Kiat Sinematek Indonesia Menjaga Warisan Film

Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 7 September 2016
Dibaca Normal 3 menit
Sinematek Indonesia terus bertahan hidup dengan dana minim. Lembaga independen non-profit tersebut berupaya bertahan dengan metode perawatan arsip film yang minimalis. Padahal tantangan terbesar Sinematek Indonesia adalah melestarikan film lama agar kembali menjadi tontonan.
tirto.id - Ruang bawah tanah dengan suhu 13,3 celcius dan kelembaban 63,7 persen menjadi tempat penyimpanan arsip film Sinematek Indonesia. Suhu dan kelembaban tersebut tergolong di bawah standar, sebab satu air conditioner sebesar gawang sepakbola rusak. Budi Ismanto (38) dan Firdaus (45) menjadi pawang yang menangkal rusaknya arsip film.

Budi tengah sibuk menata barisan 12 gulungan pita film seluloid di hadapan satu kipas kecil. Dia lantas menempelkan satu Strip Acid Detector ke salah satu pita seluloid, gulungan film dokumenter bertema “Bus Kota” produksi tahun 1980-an.

Selang beberapa detik, kertas kecil tersebut berubah warna dari biru menjadi kuning kehijauan, yang menjadi pertanda tahap keasaman tinggi dan dianjurkan segera menyalin secara digital. Memang, tak semua kondisi gulungan film yang diserahkan ke Sinematek Indonesia dalam keadaan prima.

Sedangkan Firdaus, tengah sibuk menyambung pita seluloid yang putus memakai alat splicer. Dia mengkombinasikan cairan Multicoid Cine Film Cemen dan Alkohol ethanol 95 persen dengan takaran sesukanya. Setelah tersambung, Firdaus mengambil gulungan seluloid untuk dibersihkan dengan cairan ethanol sebanyak dua kali. Menurutnya, hal tersebut upaya menangkal ancaman dari jamur, kotoran, bunga air dan goresan yang menyerang gulungan-gulungan pita seluloid.

Dia lebih memilih menggunakan meja untuk me-rewind pita seluloid yang diputar secara manual. Sebab dengan tiga mesin otomatis rewind pita film seluloid yang tersedia, gulungan justru terlalu padat dan tak akan bertahan lebih dari empat tahun.

“Ini bahan kimia baik untuk film, tapi tidak untuk yang bekerja. Baunya menyengat langsung ke saraf. Kami me-rewind ngejar ribuan film. Dalam seminggu, biasanya bisa sampai 8 judul film dokumenter,” kata Firdaus yang sudah bekerja sejak 18 tahun silam kepada tirto.id, pada Jumat (2/9/2016).

Akhir tahun 2015, Sinematek Indonesia dilimpahi koleksi 18 kopi gulungan pita seluloid film “Rumah Tanpa Jendela”. Saat itu juga, Firdaus mendapati film “Ali Topan” dan “Tie Pat Kai Kawin” produksi 1935 sudah rusak dan harus direstorasi.

Manajer Pusat Film Indonesia (PFI), Kiki Muchtar mengungkapkan, koleksi Sinematek Indonesia sejauh ini lebih dari 635 film fiksi Indonesia dan 50 judul film dokumenter. Sedangkan 50 judul lainnya masih mengantre didata. Sedangkan yang sudah dipindai ke medium digital ada 140 film fiksi.

Satu film bisa membutuhkan belasan pita seluloid. Sebut saja film “G30/S-PKI” yang menjadi medium propaganda pebiasan sejarah oleh rezim Orde Baru pimpinan Soeharto, terdiri dari 15 gulungan film. Jika ditotal, ada sekitar 2.000 koleksi roll film di Sinematek Indonesia. Tak hanya itu, ada pula sekitar 2.500 buku perfilman, belasan ribu skenario film, poster, kliping artikel perfilman, dan profiling tokoh film Indonesia.

Di antara dana yang minim, Sinematek Indonesia tetap harus menjaga nyala arsip film. Pegawai Sinematek Indonesia terus berkurang dan tak pernah bertambah. Kini seluruhnya hanya tinggal 14 orang pegawai yang bekerja di bawah Upah Minimum Regional (UMR).

“Iya gaji di bawah UMR. Tapi film kan juga no profit. Saya tidak memandang duitnya, yang penting menyelamatkan film,” ungkap Firdaus.




Tetap Berupaya Independen

Sejak 1975, Sinematek Indonesia didirikan untuk terus meremajakan arsip film oleh Misbach Yusa Biran dan Asrul Sani yang bekerja sama dengan Gubernur Ali Sadikin di era 1966 hingga 1977. Lembaga ini menjadi pengarsip film pertama di Asia Tenggara.

Dua tahun kemudian, Sinematek Indonesia bergabung dalam Federation Internationale des Archives du Film (FIAF) dan South East Asia-Pacific Audio Visual Archives Ascociation (SEAPAVAA). Dalam setahun, minimal Sinematek mendapat tiga undangan pertemuan pengarsip film di luar negeri. Namun mereka harus melalui jalan terjal untuk meminta bantuan keberangkatan ke pemerintah. Dan kebanyakan, mereka tak mendapatkannya.

Meski berulangkali ditawari dana rutin dengan syarat menyerahkan seluruh aset Sinematek Indonesia menjadi milik pemerintah provinsi DKI Jakarta, Kepala Sinematek Indonesia Adisurya Abdy menolaknya. Dia bersikukuh bahwa Sinematek Indonesia harus tetap menjadi organisasi non-profit yang independen dari pemerintah.

“Itu pilihan terakhir. Sebagaimana Sinematek di seluruh dunia itu independen. Lembaga ini harus dijaga betul independensinya dan diberikan kepedulian yang nyata dari pemerintah. Baru dia akan tumbuh sehat,” kata Adisurya kepada tirto.id, pada Jumat (2/9/2016).

Meski sekuat tenaga menjaga independensinya dari pemerintah, Sinematek Indonesia sempat kuwalahan di era Orde Baru. Menurut Adisurya, saat itu segala sesuatu yang tidak Pancasilais dianggap berbahaya. Maka karya sutradara serta seniman Lekra, Bachtiar Siagian dan sutradara plus budayawan Bachtiar Effendi tak diarsipkan. Padahal film berjudul “Turang” karya Siagian sempat menjadikannya Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1960. Sedangkan Effendi, pasca mantan Presiden Soekarno dikudeta, menjadi eksil hingga akhir hayatnya di Italia.

“Sinematek Indonesia pada masa itu ada kekhawatiran atau ketakutan apabila menyimpan karya film dari orang-orang yang dianggap tidak Pancasilais atau kekiri-kirian. Sebetulnya itu menjadi sebuah kerugian bangsa. Sehingga kita hampir tidak punya koleksi arsip film yang dibuat oleh orang-orang yang bertentangan dengan pemerintah atau yang bertentangan dengan ideologi pemerintah. Itu yang terjadi,” ungkapnya.

Bangkitkan Film Lama

Sinematek Indonesia terus berupaya bertahan dengan metode perawatan arsip yang minimalis sumber dana, serta sumber daya manusia yang terbatas. Namun tetap bersikukuh menjadi pusat pengarsipan, pusat data informasi, sekaligus museum perfilman. Mereka berupaya membangkitkan kembali hasil produksi film masa lampau.

Berbagai cara dilakukan, salah satunya dengan memindai ke medium digital. “Kita perlu peremajaan alat, ruang. Kita perlu kepastian dan kepedulian terhadap bantuan tetap kepada Sinematek Indonesia. Tapi idealnya, bantuan itu harusnya peralatan untuk kita bisa melakukannya sendiri. Itu jauh lebih efektif biar ada keberlanjutan,” ujar Adisurya.

Selain itu, Sinematek Indonesia juga menyiapkan ruang apresiasi untuk menonton film secara gratis. Lembaga pusat arsip film tersebut juga membuka ruang bagi para peneliti untuk mengupas renik sejarah dari sudut pandang perfilman.

“Sineas kita yang peduli dengan Sinematek, secara fisik datang berkunjung itu rendah. Kalau secara omongan, banyak yang bilang penting Sinematek. Tetapi secara kepedulian yang nyata, itu rendah sekali,” tuturnya.

Selain itu, ada berbagai film yang sudah hancur lebur secara fisik, dimakan keasaman kimia yang mengular dari gulungan pitanya. Satu-satunya cara untuk penyelamatan ialah dengan restorasi. Sinematek Indonesia sempat melakukan restorasi film klasik melalui kerjasama dengan National Museum of Singapore, Yayasan Konfiden, Kineforum, dan World Cinema Foundation. Film karya Usmar Ismail yang bertajuk “Lewat Djam Malam” tersebut pernah memenangkan lima penghargaan FFItahun 1955.

Pasca proses restorasi selama 1,5 tahun dan menghabiskan dana Rp1,4 miliar, film itu diputar Cannes Classics pada pembukaan Festival Film Cannes. Akhir-akhir ini, justru marak model restorasi tersebut. Baru-baru ini, film “Tiga Dara” karya Usmar Ismail pada 1956, turut direstorasi dan ditayangkan kembali secara massal di bioskop.

Meski memilih menyebar arsip film miliknya di berbagai lembaga arsip luar negeri, Sineas Garin Nugroho mendukung penyelamatan arsip film Indonesia. Menurutnya, warisan arsip film harusnya menjadi salah satu dasar hidup dalam berbangsa. Apalagi masyarakat Indonesia adalah masyarakat pelupa.

“Kita harus terus melakukan itu dan mendukung restorasi. Memang kita itu masyarakat pelupa. Masyarakat cepat lupa karena hanya hidup untuk hari ini. Jadi akan ada krisis harapan, karena enggak ada dasar hidup,” kata Garin kepada tirto.id, pada Senin lalu.

Memang tak mudah menjaga arsip film agar tak lapuk oleh zaman. Apalagi berbekal keteguhan tetap menjadi independen. Sebagaimana alur cerita sebuah karya film, pastilah ada pelajaran yang bisa diambil oleh siapapun.

Baca juga artikel terkait WARISAN BUDAYA DUNIA atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dieqy Hasbi Widhana
Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Kukuh Bhimo Nugroho
Artikel Lanjutan
DarkLight