Industri Logistik

Ketika Tol Trans Jawa Ancam Bisnis Kargo Maskapai Penerbangan

Ilustrasi Lalu lintas Kargo Udara
Pekerja membungkus paket kiriman milik pelanggan di perusahaan jasa pengiriman JNE Express, di Medan, Sumatra Utara, Jumat (18/1/2019). ANTARA FOTO/Septianda Perdana/ama.
Oleh: Ringkang Gumiwang - 28 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Perusahaan kurir mulai melirik pengiriman paket via darat ketimbang udara seiring dengan tersambungnya Tol Trans Jawa. Terlebih, biaya kargo udara semakin mahal.
tirto.id - Tak bisa disangkal, hampir setiap pembangunan infrastruktur memberikan efek bagi pelaku usaha, baik itu positif maupun negatif, tak terkecuali Tol Trans Jawa yang akhir tahun lalu berhasil menyambungkan jalan tol dari Jakarta hingga Surabaya.

Bagi maskapai penerbangan, Tol Trans Jawa boleh jadi merupakan kabar buruk, khususnya terkait dengan masa depan bisnis kargo mereka. Gara-gara tol tersebut, pebisnis kurir yang menjadi pengguna jasa kargo maskapai mulai melirik angkutan darat ketimbang pesawat untuk pengiriman paket di Pulau Jawa.

Perusahaan kurir lokal J&T Express, misalnya, menyebutkan mayoritas pengiriman paket saat ini masih memakai moda angkutan udara, sekitar 50-60 persen. Namun, ia tidak menampik melirik Tol Trans Jawa sebagai alternatif.

"Kami memang melirik alternatif pengiriman barang melalui Tol Trans Jawa. Saat ini, masih dikaji, mulai dari sisi biaya, kecepatan dan lain sebagainya," kata Key Account Manager J&T Express Iwan Senjaya kepada Tirto.

Iwan menjelaskan, J&T Express masih banyak memakai jasa angkutan udara lantaran faktor kecepatan dalam pengiriman barang lebih penting ketimbang biaya. Namun, masih terkait faktor kecepatan pengiriman ini, ia melanjutkan, tidak menutup kemungkinan bahwa jalur darat melalui Tol Trans Jawa kini juga memiliki waktu tempuh yang sama cepat.

Sebagai catatan, pengiriman paket di Pulau Jawa menyumbang hampir 75 persen dari total pengiriman paket J&T Expres di Indonesia.


SiCepat juga sama. Merek jasa kurir yang dikelola PT. SiCepat Ekspres Indonesia ini berencana memanfaatkan Tol Trans Jawa untuk pengiriman barang. Nanti, pelayanan yang diberikan bakal setara dengan kiriman melalui kargo udara.

"Salah satu cara menyiasati pengiriman melalui kargo udara yang [tarifnya] semakin tinggi adalah dengan memanfaatkan jalur darat di sepanjang pulau Jawa," kata Chief Commercial Officer SiCepat Ekspres Dhony Maya Wardhana, dikutip dari Bisnis.

Dhony optimistis tol yang sudah terkoneksi dari Jakarta ke Surabaya akan membuat biaya pengiriman paket lebih terjangkau. Selain itu, waktu penyampaian kiriman juga lebih dapat diprediksi.

Pengiriman paket melalui pesawat selama ini memang menjadi moda favorit untuk digunakan perusahaan kurir dibandingkan dengan moda angkutan barang lainnya. Selain unggul dari sisi kecepatan, tarif kargo udara juga cukup terjangkau.

Kondisi berubah ketika masuk pertengahan tahun lalu. Tarif surat muatan udara (SMU) atau tarif kargo udara melonjak. Dalam catatan Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo), tarif kargo udara naik 300 persen hingga Januari 2019.

Imbas dari kenaikan tarif kargo itu, sejumlah perusahaan kurir terpaksa gulung tikar. Hingga Maret 2019, Asperindo mengaku sebanyak 20 perusahaan mengalami gangguan bisnis, dan empat perusahaan di antaranya berhenti beroperasi.

Tarif SMU yang mahal pada akhirnya membuat perusahaan kurir beralih ke moda angkutan lainnya seperti angkutan darat, kereta api atau laut. Dari sekian moda angkutan itu, angkutan darat menjadi perhatian lantaran Tol Trans Jawa sudah tersambung.


Lantas apakah Tol Trans Jawa mampu membuat moda darat menggantikan angkutan udara di Pulau Jawa?

Menurut PT Pos Indonesia (Posindo), peluang menggeser angkutan udara sebagai moda favorit di Pulau Jawa sangat terbuka. Dari sisi kecepatan, layanan paket 'sehari sampai' yang umumnya harus memakai angkutan udara, kini bisa juga dikejar moda darat.

Untuk pengiriman barang dari Jakarta ke Surabaya, misalnya, proses pengiriman paket memakan waktu sekitar 10-11 jam jika memakai angkutan udara. Sementara jika memakai truk via Tol Trans Jawa, proses pengiriman bisa sampai dengan 12 jam.

"Udara kelihatannya cepat, padahal disitu ada proses issued time limit yang makan waktu 8 jam, ditambah penarikan di hub tujuan dari gudang lini satu minimal 2-3 jam," tutur VP Proses dan Transportasi Posindo Farius Muhamartono kepada Tirto.

Dari sisi biaya, Tol Trans Jawa juga lebih murah bagi truk kargo. Untuk pengiriman dari Jakarta ke Surabaya, biaya kargo truk bermuatan dua ton hanya Rp2.250-Rp3.000 per kg. Biaya kargo udara, sementara itu, sekitar Rp10.000 per kg (termasuk groundhandling).

Dengan keunggulan itu, Posindo meyakini Tol Trans Jawa bisa 40-60 persen menggantikan angkutan udara. Sebagai catatan, pengiriman barang Posindo melalui udara di Pulau Jawa saat ini juga sudah menyentuh dua ton per hari.



Dampak ke Maskapai

Rencana peralihan pilihan moda angkutan para perusahaan kurir dari pesawat udara ke transportasi lainnya jelas menjadi kabar kurang sedap bagi maskapai. Padahal, maskapai saat ini sedang agresif mencari untung dari kargo udara.

Garuda Indonesia menjadi salah satu maskapai dalam negeri yang agresif mengembangkan bisnis kargo, terutama sejak 2016 silam. Pada tahun itu, maskapai ini untuk pertama kalinya memiliki direktur yang khusus menangani bisnis kargo.

Hasilnya positif, tidak hanya dari segi volume, namun juga pendapatan. Volume kargo Garuda pada 2016 naik 18 persen menjadi 416 juta kilogram (kg) dari tahun sebelumnya sebesar 352 juta kg. Kala itu, kargo menyumbang pendapatan sebesar 219 juta dolar AS, naik 17 persen.

Namun, pertumbuhan kargo Garuda pada tahun-tahun berikutnya tak lagi sekencang 2016. Pada 2018, volume kargo bahkan hanya naik tipis 1,56 persen menjadi 454 juta kg dari 2017. Pertumbuhan itu terendah sejak 2016.


Beruntung, pendapatan kargo pada 2018 tumbuh lebih besar, yakni naik 9,28 persen menjadi 258,61 juta dolar AS. Kenaikan ini terbantu lantaran ada kenaikan tarif kargo sekitar 7,54 persen dari 27,59 dolar AS menjadi 29,67 dolar AS.

"Strategi optimalisasi harga pada kuartal keempat 2018 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan usaha dari bisnis kargo," sebut direksi PT Garuda Indonesia Tbk. dalam laporan tahunan 2018 (PDF; Hlm. 192).

Pada 2019, keadaan sedikit berubah. Lantaran harga yang melangit, para perusahaan kurir sepertinya memilih untuk tidak lagi memakai jasa mereka. Hal ini dapat dilihat dari volume kargo Garuda sepanjang kuartal I/2019 yang anjlok 19 persen menjadi 90.548 ton dari kuartal I/2018 sebanyak 111.917 ton.

Penurunan volume itu ternyata tidak lantas menurunkan pendapatan kargo Garuda. Pasalnya, pendapatan kargo Garuda pada kuartal pertama 2019 justru naik 34 persen menjadi 82 juta dolar AS dari sebelumnya 61 juta dolar AS seiring dengan tarif kargo yang terus naik. Namun, menarik untuk dilihat apakah situasi yang sama akan terjadi dalam lima tahun ke depan.

Baca juga artikel terkait JALAN TOL TRANS JAWA atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight