Menuju konten utama

Kiat Sukses Finansial Bundesliga: Percaya kepada Penggemar

Bila Anda ingin sukses bikin kompetisi, kuncinya cuma satu: percaya kepada penggemar. Sepakbola Jerman membuktikannya.

Kiat Sukses Finansial Bundesliga: Percaya kepada Penggemar
Para pemain Bayern merayakan kemenangan Bundesliga ke-7 berturut-turut, Sabtu (18/5/2019). AP/Matthias Schrader

tirto.id - Tim nasional Jerman boleh saja gagal meneruskan capaian apiknya di kancah internasional, tapi tidak dengan liga domestiknya. Beberapa bulan silam, pengelola Liga Sepakbola Jerman (DFL) merilis laporan untuk publik. Isinya: pendapatan Bundesliga terus naik dari tahun ke tahun.

Dilaporkan Reuters, pada musim 2017-2018, dua divisi teratas Bundesliga berhasil mendapatkan cuan senilai €4,42 miliar (Rp71,1 triliun), naik lebih dari 10 persen dibanding tahun sebelumnya, serta menandai pertumbuhan selama 14 tahun berturut-turut.

“Sepakbola profesional Jerman telah melanjutkan perkembangan positifnya. Hal ini, terutama, didorong oleh pendapatan dari kontrak dengan media,” jelas Kepala Eksekutif DFL Christian Seifert. “Digitalisasi serta globalisasi akan membuka peluang baru bagi sepakbola profesional Jerman di tahun-tahun mendatang.”

Catatan Statista menyebut total pendapatan itu merupakan yang tertinggi sepanjang masa. Sumbernya berasal dari hak siar senilai €1,25 miliar dan iklan sebesar €872 juta. Sementara dari pertandingan menyumbang 14,12 persen serta aktivitas transfer berkontribusi sebanyak 16,93 persen.

Sponsor tetap menjadi sumber pendapatan utama bagi klub-klub Bundesliga, dengan perkiraan €180 juta pada musim 2018-2019. Bayern Munich, misalnya, menerima €35 juta dari kemitraannya dengan Telekom. Lalu ada VfL Wolfsburg yang memperoleh €20 juta lewat kesepakatan bersama Volkswagen.

Kuncinya Ada di Penggemar

“Fans Jerman, secara tradisional, memiliki hubungan dekat dengan klub mereka,” tegas CEO Borussia Dortmund Hans-Joachim Watzke. “Dan ketika mereka tak lagi dianggap sebagai penggemar melainkan sebatas konsumen, kami akan memiliki masalah.”

Di Jerman, para fans adalah salah satu jawaban utama mengapa kompetisi Bundesliga dapat menjadi besar—dan sustainable—sampai sekarang. Penggemar bukan semata sapi perah yang terus dikuras uangnya untuk menopang klub, namun juga menjadi pemilik yang dapat turut serta menentukan arah perjalanan.

Keterlibatan pendukung dalam mengelola klub diwujudkan melalui regulasi bernama “50+1.” Dengan regulasi ini, DFL menyediakan ruang bagi para penggemar untuk menjadi pemilik saham mayoritas sebanyak 51 persen. Sedangkan peran investor dibatasi secara proporsional. Mereka tak boleh memiliki saham klub lebih dari 49 persen.

Tujuannya jelas: penyelenggara Bundesliga tak ingin para investor membawa klub ke jurang kehancuran dengan pelbagai kebijakan yang dibikin tanpa perhitungan. Bagi pihak penyelenggara liga, klub memang dituntut untuk untung, tapi tidak dengan mengorbankan kepentingan penggemar.

Kepemilikan klub berdasarkan keterlibatan para penggemar ini berakar pada asal-usul klub itu sendiri. Kebanyakan klub Jerman berdiri sebagai organisasi nirlaba yang dijalankan asosiasi anggota.

Meski begitu ada beberapa klub yang jadi pengecualian seperti Bayer Leverkusen, Wolfsburg, dan Hoffenheim. Ketiga klub ini telah dimiliki investor selama lebih dari dua dekade. Oleh Bundesliga, mereka diberi kelonggaran untuk tidak menerapkan skema “50+1” sebab kepemilikan investor dirasa tidak mengusik kepentingan klub—tetap mengutamakan penggemar dan tak terlilit utang segunung.

“Bundesliga merupakan model pengelolaan keuangan dan tata pemerintahan—dalam skala lebih kecil—yang baik,” jelas ekonom olahraga dari University of Conventry, Inggris, Simon Chadwick, kepada ESPN. “ Apa yang tidak akan Anda jumpai di sini adalah investor datang membeli klub, mengumpulkan banyak utang, lalu meninggalkan klub dalam kesulitan.”

Aturan tersebut turut berpengaruh pada kebijakan klub lainnya. Di Bundesliga, Anda dapat menyaksikan pertandingan dengan harga tiket yang murah. Rata-rata tiket, lapor BBC, dibanderol sekitar £10. Bandingkan dengan di Inggris yang rata-rata harga tiketnya bisa mencapai £28. Bila Anda hendak membeli tiket musiman, Anda cukup merogoh £207—lebih rendah dua kali lipat dari tiket musiman Liga Inggris yang bisa menyentuh angka £468.

“Kami tidak berpikir para penggemar seperti sapi perah. Sepakbola harus untuk semua orang. Itulah perbedaan terbesar antara kami dan Inggris,” ungkap Presiden Bayern Munich Uli Hoeness.

Tiket yang terjangkau otomatis bikin banyak penggemar datang ke stadion. Bundesliga menjadi kompetisi dengan jumlah kehadiran penonton tertinggi dibanding kompetisi lainnya di Eropa—termasuk Inggris. Setiap akhir pekan, stadion-stadion di Jerman hampir terisi penuh, entah yang melibatkan pertandingan berstatus big match maupun medioker.

Tahun ini, mengutip data World Football, jumlah penonton yang hadir selama berlangsungnya kompetisi Bundesliga mencapai 13.295.405 di 306 pertandingan. Borussia Dortmund menjadi klub yang mendatangkan banyak penonton (1.373.940 dalam 17 pertandingan), disusul kemudian Munich (1.275.000), Schalke 04 (1.035.999), VfB Stuttgart (927.363), serta Eintracht Frankfurt (846.000).

Selain kepemilikan berbasis keanggotaan, yang bikin pengelolaan klub tambah sehat ialah tuntutan untuk tidak rugi di akhir kompetisi. Bila rugi, sebagaimana tertulis dalam aturan DFL (Lizenzierungsordnung), klub tidak akan bisa memperoleh izin berlaga di musim berikutnya.

Dalam “The Best League in the World?” yang dirilis di ESPN (2010), Leander Schaerlaeckens menjelaskan bahwa regulasi tersebut mau tak mau membuat klub berusaha keras untuk mengetatkan ikat pinggangnya. Dengan mengatur anggaran operasional secara hati-hati, klub bisa pula menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti biaya transfer yang tinggi sampai penunggakan gaji.

Walhasil, yang terjadi berikutnya merupakan capaian yang istimewa: sebagian besar klub-klub Bundesliga jauh dari utang. Dari 36 klub di dua level Bundesliga, hanya tiga yang dianggap punya rapor merah: Schalke, Dortmund, dan Hertha Berlin. Ini jelas berbanding terbalik, katakanlah, dengan klub-klub di Inggris, Italia, maupun Spanyol yang seringkali bergelut dengan utang bejibun.

Keadaan ini rupanya berpengaruh pada persaingan yang kompetitif antar klub. Meski Munich-Dortmund tetap berjaya, klub-klub lain di bawah mereka punya potensi besar untuk mengancam takhta. Anda tak percaya? Lihat saja bagaimana penentuan gelar juara Bundesliga musim lalu ketika publik dibuat menunggu sampai akhir kompetisi. Rivalitas untuk mendapatkan tiket ke Liga Champions pun juga tak kalah sengit.

Ihwal ketatnya kompetisi tersebut pernah diakui Sepp Herberger, pelatih yang membawa Jerman Barat juara Piala Dunia 1954. Ia bilang, “Anda tahu mengapa orang-orang [Jerman] pergi ke stadion? Karena mereka tidak tahu bagaimana hasil akhirnya.”

Pengelolaan klub yang sehat tak dapat dipungkiri menarik minat para sponsor. Mereka mampu berkompromi dengan aturan “50+1.” BBC mewartakan klub-klub Bundesliga memperoleh 55 persen dari total pendapatannya lewat kontrak bisnis dengan perusahaan-perusahaan lokal maupun internasional.

Dampak lain yang nyata terlihat adalah bagaimana klub-klub Bundesliga banyak mengalihkan perhatiannya pada pengembangan pemain muda. Mereka berlomba-lomba membikin akademinya moncer—memproduksi bakat-bakat yang kelak jadi tulang punggung klub maupun tim nasional. Hasilnya pun jelas: Jerman seperti tak pernah kehilangan talenta terbaiknya di setiap kategori usia.

Yang jadi ganjalan mungkin citra Bundesliga sendiri yang masih kalah pamor dengan liga lain ketika berada di luar Eropa. Di AS, misalnya, publik masih menganggap Liga Inggris sebagai kompetisi bola terbaik. Faktor pendukungnya ada dua: pemberian hak siar kepada NBC dan Comcast serta masifnya ekspansi klub Liga Inggris lewat sederet tur musim panas maupun kerja sama dengan MLS (Major League Soccer).

Ketika Inggris sudah menggarap pasar AS sejak lama, Bundesliga baru masuk ke Abang Sam pada empat tahun lalu, tatkala mereka meneken kontrak dengan FOX Sports. Harapannya, FOX bisa memberi saingan yang lebih besar kepada NBC. Sejauh mana hasilnya, sampai sekarang masih belum bisa dipastikan.

Infografik Kiat Sukses Finansial Bundesliga

Infografik Kiat Sukses Finansial Bundesliga. tirto.id/Sabit

Tekanan dari Dalam

Formula “50+1” dinilai menjadi kunci kesuksesan Bundesliga dan klub-klub di dalamnya. Ia membawa antusiasme, pengelolaan yang bersih, dan kondisi finansial yang sehat. Namun, semakin ke sini, resistensi mulai banyak bermunculan. Beberapa klub menuntut otoritas DFL mengevaluasi aturan “50+1.”

Pihak DFL, diwakili Seifert, menyatakan kepada Financial Times bahwa mereka bersedia membuka kembali diskusi mengenai aturan kepemilikan “50+1.”

“Kita perlu memulai diskusi yang terbuka [...] tentang aturan 50+1,” terang Siefert. “Setidaknya kita perlu mencari tahu bagaimana jalan tengahnya.”

Polemik tentang penolakan aturan “50+1” sendiri sebetulnya telah muncul sejak lama. Pada 2009 Presiden Hannover Martin Kind bersikeras bahwa aturan ini harus dihapuskan. Alasannya, aturan “50+1” menutup kesempatan klub untuk berkembang karena sebatas mengandalkan kekuatan komunitas. Akan tetapi Kind harus gigit jari. Sebanyak 32 dari 35 klub Bundesliga menolak proposal Kind.

“Bundesliga tetap setia pada prinsip-prinsipnya dan mempertahankan ketergantungannya pada berbagai faktor yang telah memberikan kontribusi yang menentukan keberhasilan dalam beberapa dekade terakhir: stabilitas, kontinuitas, serta kedekatan dengan penggemar,” ujar Presiden DFL kala itu, Reinhard Rauball.

Satu dekade kemudian polemik tentang “50+1” kembali muncul dengan resonansi tak kalah nyaring. Dasar argumennya tak jauh berbeda: bahwa aturan tersebut telah menghalangi pihak-pihak yang ingin berinvestasi secara lebih di klub.

Ditambah, adanya anggapan yang menyebut klub Jerman tak dapat bersaing di level Eropa karena tak bisa membangun kesebelasan kelas A. Ketika kekuatan klub biasa-biasa saja, maka, dan ini menjadi kegelisahan berikutnya, turut memengaruhi pendapatan, salah satunya tentang hak siar.

“Saya berharap DFL akan melepaskan klub dari aturan ini,” tegas CEO Munich Karl-Heinz Rummenigge dalam wawancaranya dengan majalah GQ Jerman. “Setiap klub harus memutuskan sendiri apakah mereka membuka pintu untuk investor atau tidak.”

Perlawanan datang dari fans Jerman. ProFans, ambil contoh, kelompok lobi pendukung Bundesliga dan ultras, telah memperingatkan apabila aturan itu disahkan, mereka bakal melakukan demonstrasi besar-besaran. Untuk mereka, penghapusan “50+1” sama saja mengebiri identitas yang selama ini dijaga di dalam klub.

Raphael Honigstein, dalam kolomnya di ESPN, mengungkapkan membuka diri terhadap investor bisa jadi dapat membantu meningkatkan daya saing secara global. Namun, di luar perkara itu, kepemilikan mayoritas yang dikendalikan investor juga berpeluang membuat klub seperti sapi perah: hanya berorientasi pada keuntungan instan.

Pembahasan mengenai “50+1” masih menemui jalan buntu. Untuk sementara waktu klub-klub Jerman tetap berpijak pada aturan yang sudah ada sejak lama.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA JERMAN atau tulisan lainnya dari Faisal Irfani

tirto.id - Bisnis
Penulis: Faisal Irfani
Editor: Ivan Aulia Ahsan