Ketika Sukarno-Hatta "Diamankan" di Rumah Petani Tionghoa

Sukarno dan Hatta; 1949. FOTO/Istimewa
Oleh: Petrik Matanasi - 26 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Djiauw Kie Siong tak pernah menyangka jika rumahnya digunakan untuk menyembunyikan dwitungga Sukarno-Hatta jelang Proklamasi Kemerdekaan.
Djiauw Kie Siong adalah seorang petani di Kampung Bojong, Rengasdengklok, yang menggarap lahan di sekitar aliran Sungai Citarum. Ia sebenarnya bukan warga asli daerah tersebut. Tahun 1879 ia dilahirkan di Desa Pisang Sambo, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi. Namun, sejak usianya delapan tahun, orangtuanya pindah ke Rengasdengklok. Ia pun kemudian mewarisi lahan pertanian peninggalan orang tuanya.

”Tanah itu subur dan perkebunannya sendiri luas. Lagi pula bau babinya yang banyak itu tentulah tak gampang mengganggu hidung penduduk, sementara untuk menyalurkan pembuangan kotoran ternak itu juga tak terlalu sukar," tulis Tempo (16/08/1975).

Ketika Jepang menduduki Indonesia, satu kompi pasukan Pembela Tanah Air (PETA) ditempatkan tidak jauh dari rumah keluarganya. Kompi itu dipimpin oleh Chudancho (komandan kompi) Subeno, bekas mahasiswa kedokteran. Menurut Omar Bahsan, salah satu komandan peleton bawahan Subeno, mereka cepat akrab dengan masyarakat sekitar tangsi, termasuk Kie Siong.

”Rakyat Dengklok (Rengasdengklok) yang begitu melarat sudahlah membenci Jepang, dan ini sangat memudahkan pergaulan dan persatuan. Sementara itu tidak sedikit dari penduduk yang senantiasa berharapan mempunyai seorang Prajurit Sukarela (PETA) sebagai menantu,” kata Omar Bahsan dalam Tjatatan Ringkas Tentang PETA (Pembela Tanah Air) dan Peristiwa Rengasdengklok (1955:25).

Mayoritas rakyat Rengasdengklok tidak tahu perkembangan situasi terkait Perang Dunia II. Militer Jepang membatasi informasi. Djiauw Kie Siong dan rakyat Indonesia lainnya hanya dibuat susah oleh pendudukan Jepang.

Suatu hari, Omar Bahsan minta tolong kepada anak kedua Kie Siong yang bernama Djiauw King Hien, untuk meminjam rumahnya selama tiga sampai empat hari. Beberapa pemuda pun datang menemui keluarga Kie Siong untuk maksud yang sama. Permintaan tersebut diluluskan oleh pemiliknya.

Rumah Kie Siong, seperti dicatat Tempo, merupakan rumah yang tergolong luas dan bagus untuk ukuran Rengasdengklok saat itu. Ketika dipinjam, Kie Siong tidak tahu untuk apa atau untuk siapa rumah itu dipergunakan. Ia hanya menurut dan sementara waktu mengungsi ke rumah anaknya yang tidak terlalu jauh dari rumah tersebut.

Pagi hari tanggal 16 Agustus 1945, tamu yang hendak memakai rumah mereka pun tiba dari Jakarta. Tamu tersebut terdiri dari seorang laki-laki berusia 40 tahunan dengan kepala tertutup peci, dan laki-laki satunya lagi berkacamata. Selain dua orang itu, ada juga seorang perempuan berusia 20 tahunan dengan bayi yang belum berumur setahun.

Sepanjang hari mereka berada di rumah Kie Siong. Mulanya, orang-orang desa tersebut tak mengenali wajah-wajah para tamu. Namun belakangan mereka tahu bahwa si laki-laki berpeci itu adalah Sukarno, yang berkacamata Mohammad Hatta, yang perempuan Fatmawati, dan si bayi adalah Guntur.

”Sukarno dan Hatta dibawa dengan paksa oleh para pemuda ke luar kota. Peristiwa yang terkenal dengan Peristiwa Rengasdengklok ini dimaksudkan untuk menghindarkan kedua tokoh nasional ini dari kemungkinan terlibat dalam kerusuhan antara pemuda dan pihak Jepang,” tulis Deliar Noer dalam Mohammad Hatta: Hati Nurani Bangsa, 1902-1980 (2002:66).

Dalam PETA: Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (1996:60) dijelaskan bahwa mereka dibawa ke Rengasdengklok agar tidak mendapat pengaruh dari militer Jepang soal rencana kemerdekaan Indonesia. Itulah kenapa pemuda seperti Sukarni dan para perwira muda PETA di sekitar Jakarta berusaha mengamankan Sukarno-Hatta hingga ke Rengasdengkok.


Selain para pemuda penculik dan serdadu PETA Rengasdengklok, keberadaan Sukarno, Hatta, Fatmawati, dan Guntur tidak diketahui oleh orang-orang di luar Rengasdengklok. Untuk menemui keempat orang itu, harus lewat Subeno dan Omar Bahsan.

”Mereka (Sukarno-Hatta, Fatma, dan Guntur) berada dalam pemeliharaan Saudara Affan (komandan peleton lain di Kompi Subeno), prajurit-prajurit [PETA], dan keluarga Siong sendiri yang cukup memuaskan,” kata Omar Bahsan (1955:50).

Drama penculikan untuk menyegerakan Proklamasi Kemerdekaan itu berakhir berkat usaha Mr Ahmad Subardjo. Ia berhasil membujuk Subeno dan kawan-kawannya dengan jaminan bahwa proklamasi akan dilakukan secepatnya.

Esoknya, tanggal 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan pada pukul 10 di rumah Sukarno, di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Namun, orang-orang Karawang, termasuk Rengasdengklok, terlambat mendengar kabar itu karena pemberitaan masih dikontrol militer Jepang.




Beberapa tahun kemudian, tanpa diduga sebelumnya oleh Djiauw Kie Siong, Fatmawati mengunjungi rumahnya. Namun, tempat disembunyikannya Sukarno-Hatta itu sudah hilang dihajar banjir pada 1961. Tiga tahun sebelumnya, rumah tersebut sempat bertahan ketika Sungai Citarum meluap pada 1958. Menurut catatan Tempo, kayu-kayu rangka rumah yang berhasil diselamatkan dipindahkan 125 meter dari tempat semula.

“Beberapa orang juga menyarankan agar bentuk bangunan rumah dipertahankan seperti yang lama, juga catnya. Dan tetap menghadap ke selatan seperti dulu. Cuma sayang bangunan yang sekarang ini sudah tidak pakai pendopo lagi. Rumah yang dulu pendoponya sangat luas,” kata Djiauw Lien Njong, anak kedelapan Djiauw Kie Siong, yang pada 16 Agustus 1945 baru berusia 14 tahun.

Meski tak asli, petilasan Sukarno-Hatta di Rengasdengklok terus dijaga oleh keluarga Djiauw Kie Siong. Keluarga ini cukup bangga dengan Surat Penghargaan dari Kodam VI Siliwangi bertanggal 6 Februari 1961 yang ditandatangani oleh Kolonel Ibrahim Adjie, Panglima Kodam Siliwangi. Djiauw Kie Siong tutup usia pada 1963.

Baca juga artikel terkait SEJARAH PROKLAMASI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight