Menuju konten utama
Ramadhan 2022

Khutbah Jumat: Ramadhan sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Ibadah

Naskah khutbah Jumat tentang bulan Ramadhan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas ibadah

Khutbah Jumat: Ramadhan sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Ibadah
Umat Islam melaksanakan iktikaf melaksanakan shalat sunah saat iktikaf Ramadhan di Masjid Al-Makmur, Banda Aceh, Aceh, Selasa (4/5/2021). ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/aww.

tirto.id - Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabaratuh..

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, salawat dan salam tercurah untuk junjungan kita Nabi Muhammad salallaahu 'alaihi wasallam beserta keluarganya, 'amma ba'du..

Hari ini, Jumat, 8 April 2022 atau bertepatan dengan 6 Ramadan 1443 Hijriah kita dipertemukan kembali dalam majelis khotbah dan salat Jumat yang insya Allah dirahmati Allah SWT.

Khutbah Jumat Bulan Ramadhan

Tema khotbah Jumat kali ini mengangkat tentang bulan Ramadhan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِيۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَالصَّلٰوةِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيۡنَ

Yaaa ayyuhal laaziina aamanus ta'iinuu bissabri was Salaah; innal laaha ma'as-saabiriin

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153).

Pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah tidak hanya melimpahkan nikmat-Nya, tetapi Allah juga memberikan berbagai cobaan kepada orang-orang yang beriman.

Karena itu, Allah meminta umat-Nya yang beriman untuk bersabar dan terus melaksanakan salat yang disertai rasa khusyuk.

Sesungguhnya, Allah senantiasa beserta orang-orang yang sabar dan orang-orang yang memperbanyak salat dengan memberikan pertolongan dan keteguhan hati dalam menghadapi segala cobaan.

Orang-orang yang selalu khusyuk dalam sabar dan salat ini maka akan mencapai tahap yang namanya "sadar" dan kesadaran itu adalah puncak spiritual seseorang.

Salah satu hikmah dari ibadah puasa adalah melatih kesabaran diri.

Bersabar tidak makan, bersabar untuk tidak minum, dan sabar tidak melakukan semua hal-hal yang bisa membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga matahari terbenam di waktu Maghrib.

Agar ibadah puasa kita baik dan benar, maka kita juga harus jujur. Jadi, sabar, salat, dan jujur adalah tiga hal penting yang dapat meningkatkan ketakwaan kita.

Ketiga hal itu dapat kita capai melalui pelaksanaan ibadah puasa Ramadan yang sungguh-sungguh.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Ketentuan-ketentuan Allah SWT mengenai puasa Ramadan telah dibuat sedemikian sempurnanya, di mana ini mengisyaratkan kemuliaan dan pentingnya puasa bagi orang yang beriman, yaitu agar kita menjadi orang yang bertakwa.

Sehingga, puasa Ramadan bermakna bahwa umat-Nya memiliki ketaatan kepada Allah Sang Pencipta.

Puasa dijalankan dengan berbagai persyaratan yang telah ditentukan Allah dan jika kita ikhlas melaksanakannya, maka ini dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas diri.

Kita semua tentu tahu, perintah puasa ini jelas disebutkan dalam firman Allah SWT:

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ

Yaa ayyuhal laziina aamanuu kutiba 'alaikumus Siyaamu kamaa kutiba 'alal laziina min qablikum la'allakum tattaquun

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," (QS. Al-Baqarah: 183).

Dikutip dari tafsir Kemenag, puasa yang dimaksud pada bulan Ramadan merupakan kewajiban yang harus dijalankan umat muslim yang tujuannya untuk mendidik jiwa, mengendalikan syahwat, dan menyadarkan bahwa manusia memiliki kelebihan dibandingkan hewan.

Kewajiban ini telah diwajibkan pula kepada orang-orang dari umat para nabi terdahulu agar menjadi contoh takwa dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.

Para ulama banyak memberikan uraian tentang hikmah berpuasa, misalnya: untuk mempertinggi budi pekerti, menimbulkan kesadaran dan kasih sayang terhadap orang-orang miskin, orang-orang lemah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, melatih jiwa dan jasmani, menambah kesehatan dan lain sebagainya.

Kalau diperhatikan perintah berpuasa bulan Ramadan ini, maka pada permulaan ayat 183 secara langsung Allah menunjukkan perintah wajib itu kepada orang yang beriman.

Orang yang beriman akan patuh melaksanakan perintah berpuasa dengan sepenuh hati, karena ia merasa kebutuhan jasmaniah dan rohaniah adalah dua unsur yang pokok bagi kehidupan manusia yang harus dikembangkan dengan bermacam-macam latihan, agar dapat dimanfaatkan untuk ketenteraman hidup yang bahagia di dunia dan akhirat.

Pada ayat 183 ini Allah mewajibkan puasa kepada semua manusia yang beriman, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka agar mereka menjadi orang yang bertakwa.

Ayat 183 dari surah Al-Baqarah ini apabila ditafsirkan lagi secara umum bahwa hikmah berpuasa di bulan Ramadan adalah agar umat Islam bisa meraih derajat takwa yang mulia.

Karena ketika melaksanakan ibadah puasa, berarti umat Islam telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Jadi, puasa sungguh penting bagi kehidupan orang yang beriman.

Beberapa bentuk takwa saat kita menjalankan ibadah puasa, yakni:

1. Saat berpuasa, maka kita akan meninggalkan setiap larangan seperti makan, minum, bersetubuh dengan istri, mengontrol emosi dan segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa.

Berpuasa di bulan suci Ramadan berarti mengontrol hawa nafsunya, sesuai dengan perintah Allah SWT. Hal ini dilakukan demi mendekatkan diri pada Allah SWT dan mendapatkan pahala dari-Nya.

2. Orang yang melaksanakan ibadah puasa sebenarnya mampu untuk melakukan segala kesenangan duniawi yang dilarang selama sedang puasa.

Namun, karena menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui, maka ia menekan segala keinginan itu secara sadar dan ikhlas.

3. Ketika sedang menjalankan ibadah puasa, orang biasanya akan merasa senang melakukan berbagai amalan yang menunjukkan ketaatan. Dan ketaatan ini juga sebagai sarana untuk menggapai ketakwaan.

Seperti sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:

"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Taala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaqun ‘alaih)

Demikianlah khotbah Jumat kali ini, semoga kita semua bisa menjadikan Ramadan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri sehingga ke depan kita pun bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, terutama dalam hal ibadah. Aamiin allahumma aamiin.

Wassalamu'alaikum warahmatulaahi wabarakatuh.

Baca juga artikel terkait KHUTBAH JUMAT RAMADHAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Addi M Idhom