Ketika Terlalu Ganteng atau Cantik Berarti Nestapa

Infografik Rupawan Adalah Kutukan
Ilustrasi rupawan kutukan. iStockphoto/GettyImages
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 25 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Yang laki kerap dikira playboy atau gay. Yang perempuan dianggap trofi buruan. Duh, serba salah!
tirto.id - Yunanta Arif (26 tahun) awalnya susah mengakui ketampanan dirinya untuk kepentingan wawancara artikel ini. Tirto kemudian mengumpulkan testimoni dan beberapa teman perempuan yang satu fakultas dan komunitas diskusi dengan kami. Semuanya sepakat: wajah lelaki asli Jogja itu memang ganteng.

Ia akhirnya menyerah dan mau menjawab pertanyaan pokok Tirto melalui pesan WhatsApp: Adakah sisi negatif menjadi seorang yang rupawan?

Yunan bilang ia perlu contoh. Saya kemudian memberikan sejumlah poin dari hasil riset dan analisis psikolog. Yunan mengonfirmasi salah satunya, yakni bagaimana ia merasa dirinya kerap otomatis populer di satu lingkungan baru.

Namun, ia kurang menyukainya karena sejatinya ia terganggu dengan teman-teman, biasanya perempuan, yang tiba-tiba "sok akrab." Keakraban yang ia temukan adalah jenis tak wajar, yang ia sendiri sebenarnya agak susah untuk menjelaskannya.

"Apa kamu pernah khawatir mereka tidak mengapresiasi kualitas dirimu, katakanlah secara sosial, komunikasi, atau selera humor, selain dari penampilan fisik?" tanya Tirto.

"Nah, itu, sempat kepikiran juga. Aku juga bisa gayeng seperti teman lain. Aku juga bisa jadi pacar yang baik dan perhatian [tertawa], maksudnya enggak cuma modal ganteng doang, atau karena kebetulan motorku motor cowok (Kawasaki Ninja yang sudah dimodifikasi)," jawabnya.

Billi Gordon (alm.) adalah ahli syaraf dan ahli psikologi di University of California, Los Angeles, Amerika Serikat. Dari sekian banyak tulisannya untuk Huffington Post, salah satu yang paling menarik ia publikasikan pada 2014 silam. Judulnya "10 Masalah Cowok Ganteng."

Salah satu masalah yang ia ungkap selaras dengan apa yang dirasakan Yunan. Gordon membahasakannya begini: "menjadi lelaki impian adalah mimpi buruk." Ia mendapat testimoni dari temannya sendiri, pekerja profesional yang bertampang seperti model majalah GQ, bernama Noah.


Noah bilang, "Perempuan melihat penampilanku, mencari tahu apa pekerjaanku, lalu baru jatuh cinta padaku. Kukira sebenarnya mereka jatuh cinta dengan ide tentang lelaki impian yang selama ini ada dalam kepala meraka. Mereka tidak tahu tentang aku selain dari penampilan fisik atau profesiku."

Narasumber Gordon memberikan jawaban lain terkait "kutukan" menjadi lelaki yang (terlalu) ganteng. Rata-rata adalah label yang disematkan secara serampangan. Misalnya, orang ganteng sering diasumsikan sebagai playboy, atau bahkan kerap dikira sebagai seorang gay.

Yunan menyepakati yang pertama: dituduh suka memainkan perasaan perempuan. Kenyataannya, ia berusaha untuk berbuat baik ke semua orang. Sayangnya beberapa teman perempuan mengartikannya sebagai perhatian spesial. Teman perempuan ini kemudian "kepedean," dan kepada orang lain menyiratkan bahwa dirinya sedang dalam proses pendekatan dengan Yunan.

"Tapi, pas nanti aku bilang tidak ada hubungan apa-apa, baru si cewek ini jengkel sama aku. Ada yang kelihatan dendam, kayak patah hati banget. Bukan dia doang yang bilang aku PHP (Pemberi Harapan Palsu), tapi juga yang lain. Lah, aku gak ngapa-ngapain kok [tertawa]."

Pengalaman Yunan kembali beresonansi dengan poin-poin yang disampaikan Gordon, bahwa para lelaki yang (terlalu) ganteng kerap serba salah. Para perempuan juga lebih tidak terima jika menerima penolakan, sementara si lelaki tidak merasa memberi kode-kode khusus.

Gordon melanjutkan "kutukan" itu turut berdampak ke hubungan dengan teman lelaki lain karena dirasa sebagai ancaman, istilahnya "menjatuhkan pasaran." Akhirnya, muncul ekspektasi agar laki-laki ganteng bersanding dengan yang cantik. Jika tidak, maka akan muncul berbagai komentar miring.

Bukan sekali dua kali 'media kacangan' memberitakan polemik lelaki ganteng bersanding dengan perempuan biasa, yang dikatakan lebih jelek dan tidak pantas. Pertimbangan dalam memilih pasangan seharusnya bisa luas dan kompleks. Tapi, bagi orang yang ganteng, hal tersebut tiba-tiba disempitkan ke level 'kecantikan' fisik belaka.

Pada akhir tahun 2015 asisten profesor Sun Young Lee dari School of Management Universitas College London dan beberapa rekannya di University of Maryland, London Bussines School, dan INSEAD mempublikasikan riset soal risiko jadi orang tampan.

Mereka menemukan bahwa laki-laki ganteng kemungkinan lebih tinggi untuk ditolak untuk pekerjaan yang memerlukan sikap kompetitif. Contohnya adalah posisi salesman di departemen pemasaran.

Kabar baiknya, masih menurut penelitian Lee dan kawan-kawan, lelaki ganteng kemungkinan lebih tinggi akan diterima di pekerjaan yang menuntut sikap kooperatif. Mereka menemukan para manajer di departemen riset dan pengembangan cenderung merekrut yang terganteng di antara pelamar laki-laki lain.


(Terlalu) Cantik Sama Saja

Di kesempatan lain, Gordon juga menulis perihal kecantikan turut membawa konsekuensi tidak mengenakkan.

Mengutip testimoni dari beberapa perempuan cantik yang ia tuangkan di Psychology Today, di luar privilise serta anggapan masalah hidup akan lebih enteng, perempuan cantik juga menghadapi resiko pelabelan-pelabelan atas dasar generalisasi. Beberapa di antaranya berasal dari rasa iri perempuan lain.

Serupa dengan yang dialami lelaki ganteng, perempuan cantik turut dilabeli "modal tampang saja." Gordon menulis jika mereka dianggap "bodoh dan kosong." Lagi-lagi, penilaian kualitas diri mereka oleh orang lain sebatas penampilan luar belaka. Beberapa narasumber mengaku muak dengan pandangan ini.


Perempuan yang terlalu cantik, di satu sisi, membuat minder laki-laki biasa yang tidak ganteng, atau ganteng tapi belum mencapai level kecantikan si perempuan.

Tapi di sisi lain, mereka susah mengekspresikan diri di luar melalui pakaian atau riasan. Perempuan normal tidak memiliki masalah ini, tulis Gordon, mengutip pengalaman salah seorang narasumber.

Poin-poin yang Gordon sampaikan dalam artikel bertajuk "11 Alasan Jadi Sangat Cantik itu Problematis" tersebut menyoroti bagaimana laki-laki memperlakukan perempuan cantik sebagai aksesori. Dengan demikian, perempuan cantik disamakan dengan pakaian formal atau mobil mahal.

Narasumber itu juga bilang bahwa perlakuan yang sama juga datang dari perempuan yang dekat dengannya, yang tipikal gampang merasa canggung. Teman narasumber perempuan cantik tersebut memanfaatkan si narasumber hanya untuk menaiki tangga status sosial dan untuk membesarkan rasa percaya dirinya.


Status perempuan cantik dipandang lebih tinggi, sehingga laki-laki kerap menganalogikannya sebagai trofi. Perempuan ini dijadikan buruan demi rasa bangga jika bisa memilikinya. Dan jika sudah memilikinya, layaknya barang mahal atau langka lain, mereka kerap dipamerkan ke orang-orang terdekat si pasangan.

Perempuan cantik juga lebih rentan menjadi korban pelecehan seksual. Seluruh narasumber rata-rata punya cerita pernah diikuti oleh pria asing yang terobsesi dengan mereka. Pria ini mengikuti kemana pun mereka pergi. Salah satunya bahkan ada yang masuk ke rumah dan mencuri pakaian dalam mereka.

Terakhir, kecantikan juga membuat hubungan si perempuan dengan perempuan lain menjadi problematis. Perempuan normal merasa terintimidasi, apalagi jika level kecantikannya terlalu senjang. Kepercayaan diri mereka anjlok, dan ujung-ujungnya membuat si perempuan yang kelewat cantik susah menjaga hubungan dengan teman perempuan mereka.

Baca juga artikel terkait STANDAR KECANTIKAN atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight