Ketika Pernikahan Melahirkan Teroris Baru

Oleh: Rio Apinino - 16 Maret 2019
Dibaca Normal 1 menit
Menikah adalah salah satu metode merekrut calon teroris baru. Ini terjadi di Sibolga, juga beberapa kasus lain.
tirto.id - Pada 10 Desember 2016, Dian Yulia Novi ditangkap Densus 88 Antiteror di Bekasi, Jawa Barat. Dian, mantan pekerja migran itu, berencana melakukan aksi bom bunuh diri di Istana Negara.

Dian adalah ‘pemain’ baru, di luar jaringan teroris yang dipantau Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Dan orang yang ‘menyeretnya’ ke dalam dunia terorisme adalah suaminya sendiri, Nur Solihin.

Pengusutan kasus ini menghasilkan kesimpulan bahwa pernikahanlah yang memungkinkan Dian bisa merencanakan aksi teror--dan untungnya bisa digagalkan. Solihin sendiri yang mengaku bahwa hanya dengan menikah dengan dirinyalah Dian bisa mewujudkan niatnya.

“Secara otomatis dia memerlukan ikhwan (laki-laki) untuk mengurus persiapan yang tidak boleh di luar saya,” kata Solihin dalam wawancara khusus dengan TVOne, 13 Desember 2016.

Dian juga mengaku kalau pernikahannya dengan Solihin tak lain “didorong semangat berjihad.”

Pernikahan jadi alat memuluskan aksi teror kembali terungkap dalam kasus Sibolga. Rabu (13/3/2019) kemarin, polisi menangkap Roslina alias Syuhama, perempuan terduga teroris, yang nyaris dijadikan istri oleh Abu Hamzah yang diduga kuat terafiliasi dengan ISIS.

Abu Hamzah berniat merekrut Roslina dengan cara dinikahkan. Hal ini dinyatakan Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo.

“Abu Hamzah merekrut Roslina untuk dijadikan calon istri kedua,” katanya.


Sebelum menangkap Roslina, istri sah Abu Hamzah, Solimah, nekat meledakkan diri bersama anaknya yang berusia dua tahun. Ledakan tak hanya membuat Solimah dan anaknya meninggal, tapi juga merusak rumah warga yang berdiri di sekitar rumahnya.

Kenapa Menikah?


Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kenapa pernikahan jadi alat perekrutan atau memuluskan lahirnya teroris baru?

Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, mengatakan tujuan pernikahan, dalam konteks ini, adalah agar indoktrinasi dan koordinasi bisa lebih aman.

Laki-laki teroris merasa jika perempuan sudah berstatus istri, dia akan lebih mudah “dibina” dan “dipengaruhi”. Sebab biasanya para perempuan ini memang tak begitu suka bergaul dan bicara dengan siapa saja.

Dalam kasus Sibolga, Harits bahkan curiga bukan hanya Roslina yang berniat dinikahi Abu Hamzah.

“Bisa saja wanita-wanita lainnya yang sepaham akan bersedia jadi martir, dengan pernikahan terlebih dahulu,” kata Harits kepada reporter Tirto, Jumat (15/3/2019) kemarin.

Tapi tak selamanya ini berlangsung satu arah, dalam arti teroris pria mengindoktrinasi perempuan. Kata Harits, kadang perempuan justru jadi motivator utama, dan itu terjadi setelah ada pernikahan. Ini selaras dengan keterangan Dian yang menikah dengan Solihin atas “semangat berjihad.”


Oleh karena itu pula dalam beberapa kasus perempuan yang bersimpati dengan gerakan teror seperti ISIS sangat selektif memilih suami.

“Bahkan mereka mau nikah kalau suami juga sepaham dengan dirinya dan suami mau melakukan aksi,” tambahnya.

Ditarik lebih jauh, fenomena ini juga menunjukkan bahwa perempuan tak lagi jadi sebatas “pembantu” gerakan teror.

Hal ini pernah disinggung Sidney Jones, Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict. Dia mengatakan perempuan tak lagi sekadar melihat dirinya sendiri sekadar sebagai istri atau ibu, “melainkan juga sebagai kombatan.”

Aparat sendiri sebetulnya telah tahu fenomena ini, terutama setelah kejadian Surabaya. Mereka menyebutnya perempuan sebagai “lone wolf” alis pelaku tunggal terorisme. Sialnya belum ada langkah spesifik untuk menanggulangi ini. Padahal, diakui sendiri oleh polisi, dalam kasus Sibolga perempuan itu sendiri “militansi dan pemahamannya lebih kuat dibanding laki-laki.”

Baca juga artikel terkait KASUS TERORISME atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Rio Apinino

DarkLight