Khotbah Jumat

Khutbah Jumat Hari Ayah: Bagaimana Cara Menjadi Teladan Bagi Anak?

Oleh: Dhita Koesno - 12 November 2021
Dibaca Normal 4 menit
Naskah khotbah Jumat Hari Ayah Nasional mengambil tema bagaimana cara menjadi teladan yang baik bagi anak.
tirto.id - Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh..

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan nikmat dan hidayahnya kita dapat berkumpul kembali di sini menunaikan salat Jumat berjamah.

Salawat dan salam juga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam yang telah menyampaikan agama yang sempurna kepada umat manusia.

Insya Allah kita termasuk dalam golongan orang-orang selalu berpegang teguh dengan sunah Beliau hingga ajal menjemput kita.

Naskah Khutbah Jumat Terbaru


Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Mungkin dari kita semua ada yang menyadari bahwa Jumat ini tanggal 12 November adalah bertepatan dengan peringatan Hari Ayah Nasional.

Karenanya, khotbah Jumat kali ini akan membahas bagaimana kita seorang laki-laki yang apabila sudah menikah dan memiliki anak akan menjadi ayah, seperti apa teladan yang bisa kita berikan pada keluarga.

Seorang ayah akan menjadi sorotan dan panutan utama, sebab ayah merupakan salah satu pihak yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak.

Ayah sangat penting dan harus terlibat dalam mengasuh anak- anaknya. Bahkan, peran ayah juga tidak kalah penting dari peran seorang ibu.

Saya mengutip dari laman NU Online yang menyebutkan, sosok ayah sangat utama untuk memberikan contoh perilakunya kepada anak tentang sikap bertanggung jawab dan sifat mengayomi.

Pada umumnya, seorang ayah sering kali mengajak anaknya untuk bermain dan beraktivitas yang bersifat petualangan.

Aktivitas ini umumnya akan membuat anak lebih berani menghadapi tantangan. Pelajaran yang diberikan oleh ayah untuk bisa menghadapi tantangan, tentu sangat diperlukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri bagi anak.

Meski demikian, kita perlu tahu bahwa kedekatan anak dan ayah tidak hanya saat bermain.

Ayah juga harus memberikan nilai-nilai kehidupan, bicara hati-hati, serta kehadiran dan keterlibatan ayah dalam momen itu sangat penting agar anak merasa disayangi dan diperhatikan

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada nilai-nilai dari ayah yang mesti diteladankan kepada anaknya, di antaranya adalah mengenai kejujuran, kesetiaan, dan kerja keras.

Biasanya hal itu tidak hanya disampaikan oleh ayah melalui nasihat tapi juga contoh nyata dari tindakan di kehidupan sehari-hari dalam keluarga.

Karenanya, seorang ayah benar-benar dituntut untuk menjadi teladan. Seperti peribahasa yang mengatakan buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya. Artinya bahwa seorang anak menjadi cerminan dari sosok ayahnya.

Jadi kalau bekal baik itu sudah ditanamkan kepada anak, dan kelak ketika dewasa si anak ini berada di lingkungan yang buruk, tugas ayah hanya mengarahkan saja.

Salah satu contoh sosok ayah yang baik, dicontohkan oleh Nabi Ibrahim, di mana Nabi Ibrahim begitu peduli dengan anak cucu dan keturunannya kelak, di mana ia selalu berdoa seperti terdapat dalam firman Allah SWT:

رَبِّ اجۡعَلۡنِىۡ مُقِيۡمَ الصَّلٰوةِ وَمِنۡ ذُرِّيَّتِىۡ‌‌ ۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ‏

Rabbij 'alnii muqiimas Salaati wa min zurriyyatii Rabbanaa wa taqabbal du'aaa'


Artinya: "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku," (QS. Ibrahim: 40).

Kemudian dalam surah Al-Baqarah ayat 128 juga disampaikan:

رَبَّنَا وَاجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَـكَ وَ مِنۡ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسۡلِمَةً لَّكَ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَيۡنَا ۚ اِنَّكَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِيۡمُ

Rabbanaa waj'alnaa muslimaini laka wa min zurriyyatinaaa ummatam muslimatal laka wa arinaa manaasikanaa wa tub 'alainaa innaka antat Tawwaabur Rahiim

Artinya: "Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang."

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Sosok ayah harus mewarisi dua hal, yakni ilmu dan teladan. Jika ayah tidak mampu memberikan ilmu yang memadai kepada anaknya, maka minimal cukup dengan memberikan contoh atau teladan yang baik.

Terutama soal pemberian pendidikan dan seorang ayah juga harus memberikan contoh serta teladan kepada anak.

Dengan begitu anak itu, merasa memiliki nasab kepada ayah. Tapi tidak hanya sekadar nasab darah, melainkan juga terhubung langsung nasab ilmunya ke aya. Itulah sebabnya, ayah dituntut untuk terus belajar.

Selain itu, seorang ayah harus memiliki akhlak yang mulia serta memberikan contoh kepada anak seperti menghormati orang lain, menghargai guru, menghargai tetangga, dan bertutur kata yang baik. Berbagai teladan tersebut harus didapat pertama kali dari sosok ayah.

Luqman yang namanya tertera dalam Al-qur'an juga diberi hikmah oleh Allah untuk memberikan nilai dan contoh baik kepada putranya, di mana ia mengajarkan kejujuran pada putranya.

Hal itu seperti terdapat dalam firman Allah berikut ini:

يٰبُنَىَّ اِنَّهَاۤ اِنۡ تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٍ مِّنۡ خَرۡدَلٍ فَتَكُنۡ فِىۡ صَخۡرَةٍ اَوۡ فِى السَّمٰوٰتِ اَوۡ فِى الۡاَرۡضِ يَاۡتِ بِهَا اللّٰهُ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيۡفٌ خَبِيۡرٌ

Ya bunaiya innahaaa in taku misqoola habbatim min khardalin fatakun fii sakhratin aw fis samaawaati aw fil ardi yaati bihal laa; innal laaha latiifun Khabiir

Artinya: (Lukman berkata), "Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti," (QS. Luqman: 16)

Lukman berwasiat kepada anaknya agar beramal dengan baik karena apa yang dilakukan manusia, dari yang besar sampai yang sekecil-kecilnya, yang tampak dan yang tidak tampak, yang terlihat dan yang tersembunyi, baik di langit maupun di bumi, pasti diketahui Allah.

Oleh karena itu, Allah pasti akan memberikan balasan yang setimpal dengan perbuatan manusia itu.

Luqman juga mengajarkan anaknya untuk tidak berlaku sombong dengan mengingatkan putranya agar selalu bersikap rendah hati sepanjang hidup dan menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekelilingnya.

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِى الۡاَرۡضِ مَرَحًا ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرٍۚ

Wa laa tusa'-'ir khaddaka linnaasi wa laa tamshi fil ardi maarahan innal laaha laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuur

Artinya: "Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri," (QS. Luqman: 18)

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.

Begitulah peran seorang ayah. Semisal ayah tidak punya ilmu pengetahuan dan sibuk mencari penghasilan, setidaknya berikan contoh yang baik kepada anak-anaknya.

Misalnya lagi bagaimana menghormati perempuan dan menghormati ibu. Jangan sampai seorang ayah justru berkata kasar kepada anak. Bahkan sampai menghardik dengan kata-kata binatang.

Karena sangat berbahaya itu jika ayah sering berkata kasar kepada anaknya. Karena perjalanan kehidupan sang anak tergantung dari bagaimana ayah memberikan contoh dan teladan selama hidupnya.

Inilah peran dan tugas ayah yang harus ditanamkan pada kita semua, apalagi ini sebagai pengingat dalam rangka peringatan Hari Ayah Nasional.

Ayah tidak hanya sebatas memenuhi tanggung jawab materi bagi keluarganya, tapi juga punya keterlibatan moral yang positif dalam kehidupan anak-anaknya.

Hadirin jamaah Jumaat rahimakumullah,

Demikianlah khotbah Jumat pada hari ini, mudah-mudahan bermanfaat, terutama bagi diri saya pribadi dan jamaah sekalian. Semoga kita semua selalu berada dalam golongan hamba Allah yang saleh.

Aamiin yaa rabbal 'alamiin..

Khutbah II

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا للّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الاَحْيِاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وِ يَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْم يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِيْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ, أَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ


Baca juga artikel terkait NASKAH KHUTBAH JUMAT atau tulisan menarik lainnya Dhita Koesno
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dhita Koesno
Penyelia: Addi M Idhom
DarkLight