Ketika Rokok Tingwe Diburu saat Pandemi: Peluang Bisnis & Ekonomis

Oleh: Irwan Syambudi - 31 Agustus 2020
Dibaca Normal 2 menit
Rokok tingwe diburu karena alasan ekonomis dan susah peroleh bahan baku rokok elektrik saat pandemi.
tirto.id - Toko tembakau rajangan atau lintingan milik Yono (43), di Sleman, Yogyakarta, tak pernah sepi. Pembeli hilir-mudik ke tokonya kendati pandemi menghajar daerahnya.

Sepetak tokonya berada di tepi jalan utama. Barang dagangannya tersimpan rapi di dalam sebuah lemari kaca. Ada kertas rokok, lem, filter, hingga alat untuk menggulung tembakau dan kertas.

Dari luar toko, wajahnya tak tampak. Ia duduk menunggu pembeli sembari menyesap rokok. Hari itu, Yono melayani dua pembeli yang mencari-cari tembakau yang sudah dirajang berasal dari sebuah pabrik, tapi tak menjualnya.

Tak ingin pembelinya kecewa, Yono segera meminta keduanya untuk mencoba tembakau andalannya.

“Ini tembakau Sindoro dari petani langsung, tapi agak berat,” kata Yono, Jumat pekan lalu.

Yono mempersilahkan pembeli itu mencoba. Ia ambil sejumput tembakau rajangan kering dan kertas. Di toko tembakau lazim mencicip dahulu sebelum membeli. Tembakau rajangan petani, kata dia, cenderung berat saat diisap, aroma pekat dan asap tebal. Kedua pria berusia sekitar 30 tahun itu akhirnya membeli sebungkus tembakau rajangan setengah ons senilai Rp8 ribu.

Pola Konsumsi Rokok Berubah

Pandemi Corona yang terjadi di Indonesia sejak Maret telah mengubah daya beli dan pola konsumsi perokok. Sebagian pembeli meninggalkan rokok bermerek lalu beralih ke rokok tingwe (ngelinting dewe) alias menggulung tembakau dengan kertas secara mandiri. Hal ini menguntungkan penjual tembakau lintingan yang disajikan dalam bentuk rajangan seperti Yono.

Modal awal Yono Rp20 juta untuk membuka toko tembakau tingwe. Dalam sebulan, ia berhasil menjual rata-rata 10 kilogram tembakau.

Untuk bisa menjual, Yono punya jaringan ke pengepul tembakau dengan wilayah pembelian dari Siluk Imogiri Bantul, Temanggung, Boyolali hingga Wonosobo. Agar anak muda lebih tertarik, tersedia varian rasa yang segar seperti cappucino atau vanila. Di rokok elektrik juga menyediakan beragam rasa, hanya saja harganya mahal.

Salah satunya, Antonius Budi (35). Ia membeli sebungkus tembakau bercita rasa mentol di toko tembakau milik Yono. Anton bilang mulai mengkonsumsi rokok dengan melinting sendiri sejak pandemi COVID-19. Mulanya ia adalah konsumen rokok bungkus bermerek dan rokok elektrik atau vape.

“Rokok linting lebih murah, lebih enak dan variasi rasanya juga banyak,” kata Anton kepada reporter Tirto, Jumat (28/8/2020).

Sebelum beralih, ia mengkonsumsi rokok elektrik. Namun karena pandemi ia sulit mendapatkan koil salah satu bagian vape yang harus diganti secara berkala. Dan karena rokok dinilai makin mahal, ia putuskan beralih ke tingwe.

Dari perhitungannya, dalam sehari ia bisa membeli minimal dua bungkus rokok senilai Rp30 ribu, lebih mahal dari rokok racikan dari toko dengan total Rp18 ribu per 50 gram untuk konsumsi 2-3 hari.

“Kalau vape lebih mahal lagi liquidnya saja Rp100 ribu, koil sebulan Rp35 ribu. Alat vapor Rp350 ribu. Beli liquid dan koil sebulan sekitar Rp300 ribu,” ujarnya.

Perokok lainnya, Iswara (35) memutuskan beralih ke lintingan tiga bulan terakhir karena alasan harga. Perokok tingwe juga harus mahir menggulung tembakau dan keras. Ia belajar melinting rokok dengan alat bantu yang dibeli Rp10 ribu. Kebutuhan rokok lintingan tak sampai Rp25 ribu, bisa menghemat puluhan ribu rupiah per hari. Melinting memang ribet tapi ia menemukan hobi baru yakni bereksperimen mencampur berbagai bahan dan cita rasa rokok agar sesuai selera.

Dihantui Cukai Tembakau

Booming tembakau rajangan membuat untung petani. Salah petani Temanggung, salah satu sentra penghasil tembakau di Pulau Jawa, Agus Zamroni. Upaya petani memopulerkan tembakau rajangan telah berlangsung lama lewat festival pada 2018-2019.

“Festival itu untuk mengedukasi cara merajang tembakau lembutan secara manual dan tradisional,” ujar Agus yang jadi ketua panitia festival pada 2018.

Dengan minat anak muda melinting, kata dia, tren konsumsi akan berimbas pada pendapatan petani. Hanya saja ada yang menghantuinya: cukai. Ia diberi tahu dalam sebuah acara bahwa pemerintah akan mengenakan cukai tembakau rajangan atau iris.

“Kemarin sudah mulai disosialisasikan kalau tembakau dari petani yang dibungkus dengan baik lalu diberi merek beratnya kurang dari 2,5 kilogram maka terkena cukai,” kata Agus, Jumat pekan lalu.

Padahal para petani yang merajang tembakau dan biasanya dijual untuk tembakau lintingan belum tentu bisa menghasilkan langsung di atas 2,5 kilogram. “Agak memberatkan juga,” kata dia.



Baca juga artikel terkait ROKOK atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Zakki Amali
DarkLight