Ketika Perempuan Lebih Sering 'Ditinggal' Saat Sakit Kronis

Ilustrasi wanita sakit berbaring di tempat tidur di rumah sakit. FOTO/iStockphoto
Oleh: Widia Primastika - 15 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Perceraian saat salah satu mengidap sakit keras lebih sering terjadi pada perempuan daripada pria.
tirto.id - Awal Agustus 2019, Cinta Penelope mengisahkan pengalaman pahitnya dalam tayangan Okay Bos yang disiarkan di saluran Trans 7 dan diunggah di akun Youtube Trans7 Official. Seperti kata pepatah "sudah jatuh, tertimpa tangga pula," ia tidak hanya dihantam sakit, akan tetapi juga harus menerima kenyataan akan pupusnya hubungan rumah tangganya.

"Pada saat aku divonis cancer 3B di jam 2 sore, malamnya aku dicerai," ujar Cinta di acara itu.

Cinta memang tak menyebut jenis kanker yang ia idap, tapi tentu saja ia terpukul atas nasib malang yang menimpanya. Namun, masih di video tersebut, Cinta mengatakan bahwa ia enggan meratapi nasibnya dan berusaha untuk ikhlas, serta fokus dengan proses penyembuhan kankernya.

"Sekarang aku ngelakuin satu pengobatan stem cell di Singapore setiap bulan. Alhamdulillah ada perbaikan dari stem cell hampir keenam, jauhlah, sangat signifikan,” ungkap Cinta, sembari menambahkan bahwa dalam proses pengobatan kanker tersebut, ia didampingi oleh orangtua, adik-adik, serta manajer pribadinya.

Kendati tampak sangat memilukan, nasib yang dialami oleh Cinta Penelope sesungguhnya cukup banyak terjadi, setidaknya jika merujuk pada sejumlah hasil penelitian.

Sakit Kritis, Bikin Hubungan Krisis

Tak bisa dipungkiri, proses kesembuhan dari seorang pasien yang mengidap penyakit kronis memang bergantung dengan lingkungan sekitar mereka. Dukungan sosial yang kuat bagi para pasien terbukti mampu memperpanjang harapan hidup mereka, salah satunya adalah perhatian dari pasangan.

Namun sayangnya, tak semua orang mampu bertahan hidup bersama mereka yang terserang penyakit kronis. Sebuah studi yang dilakukan oleh Michael J. Glantz bersama enam koleganya berjudul "Gender disparity in the rate of partner abadonment in patients with serious medical illness" (2009, PDF) menunjukkan bahwa penyakit kanker berkontribusi terhadap retaknya rumah tangga.

Dalam studi ini, Glantz, dkk. melakukan penyelidikan terhadap 515 pasien yang mengidap tumor otak ganas (214 orang), tumor padat tanpa keterlibatan sistem saraf (193 orang), serta multiple sklerosis (108 orang). Dari para responden, peneliti menghimpun data yang berkaitan dengan status perkawinan pasien.

Studi ini menemukan bahwa sebanyak 11,6 persen pasien mengalami perceraian saat mereka berada dalam masa perawatan. Dari keseluruhan responden, Glantz, dkk. menemukan bahwa perempuan yang sakit kanker enam kali lebih berisiko mengalami perceraian dibandingkan pasien pria. Rata-rata para pasien ini berpisah sekitar enam bulan setelah vonis dijatuhkan.

Sayangnya dalam penelitian ini para peneliti luput menyelidiki konflik yang terjadi sebelum diagnosis disampaikan.

"Semua pasien adalah pasangan ketika kami bertemu mereka, tapi kita tidak tahu tentang konflik pernikahan sebelum diagnosis yang menyebabkan luka," ujar Dr. Marc Chamberlain, ahli onkologi dari Seattle kepada The New York Times. "Tetapi bagian yang patut disorot dalam penelitian ini adalah bagaimana perempuan lebih sering ditinggalkan dibandingkan pria ketika berjuang melawan penyakit yang mengancam jiwa."

Penelitian Glantz, dkk. ini kemudian diperdalam oleh Amelia Karraker dan Kenzie Latham melalui penelitian berjudul "In Sickness and in Health? Physical Illness as a Risk Factor for Marital Dissolution in Later Life" (2015, PDF). Dalam studi ini mereka menyimpulkan bahwa penyakit kronis bisa benar-benar berpengaruh terhadap kualitas hubungan suami istri dalam rumah tangga.


Dalam riset ini, Karraker dan Latham memperluas jenis penyakit yang hendak diteliti, seperti kanker, masalah paru-paru, jantung, dan stroke. Dalam penelitian ini, Karraker dan Latham telah mengumpulkan data terhadap 2.701 pasangan setiap dua tahun sejak tahun 1992 hingga tahun 2010.

Sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Glantz, dkk., dalam riset ini Karraker dan Latham menemukan adanya perceraian yang dialami oleh para pasien. Tapi di sini, para peneliti hanya menemukan peningkatan risiko itu pada enam persen perempuan yang sakit dan tidak ditemukan kejadian pada pasien pria.

Namun perlu dicatat, penelitian ini memang sebatas menemukan keterikatan antara penyakit kronis dan angka perceraian, tapi tak bisa membongkar sebab-akibat. "Mungkin ada berbagai faktor yang tidak terukur yang terlibat dalam kasus ini, terutama ketika Anda berurusan dengan sesuatu yang kompleks, seperti hubungan manusia," tulis situs National Health Service milik Pemerintah Inggris mengomentari hasil studi Karraker dan Latham.


Perempuan Lebih Sering Ditinggalkan?

Meski tak berhasil menemukan faktor pemicu perceraian lain yang mengakibatkan perceraian, tapi kedua penelitian itu menemukan hasil yang sama: perempuan yang sakit lebih sering ditinggalkan daripada pria yang sakit.

Seperti diberitakan oleh The Sydney Morning Herald, Amelia Karraker mengungkapkan beberapa faktor yang mungkin menyebabkan perceraian, termasuk tekanan ekonomi. Memiliki penyakit kronis tentu akan memakan biaya perawatan yang begitu besar. Tapi, pertanyaannya, mengapa perempuan lebih banyak dicerai?

Bisa jadi penyebab utamanya adalah kualitas perawatan. Karraker menduga, kebanyakan pria tak telaten dalam merawat pasangannya. "Bisa jadi para wanita mengatakan, 'kamu melakukan pekerjaan yang buruk dalam merawatku. Aku tidak suka dengan ini' atau 'aku tidak bahagia dengan hubungan ini sejak awal dan aku lebih suka sendiri daripada menghadapi pernikahan yang buruk," ujar Karraker.


Berbeda dengan Karraker, Chamberlain memiliki spekulasi berbeda. Ia menduga, hal ini dipengaruhi oleh pembagian peran pria dan perempuan dalam keluarga. "Jelas ada keterikatan emosional yang harus dihadapi pasangan, keluarga, dan rumah tangga yang pada saat stres menyebabkan perempuan menghadapinya, sementara pria memilih melarikan diri," kata Chamberlain kepada The New York Times.

Dalam situs Oprah.com disebutkan bahwa dalam sebuah rumah tangga, pria mungkin sering mengandalkan istrinya sebagai orang kepercayaan, sehingga saat istri sakit, ia merasa sendiri dan tidak memiliki siapa-siapa dalam bertahan.

Kemudian di sisi perempuan, barangkali mereka memilih untuk fokus pada diri sendiri demi keberhasilan proses pengobatan. Mereka enggan terganggu dengan segala tetek bengek urusan rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa kesetaraan pembagian tugas rumah tangga sejak awal pernikahan amat penting.

Baca juga artikel terkait ALASAN PERCERAIAN atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight