Naskah Khotbah Jumat

Khutbah Jumat Singkat 2022: Membangun Keharmonisan Keluarga Islami

Penulis: Dhita Koesno - 21 Jan 2022 07:05 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Khutbah Jumat terbaru dan singkat 2022 membahas tentang cara membangun keluarga yang harmonis secara Islami.
tirto.id - Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh..

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصَحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَومِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga tercurah untuk seorang nabi dan rasul yang paling mulia, keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat. Amma ba’du ….

Hadirin kaum muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

Alhamdulillah, hari ini kita kembali berkumpul dalam majelis salat dan khotbah Jumat 21 Januari 2022 yang insya Allah dirahmati Allah SWT.

Dalam kesempatan kali ini tema yang akan diangkat mengenai cara membangun keharmonisan dalam keluarga dan rumah tangga secara Islami.

Khotbah Jumat Terbaru & Singkat


Hadirin kaum muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

Islam memandangan pernikahan sebagai komitmen yang kokoh, sejajar komitmen Allah dengan para rasul-Nya.

Oleh sebab itu itu, setelah menikah, sebagai suami istri harus bertanggung jawab untuk menjaga komitmen yang diucapkan saat ijab kabul

Dalam Al-Qur'an disebutkan rumah tangga sebagai sebuah nikmat yang sangat agung. Pernikahan adalah kunci kesuksesan mencetak generasi muda umat Islam.

Seperti dikutip dari laman NU Online, salah satu hal penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga yang sampaikan oleh Al-Qur'an adalah selalu melihat pasangan sebagai seorang sahabat menjalani perjalanan hidup yang setara.

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِىۡ خَلَقَكُمۡ مِّنۡ نَّـفۡسٍ وَّاحِدَةٍ وَّجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا لِيَسۡكُنَ اِلَيۡهَا‌ ۚ فَلَمَّا تَغَشّٰٮهَا حَمَلَتۡ حَمۡلًا خَفِيۡفًا فَمَرَّتۡ بِهٖ‌ ۚ فَلَمَّاۤ اَثۡقَلَتۡ دَّعَوَا اللّٰهَ رَبَّهُمَا لَٮِٕنۡ اٰتَيۡتَـنَا صَالِحًا لَّـنَكُوۡنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيۡنَ

Huwal lazii khalaqakum min nafsinw waahidatinw wa ja'ala minhaa zawjahaa liyas kuna ilaihaa falammaa taghash shaahaa hamalat hamlan khafiifan famarrat bihii falammaaa asqalad da'awal laaha Rabbahumaa la'in aayaitanaa saalihal lanakuu nanna minash shaakire

Artinya: "Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhan Mereka (seraya berkata), "Jika Engkau memberi kami anak yang shalih, tentulah kami akan selalu bersyukur."

Pada surah ini dijelaskan, Allah telah menciptakan kamu dari diri yang satu yaitu Adam, dan Allah menciptakan pasangannya yaitu Hawa.

Sebagai sepasang suami istri, pasangan telah disatukan dalam pernikahan, usahakan saling bantu-membantu dalam segala hal, baik suka atau duka, dengan mengharap rida Allah.

Dengan saling membantu, kita juga diminta memelihara hubungan kekeluargaan dengan tidak memutuskan tali silaturahmi.

Karena, sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu, sebab setiap tindakan dan perilaku kamu tidak ada yang luput sedikit pun dalam pandangan Allah.

Kemudian, dalam ayat Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 187 ada makna yang artinya

"Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka…" (QS Al-Baqarah: 187).

Mereka dalam untaian ayat ini sebagai sebuah gambaran paling sempurna dalam menjelaskan hubungan suami-istri yang tak dapat dipisahkan dalam kasih sayang, seolah-olah masing-masing adalah pakaian bagi pasangannya.

Makna pakaian bagi pasangan suami istri layaknya pakaian yang menutupi tubuh, yang berarti saling menutupi keburukan di antara keduanya.

Sebagai pasangan suami istri, seharusnya tidak boleh membeberkan keburukan masing-masing kepada orang lain. Bahkan kepada orang tua sendiri.

Di antara salah satu sebab gagalnya rumah tangga adalah pasangan yang belum mencapai kedewasaan dalam menghadapi masalah rumah tangganya.

Setiap kali ada masalah cerita kepada orang tuanya, sehingga menjadikan masalah justru semakin bercabang. Belum lagi jika kedua belah pihak keluarga saling menyalahkan satu sama lainnya.

Permasalahan semakin kompleks ketika tumpang tindih dengan persoalan lain seperti kurangnya penerimaan pasangan atas kondisi ekonomi yang pas-pasan, perselingkuhan, dan lainnya.

Kita dapat bersikap bijak dengan mengambil jalan berkomunikasi secara terbuka kepada suami atau istri tentang bagaimana mengatasi permasalahan yang ada.

Yang perlu kita perhatikan juga,ketika berbicara berdua haruslah dengan kepala dingin dan tidak saling menyalahkan agar diperoleh solusi yang tepat untuk masalah yang ada.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istri. Janganlah kalian pukul istri kalian seperti halnya kalian memukul budak-budak kalian," (HR Al-Baihaqi).

Hal ini sangat penting karena adanya kasih sayang antara suami dan istri termasuk nikmat yang Allah berikan.

Allahlah yang memantapkan hati suami-istri untuk saling mencintai dan menyayangi dalam ikatan rumah tangga. Sebelum adanya ikatan pernikahan, calon suami-istri belum menikmati cinta yang begitu dalam di antara keduanya.

Firman Allah SWT:

وَمِنۡ اٰيٰتِهٖۤ اَنۡ خَلَقَ لَكُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِكُمۡ اَزۡوَاجًا لِّتَسۡكُنُوۡۤا اِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُمۡ مَّوَدَّةً وَّرَحۡمَةً  ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ

Wa min Aayaatihiii an khalaqa lakum min anfusikum azwaajal litaskunuuu ilaihaa wa ja'ala bainakum mawad datanw wa rahmah; inna fii zaalika la Aayaatil liqawminy yatafakkaruun

Artinya: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21)

Maknanya bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan yang kemudian disatukan dalam ikatan pernikahan sebagai wujud rahmat-Nya.

Demi terbentuknya bangunan rumah tangga yang kukuh, maka Allah memberikan potensi untuk memiliki rasa kasih dan sayang kepada pasangannya sehingga keduanya harus saling membantu untuk mewujudkannya.

Tumbuhnya rasa cinta ini adalah anugerah Allah yang harus dijaga dan ditujukan ke arah yang benar dan melalui cara-cara yang benar pula.

Selain dengan cara-cara yang baik, tak lupa pula selalu selipkan doa agar rumah tangga kita selalu diberkahi Allah SWT:

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’,” (QS al-Furqan: 74).

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Selalu membiasakan diri berdoa untuk pasangan hidup dan keturunannya bertujuan agar senantiasa menjadi penyejuk hati mereka.

Karenanya, seringlah memanjatkan doa ini, agar pasangan suami istri akan saling rukun, saling mengisi dan menyempurnakan kekurangan dan saling membahagiakan satu sama lain.

Dengan begitu maka insyaallah akan tercipta keluarga bahagia yang penuh dengan keberkahan.

Demikianlah khotbah Jumat pekan ini. Semoga kita semua dapat menciptakan surga dunia bersama keluarga untuk menuju surga yang abadi di hadapan Allah SWT. Aamiin allahumma aamiin.


Baca juga artikel terkait KHUTBAH JUMAT TERBARU atau tulisan menarik lainnya Dhita Koesno
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dhita Koesno
Editor: Addi M Idhom

DarkLight