biasa, orang-orangku setelah mendarat akan pergi ke kampung halaman untuk memantau situasi saat itu, menghubungi orang-orang sipil lain yang mau sukarela bergabung dengan gerilya KNL,” imbuhnya

Dalam usulannya, Lembong juga minta dibekali senjata api, radio, granat tangan, dan logistik lainnya. Namun, rencana gerilya ini tak terlaksana sebab Jepang keburu menyerah. Dia kemudian bertemu dengan seorang perwira KNIL di Filipina dan kembali bergabung dengan kesatuan itu.

“Januari 1947, Belanda kembali ke Hindia dengan membonceng pasukan Inggris, Lembong diperintahkan kembali ke Batavia,” tulis Arsenio Lacson dalam "Inside Indonesia" yang dimuat di Manila Times edisi 15 November 1948.

Hingga Juli 1947, Lembong masih sebagai Letnan KNIL. Dia baru bergabung dengan Republik setelah beberapa wilayah Republik diduduki tentara Belanda di bawah komando Letnan Jenderal Spoor dalam Agresi Militer Belanda I.

“21 Juli 1947, ketika tentara Belanda melanggar Kesepakatan Linggarjati, menyerang wilayah Republik Indonesia, Lembong menyeberang dan melawan agresor Belanda mempertahankan Ibu Pertiwi tanah airnya,” tulis Arsenio Lacson.

Infografik Mozaik Adolf Lembong
Infografik Mozaik Asal-Usul Jalan Lembong. tirto.id/Sabit


Pada paruh kedua tahun 1948, Arsenio yang bekas gerilyawan Filipina dan belakangan pernah jadi Walikota Manila, mengunjungi Lembong di Yogyakarta.

“Sekarang, Adolf Lembong, salah satu Letnan gerilya Filipina, memegang komando sebuah Brigade Tentara Indonesia, menanjak dari Kapten ke Mayor lalu ke Letnan Kolonel. Seperti Tentara Republik Indonesia yang lain, satuan-satuan seperti brigade berisikan anak-anak muda, veteran yang teruji dalam pertempuran sulit, ahli teknik peperangan gerilya,” tulis Arsenio.

Pada wartawan itu, Lembong mengaku sedih tapi juga menunjukkan keberanian karena TNI tak punya cukup senjata.

“Kami hanya tentara miskin. Tetapi jika Belanda menyerang kami, kami akan bertempur. Kami akan memecah dalam kelompok kecil. Tak ada komunikasi teratur, melakukan sabotase, dan taktik bumi hangus. Kami akan membuat mereka merasakan apa yang Balatentara Jepang rasakan di Filipina,“ ujar Lembong.

Saat itu, Cion, istrinya, tengah mengandung. Dan ketika ia ditanya apa yang akan dilakukannya jika Belanda menyerang dan perang pecah lagi, ia menjawab, “Aku akan bersama suamiku ketika perang tiba, jika perlu aku harus jadi gerilyawan lagi.”

Pada September 1948, Lembong diculik oleh anak buah Kahar Muzakkar. Pasukan yang dipimpin oleh Mas'ud itu menangkap Lembong di Markas Brigade di sekitar Sayidan, Yogyakarta. Lembong dan stafnya kemudian dibawa penculik Klaten. Hal ini membuat Kapten Vintje Sumual bergerak untuk membebaskan komandannya. Dan berkat campur-tangan Presiden Sukarno, ketegangan pun mereda. Lembong akhirnya dilepaskan.

Tanggal 28 November 1948, posisi Lembong sebagai Komandan Brigade digantikan oleh Joop Warouw. Lembong kemudian ditempatkan sebagai perwira staf di Markas Besar Tentara. Dia sempat direncanakan akan dijadikan atase militer Indonesia di Filipina, dengan Sam Ratulangi sebagai duta besarnya. Tujuannya adalah untuk mengorganisasi pembebasan Sulawesi Utara dari pendudukan tentara Belanda lewat Filipina.

Namun, rencana itu tak terwujud. Pada 19 Desember 1948, tentara Belanda menyerang Yogyakarta yang menjadi ibukota Republik Indonesia. Para pejabat tinggi Republik yakni Sukarno, Hatta, Agus Salim, dan lainnya ditawan.


Atas serangan itu, Lembong yang sudah tidak punya pasukan tadinya akan ikut bergerilya. Tetapi niatnya dihalangi oleh Vintje Sumual yang saat itu telah berpangkat mayor.

“Kamu di sini saja. Tak perlu ikut kami mundur ke kampung,” kata Sumual.

“Kenapa saya tak boleh ikut? Kita ini tentara!”

“Sudahlah, ikuti saja saya punya nasehat,” paksa Sumual.

Dia akhirnya menuruti nasihat Sumual dengan bertahan di Yogyakarta. Maka dia pun akhirnya kena razia tentara Belanda dan ditawan di Ambarawa. Lembong baru bebas setelah Perjanjian Roem-Rojen.

Setelah penyerahan Kedaulatan, Lembong kembali bergabung dengan TNI. Pada awal 1950, dia mendapat tugas membangun pusat pendidikan militer di Bandung. Itulah kenapa pada pagi tanggal 23 Januari 1950, tepat hari ini 71 tahun lalu, Lembong berangkat ke Markas Divisi Siliwangi di Oude Hospital Weg atau Jalan Rumah Sakit Lama, dekat Jalan Braga.

Dia bersama Kapten Leo Kailalo sedari pagi sudah berada di dalam markas. Penjagaan di sana tidak kuat. Karena perang sudah lewat, maka baik Lembong maupun Leo tidak menduga akan ada sejumlah mantan KNIL yang mengamuk dan menyerang Bandung.

Mereka memasuki kota sambil menembaki anggota TNI yang mereka temui di jalan. Tak lama kemudian Markas Divisi Siliwangi pun mereka kepung. Desingan peluru di luar markas membuat Lembong dan Leo mencari tahu asal letusan senjata.

Nahas, melihat anggota TNI di depan mata, pasukan APRA pimpinan Westerling yang mengamuk dan luar biasa benci pada TNI/APRIS itu segara memberondongnya. Lembong dan Leo pun gugur bersimbah darah.

Belakangan, Markas Divisi Siliwangi itu dijadikan Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Dan Oude Hospital Weg diganti menjadi Jalan Lembong.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 9 Juli 2016. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight