24 September 1983

Ketika Peluru Merobohkan Mohamad Roem, Sang Perunding Republik

Mohamad Roem. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 24 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah hidup Mohamad Roem dari pengacara, memimpin perundingan, hingga dipenjara pemerintah Orde Lama.
tirto.id - Untuk menghentikan tembak-menembak antara Indonesia dan Belanda, maka pada 14 April 1949 digelar perundingan di Hotel Des Indes, Jakarta. Poin penting lain dari perundingan yang diteken pada 7 Mei 1949 itu adalah akan diadakannya Konferensi Meje Bundar, dan pemerintah Republik Indonesia dikembalikan ke Yogyakarta.

Belanda diwakili oleh mantan Menteri Luar Negeri, Jan Herman van Roijen. Sementara Indonesia diwakili mantan Menteri Dalam Negeri, Mohamad Roem. Maka namanya adalah Perundingan Roem-Royen. Kelak perundingan ini menjadi salah satu peritiwa yang tak terlewatkan dari mata pelajaran sejarah sekolah menengah di Indonesia.

Roem bukan orang baru dalam pergerakan nasional. Waktu muda ia aktif di organisasi Jong Java dan Jong Islamieten Bond. Semasa sekolah, ia juga aktif di Kepanduan. Setelah lulus dari SMA di usia 22 tahun, Roem mengikuti ujian masuk sekolah kedokteran di Geneeskundig Hogeschool Jakarta, namun gagal.

Menurutnya dalam Mohamad Roem: 70 Tahun Pejuang Perunding (1978:5), sambil menunggu ujian masuk di sekolah menengah hukum, ia aktif di Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Pada 1932, Roem masuk Recht Hoge School (RHS) di Jakarta. Saat masih sekolah di sekolah menengah hukum tersebut, ia menikah dengan Markisah Dahlia. Roem lulus dari RHS tahun 1939 dengan gelar Meester in Rechten (Mr).

Roem kemudian bekerja sebagai pengacara di Jakarta. Profesi ini ia lanjutkan meskipun Jepang datang dan menduduki Indonesia.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Roem menjabat sebagai Ketua Komite Nasional untuk daerah Jakarta Raya. Sebuah jabatan yang hari ini mirip ketua DPRD. Saat itu Walikota Jakarta dijabat oleh Suwirjo. Ia bersama Suwirjo menjadi saksi betapa Jakarta masih dikuasai Jepang meskipun negara mereka telah hancur dilumat bom atom. Selain itu, mereka juga menyaksikan ketegangan antara para pemuda yang kecewa terhadap golongan tua dengan serdadu Jepang yang mereka benci.

“Ketegangan tersebut memuncak pada saat dilangsungkan suatu rapat raksasa di Jakarta,” tulisnya.

Pada 19 September 1945, militer Jepang melarang rapat raksasa dan menggertaknya dengan ancaman akan terjadi pertumpahan darah di Lapangan Ikada jika rapat tersebut diteruskan.

Ketika para pemuda belum kunjung berhasil membujuk Sukarno dan para pemimpin nasional lainnya untuk berpidato, pembicaraan Roem dan Suwirjo dengan Jepang mengalami kebuntuan. Mereka akhirnya mencoba menyuruh rakyat yang berkumpul di Lapangan Ikada sejak pagi untuk segera pulang.

Namun baik mereka maupun militer Jepang sebenarnya tahu, yang diinginkan rakyat hanya Sukarno-Hatta.

“Kemudian pembesar Jepang mengusulkan agar Sukarno-Hatta datang di Lapangan Ikada, tapi hanya mengadakan rapat tidak lebih dari 15 menit,” tulis Roem seperti dikutip harian Abadi (19/09/1969) yang kemudian dihimpun dalam Bunga Rampai Dari Sejarah (1972:71).

Sukarno pun akhirnya datang dan disambut gembira oleh rakyat. Ia berpidato tak lebih dari setengah jam. Setelah itu mereka membubarkan diri.



Penembakan dan Penawanan

Ketika Jakarta mulai dikuasai kembali oleh tentara Belanda, pemerintah Republik dalam bahaya. Mereka mulai melancarkan aksi militer, di antaranya menyerbu pos polisi Republik seksi VI yang mengakibatkan 13 polisi tewas. Saat mereka dimakamkan pada 21 November 1945, Roem sebagai pejabat Republik ikut menghadirinya.

Aksi serdadu Belanda berlanjut. Kali ini bahkan Roem sendiri yang menjadi korban. Seusai menghadiri pemakaman 13 polisi dan tengah makan siang bersama keluarga dan beberapa kolega seperti Pirngadi dan Islam Salim, rumah Roem digedor. Pistol salah satu serdadu Belanda memuntahkan peluru dan mengenai bagian bawah perut, lalu tembus ke bagian belakang di antara pantat dan paha.

“Saya terjatuh, terus pingsan, rasanya waktu itu ajal sudah sampai,” ungkapnya.

Istri dan keponakannya menyangka Roem sudah mati kala itu. Namun setelah menjalani perawatan selama 70 hari di Centrale Burgelijke Ziekeninrichting (CBZ) yang sekarang menjadi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, ia beranjak sembuh meski harus memakai tongkat dan kaki kirinya terlihat lebih kecil.

Roem oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir kemudian dijadikan Menteri Dalam Negeri pada 2 Oktober 1946. Ketika pemerintah RI berkedudukan di Yogyakarta, kota itu diserbu Belanda pada pada 19 Desember 1948.

Bersama Ali Sastroamidjojo seperti ditulis Iin Nur Insaniwati dalam Mohamad Roem: Karier Politik dan Perjuangannya 1924-1968 (2002:76), ia dibawa ke Bangka pada 31 Desember 1948, menyusul Hatta dan lainnya sebagai tawanan perang Belanda.

Nama Roem kemudian banyak diingat setelah perundingan yang dimulai pada bulan April 1949. Di era pemerintahan Orde Lama, ia menjadi politisi yang kritis sehingga pernah jadi tahanan politik bersama Sutan Sjahrir.

Ia yang kelahiran Parakan, Temanggung itu wafat pada 24 September 1983, tepat hari ini 36 tahun lalu. Hingga tulisan ini dibuat, Mohamad Roem belum diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

Baca juga artikel terkait PERUNDINGAN ROEM-ROYEN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight