Ketika Situs Persma Suara USU Disuspensi Karena 'Cerpen LGBT'

Oleh: Haris Prabowo - 21 Maret 2019
Dibaca Normal 1 menit
Suarausu.co tak bisa diakses setelah cerpen mereka yang berkisah tentang LGBT viral. Sebelumnya mereka sempat diminta rektorat menurunkan cerpen itu.
tirto.id - Situs suarausu.co milik pers mahasiswa SUARA USU (Universitas Sumatera Utara) disuspensi. Ini terjadi setelah rektorat meminta pengurus mencabut cerpen berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya”.

“Pihak rektorat minta cerpen itu ditarik, karena dianggap vulgar dan mempromosikan LGBT,” kata Widiya Hastuti, Pemimpin Redaksi SUARA USU, kepada reporter Tirto, Rabu (20/3/2019). Cerpen itu dianggap vulgar karena mengandung kata ‘sperma’, katanya.

Cerpen yang ditulis Yael Stefani Sinaga itu sudah diunggah sejak pekan lalu, namun baru dipromosikan di media sosial Instagram @suarausu Senin (18/3/2019) kemarin. Sekitar enam jam setelahnya, komentar warganet berdatangan menghujat. Selain terlalu vulgar, SUARA USU juga dianggap mempromosikan LGBT.

Cerpen itu berkisah tentang seorang perempuan lesbian yang dihujat habis-habisan oleh masyarakat. Perempuan dengan warna pelangi menjadi ilustrasi foto cerpen.

Setelah cerpen viral, Widia kemudian dipanggil rektorat Selasa (19/3/2019) kemarin. Ia datang bersama penulis cerpen. Dari Humas USU, mereka mendapat informasi bahwa cerpen tersebut sudah dibicarakan hingga tingkat Wakil Rektor 1 dan Majelis Wali Amanat (MWA). Keduanya lalu berhadapan dengan staf ahli MWA.

“Mereka minta untuk menarik cerpen itu karena sudah meresahkan dan sudah viral di kalangan seluruh civitas akademik USU,” kata Yael. “Salah satu dari mereka menekankan bahwa kami tidak boleh menulis tulisan seperti itu, walaupun fiksi, karena kami berada di naungan kampus dan didanai rektorat.”


Pihak rektorat juga mengancam membubarkan SUARA USU kalau cerpen itu tidak segera diturunkan.

Sampai Selasa malam, pengurus persma tidak kunjung melakukan itu karena mereka merasa tidak ada yang salah dari konten tersebut. Kata ‘sperma’ yang dianggap vulgar juga menurut mereka biasa saja.

Pihak Humas USU sempat menelepon mereka dan menanyakan mengapa cerpen itu tak kunjung dicabut.

Kemarin pagi, situs suarausu.co tidak bisa diakses dan disuspensi. Mereka mengumumkannya lewat media sosial. “Suarausu.co sedang tidak bisa dibuka dan masih dalam tahap perbaikan. Semua pemberitaan akan dialihkan ke media sosial suara usu”.

Sampai saat ini, Widia dan Yael belum bisa memastikan penyebab dan siapa yang melakukannya.

Hingga tulisan ini dirilis, Kepala Kantor Humas, Promosi, dan Protokoler USU, Elvi Sumanti, tak menjawab pertanyaan wartawan Tirto. Dari Rabu siang, dia mengaku rapat hingga sore hari. Tapi hingga Rabu malam tak kunjung merespons.


Baca juga artikel terkait LGBT atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Rio Apinino