Naskah Khotbah Jumat

Khutbah Jumat Singkat Pekan Ini: Menjadi Orangtua Teladan bagi Anak

Penulis: Dhita Koesno, tirto.id - 16 Sep 2022 04:30 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Khutbah Jumat singkat pekan ini mengangkat tema tentang bagaimana menjadi orangtua teladan bagi anak dalam Islam.
tirto.id - Khutbah Jumat singkat pekan ini mengangkat tema tentang bagaimana menjadi Orangtua yang teladan bagi anak-anaknya.

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Assalamu'alaikum warhmatullaahi wabarakatuh..

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulilah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dengan-Nya kita meminta pertolongan dalam segala urusan dunia dan akhirat. Salawat dan salam tercurah untuk seorang utusan yang paling mulia, Muhammad SAW, keluarganya, dan semua sahabatnya. Amma ba’du.

Atas izin Allah juga hari ini, 16 September 2022 kita kembali dipertemukan dalam majelis khotbah dan salat Jumat yang insya Allah mendapatkan rahmat dari Rabb semesta alam.

Contoh Naskah Khutbah Jumat Singkat Pekan Ini


Hadirin jamaah salat Jumat rahimakumullah,

Orangtua merupakan contoh, panutan dan sosok pertama yang akan ditiru oleh anaknya, karenanya sebagai orangtua haruslah menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Teladan orangtua pada anaknya merupakan sesuatu yang sangat luar biasa, dan ini tentu dengan cara memberikan nilai dan contoh baik kepada anak-anak kita, agar Allah memberikan balasan yang baik.

Sebagai contoh, Luqman yang mengajarkan kejujuran pada putranya, seperti disebutkan dalam Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman:

يٰبُنَىَّ اِنَّهَاۤ اِنۡ تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٍ مِّنۡ خَرۡدَلٍ فَتَكُنۡ فِىۡ صَخۡرَةٍ اَوۡ فِى السَّمٰوٰتِ اَوۡ فِى الۡاَرۡضِ يَاۡتِ بِهَا اللّٰهُ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيۡفٌ خَبِيۡرٌ

Ya bunaiya innahaaa in taku misqoola habbatim min khardalin fatakun fii sakhratin aw fis samaawaati aw fil ardi yaati bihal laa; innal laaha latiifun Khabiir

Artinya: (Lukman berkata), "Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti." (QS. Luqman: 16).

Di ayat ini, disebutkan bagaimana Luqman memberikan nasehat kepada anaknya agar beramal dengan baik karena apa yang dilakukan manusia, dari yang besar sampai yang sekecil-kecilnya, yang tampak dan yang tidak tampak, yang terlihat dan yang tersembunyi, baik di langit maupun di bumi, pasti diketahui Allah.

Allah pasti akan memberikan balasan yang setimpal dengan perbuatan manusia itu. Perbuatan baik akan dibalas dengan surga, sedang perbuatan jahat dan dosa akan dibalas dengan neraka.

Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu dan tidak ada yang luput sedikit pun dari pengetahuan-Nya.

Selanjutnya, Luqman juga melanjutkan nasehat-nasehat baik kepada putranya yang termaktub dalam ayat 17-19 di surah Luqman, yang bermakna:

"Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.
Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.
Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (QS. Luqman: 17-19)

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Luqman merupakan sosok yang namanya ada dalam Al-Qur'an, karena ia berperilaku hasan dan selalu memberikan petunjuk serta wasiat-wasiat terbaik untuk anaknya.

Contohnya dengan mendirikan salat sebaik-baiknya agar diridai Allah dan itu dicontohkan kepada anaknya.

Jika salat yang dikerjakan itu diridai Allah, perbuatan keji dan perbuatan mungkar dapat dicegah, jiwa menjadi bersih, tidak ada kekhawatiran terhadap diri orang itu, dan mereka tidak akan bersedih hati jika ditimpa cobaan, dan merasa dirinya semakin dekat dengan Tuhannya.

Kemudian contoh lainnya dengan selalu bersabar dan tabah terhadap segala macam cobaan yang menimpa, akibat dari mengajak manusia berbuat baik dan meninggalkan perbuatan yang mungkar, baik cobaan itu dalam bentuk kesenangan dan kemegahan, maupun dalam bentuk ke-sengsaraan dan penderitaan.

Pesan lainnya yang tersirat dalam surah Luqman di atas untuk mengajak kebaikan kepada anaknya adalah sesuai dengan perintah Allah yang memerintahkan tiga hal, yaitu:

  1. Jangan sekali-kali bersifat angkuh dan sombong, membanggakan diri dan memandang rendah orang lain.
  2. Hendaklah berjalan secara wajar, tidak dibuat-buat dan kelihatan angkuh atau sombong, dan-
  3. Lemah lembut dalam berbicara, sehingga orang yang melihat dan mendengarnya merasa senang dan tenteram hatinya.
Lanjutan wasiat Lukman kepada anaknya bertujuan agar anaknya berbudi pekerti yang baik, dengan 3 cara:

Pertama, tidak bersikap angkuh. Tanda-tanda seseorang yang bersifat angkuh dan sombong itu ialah:
  • Bila berjalan dan bertemu dengan orang lain, ia memalingkan mukanya, tidak mau menegur atau memperlihatkan sikap ramah.
  • Berjalan dengan sikap angkuh, seakan-akan ia yang berkuasa dan yang paling terhormat.
Firman Allah SWT:

"Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung," (QS. al-Isra': 37)

Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda:

"Janganlah kamu saling membenci, janganlah kamu saling membelakangi dan janganlah kamu saling mendengki, dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara. Tidak boleh bagi seorang muslim memencilkan (tidak berbaik) dengan temannya lebih dari tiga hari," (HR. Malik dari Anas bin Malik)

Pesan kedua dan ketiga, yaitu hendaklah berjalan secara wajar, tidak dibuat-buat dan kelihatan angkuh atau sombong, serta lemah lembut dalam berbicara, sehingga orang yang melihat dan mendengarnya merasa senang dan tenteram hatinya.

Berbicara dengan sikap keras, angkuh, dan sombong dilarang Allah karena gaya bicara yang semacam itu tidak enak didengar, menyakitkan hati dan telinga. Hal itu diibaratkan Allah dengan suara keledai yang tidak nyaman didengar.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Apa yang diwasiatkan Luqman kepada anaknya, tentu bisa kita jadikan contoh untuk kita turut memberikan teladan yang baik pula buat anak-anak kita.

Dan jangan lupa, apa yang kita niatkan baik buat anak agar diridai Allah, juga perlu diiringi dengan doa kepada Allah SWT yang tujuannya kita bisa istikamah dengan niatan itu.

Demikianlah khotbah Jumat kali, semoga apa yang disampaikan bisa diambil hikmahnya dan kita semua termasuk golongan orang-orang yang bisa menjadi teladan buat anak-anak, keponakan dan generasi muda lainnya..Aamiin allahumma aamiin..

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.


Baca juga artikel terkait KHUTBAH JUMAT SINGKAT atau tulisan menarik lainnya Dhita Koesno
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Dhita Koesno
Editor: Addi M Idhom

DarkLight