Ketika Para Penyintas Kekerasan Seksual Menyaksikan 27 Steps of May

Oleh: Widia Primastika - 19 Mei 2019
Dibaca Normal 4 menit
Kekerasan seksual bukan perkara sepele, traumanya bisa merusak dan menghantui kehidupan para penyintas, layaknya May dalam film 27 Steps of May.
tirto.id - Raut wajah Marwan Dasopang, Wakil Ketua Komisi VIII DPR-RI, tampak rileks sore itu. Layaknya politikus ulung yang terbiasa berorasi di depan publik, ia terlihat bersemangat melontarkan sejumlah janji dengan penuh keyakinan di hadapan puluhan pasang mata yang menatapnya.

"Begitu selesai reses yang cukup panjang, [Kami akan] menempatkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual ini [sebagai] prioritas di Komisi VIII," sebutnya kala menjadi salah satu pembicara dalam diskusi film 27 Steps of May yang diselenggarakan di Cinema XXI Plaza Senayan, Jakarta.

Diskusi yang diselenggarakan salah satunya oleh Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) ini didahului dengan acara menonton film tersebut secara bersama-sama dan Marwan mengaku merinding ketika melihat film itu.

Ia merasa tergerak untuk memperjuangkan pembahasan terkait RUU PKS di Komisi VIII yang salah satu tugasnya memang membahas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Namun, menurutnya, perjalanan pembahasan itu tak akan mudah. Hal ini karena banyaknya tekanan dari kelompok masyarakat yang tak setuju dengan RUU itu.

Belum selesai ia berbicara, tiba-tiba, suasana studio delapan, tempat diskusi itu dilangsungkan, berubah 180 derajat. Marwan yang semula bersemangat melontarkan janji-janji politiknya mendadak bungkam. Mimik mukanya menunjukkan kebingungan dan sikapnya kikuk setelah seorang wanita maju ke depan layar dan mulai menangis tak karuan.


Tak ada satupun orang yang berada di studio itu tahu siapakah sang wanita dengan rambut kepang dua tersebut, hingga ia akhirnya mengungkap identitasnya. Gita, begitu ia memperkenalkan dirinya.

Gita adalah gambaran May, sang tokoh utama dalam film tersebut, di dunia nyata. Ia merupakan satu dari jutaan korban kekerasan seksual yang hingga kini berhasil bertahan dari segala tekanan yang menderu mereka. Dengan sedih dan kecewa, Gita menuntut Marwan untuk segera menuntaskan niat politiknya itu.

Tangis Gita tak berhenti dan semakin menjadi, membuat semua yang hadir turut menitikkan air mata. Tak sendirian, ia hadir bersama kawan-kawannya yang juga merupakan penyintas kekerasan seksual.

"Kami ingin berterimakasih karena film ini mewakili pengalaman kami beberapa belas tahun lalu, berapa puluh tahun lalu," kata Gita sembari terisak.

Tidak banyak kata terucap. Kami yang berada di ruangan itu saling berpelukan satu sama lain usai diskusi dihelat. Tak ada yang peduli apakah kami pernah saling mengenal sebelumnya atau tidak. Yang kami tahu, pelukan adalah bentuk kepedulian kami bahwa pelaku kekerasan seksual tak sendiri.

Gita dan Trauma Berlapis yang Menghantui


Gita lahir pada tahun 1979. Namun, neraka baginya dimulai pada tahun 2002. Pada tahun itu, ia diperkosa oleh sahabatnya sendiri. Kala itu, Gita baru saja lulus kuliah.

Layaknya May dalam film tersebut yang mengalami trauma tak berkesudahan, peristiwa itu juga mendatangkan trauma di kehidupan Gita. Baginya, May adalah ia di tahun 2002. "Film May itu kayak kaca dari kami. Benar-benar refleksi dari kejadian beberapa waktu lalu yang menimpa kami," sebutnya.

Sejak peristiwa nahas itu hati Gita tak pernah tenang. Ia memilih bungkam selama belasan tahun, termasuk kepada keluarganya. Terlebih, pemerkosaan yang Gita alami membuatnya hamil kendati akhirnya ia memilih untuk menggugurkan kandungannya.

"Saya menyimpan karena saya takut, saya enggak tahu harus bicara dengan siapa. Dan di pikiran saya, kalau itu saya bicarakan bahkan dengan keluarga atau siapa pun, nanti saya disalahkan. Saya dianggap nakal," tutur Gita dengan amarah.


Menjadi korban perkosaan membuat Gita merasa "kotor". Jika di dalam film May memilih menarik diri setelah diperkosa oleh orang-orang tak dikenal, Gita menjadikan alkohol dan seks sebagai pelarian dari traumanya. Hal itu ia lakukan hingga ia menikah.

Tragisnya, menikah justru menghadirkan trauma lain di kehidupannya. Sang suami malah melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) kepadanya. Ia pun bercerai dengan sang suami dan memutuskan untuk membesarkan dua buah hatinya yang kini berusia 10 tahun dan 8 tahun sendiri.

Hari-hari Gita semakin berat. Pada 2017, ia tak lagi bisa menutupi beban psikologis yang terus mengikutinya. "Saya sempat kerja di salah satu organisasi perempuan. Waktu itu, saya dianggap performa kerja saya tidak oke. Mungkin koordinator saya merasa ada yang salah dengan saya," kenang Gita.

Atas saran dari koordinatornya, Gita akhirnya memilih untuk berkonsultasi kepada seorang psikolog atas segala permasalahnya. Namun, hingga kini, trauma yang ia alami masih membekas. Bahkan ketika menceritakan kisahnya pada saya, Gita masih tak mampu menahan air matanya.

Ketika Keluarga adalah Pelaku


Selain Gita, ada pula Linda. Layaknya Gita, Linda juga terguncang oleh kekerasan seksual. Mirisnya, adik Linda juga menjadi korban kekerasan seksual dari pelaku yang sama, paman mereka sendiri.

Linda menceritakan bahwa kelakukan bejat sang paman dimulai saat ia masih duduk di bangku kelas empat SD di Palembang, Sumatera Selatan. Ketakutan terus menghantui dirinya kala itu karena paman tirinya berulang kali mencoba memperkosanya.

"Ibu saya meninggal dari umur tujuh tahun, dan saya dari kecil adalah korban kekerasan seksual dari om tiri, dan beberapa kali itu enggak tahu kekuatan apa, aku bisa loncat dari rumah yang panggung itu dan menutup cerita itu," ungkap Linda.


Linda sesungguhnya ingin melupakan nasib sialnya itu. Akan tetapi, petir kembali menyambar kehidupannya saat tahun lalu ia mendengar adiknya yang masih berusia 14 tahun ternyata juga menjadi korban kebejatan sang paman. Tidak hanya melecehkan sang adik, sang paman juga mengancam bakal membunuhnya jika membeberkan aksi biadabnya.

"Lebih parah dia mengalaminya, dari umur 10 tahun sampai 14 tahun. Itu rasanya enggak tahu kayak gimana," ujar Linda.

"Aku nangis terus, enggak bisa nahan karena ingat diri sendiri. Aku merasa bersalah, aku kok enggak peka dengan adikku karena adikku lebih parah, sampai terjadi seperti ini, apalagi dia di bawah pengancaman."

Bersama para penyintas, Linda pun melaporkan tingkah sang paman ke polisi. Sayang, prosesnya tidak mudah. Keluarga mereka bahkan meminta untuk menutup perkara itu.

"Keluargaku juga dia bilang, 'Ya sudah, yang sudah ya sudah. Percuma juga kamu buka ini, sama saja kamu membuka aib.' Nah, aib itu lho, [padahal kita tahu] bukan hanya adikku korbannya," ungkap Linda dengan kesal.

Infografik misbar 27 Steps of May
Infografik misbar 27 Steps of May


Kasus mereka di kepolisian sendiri tak berjalan mulus. Hal ini karena lokasi tragedi yang menimpa keduanya terjadi di Palembang, sementara sang adik berada di Jakarta karena takut untuk pulang ke Palembang. "Adikku trauma berat, dia enggak mau lagi pulang kampung," katanya.

"May beruntung punya ayah yang sangat mengerti, yang sayang. Di luar sana itu banyak sekali yang lebih parah," imbuh perempuan berusia 39 tahun ini.

Reaksi Positif


Hingga kini Gita, Linda, dan korban-korban pelecehan seksual masih menjalani terapi pemulihan trauma. Bagi mereka, film 27 Steps of May adalah bentuk dukungan yang bisa membantu mereka memulihkan kondisi psikologis yang terguncang.

"[Melalui] Film tadi saya berharapnya semua orang buka mata, buka telinga, bahwa dampak dari kekerasan seksual terutama perkosaan itu kan benar-benar tergambar di film tadi itu. Dampaknya luar biasa: lahir, batin, fisik, mental, semuanya," ungkap Gita.

"Bisa dibilang negara ini sudah darurat sekali. […] Berharapnya sih segera mungkin RUU PKS ini disahkan, minimal mengurangi May-May selanjutnya, adikku-aku selanjutnya. Enggak ada lagi kayak gitu. Berat," imbuh Linda.

Penulis film 27 Steps of May, Rayya Makarim sendiri tak menyangka atas reaksi positif penonton terhadap karyanya. Ia mengaku terus mendapat kiriman pesan singkat setiap harinya dari para penyintas kekerasan seksual. Melalui Instagram dan Facebook, mereka mengungkapkan bahwa May adalah gambaran dari diri mereka.


"Jadi ketika kita membuat film ini pada awalnya, inspirasinya adalah Mei 1998, tentang perkosaan yang terjadi pada saat itu, tapi kita enggak mau bikin film yang politis ... akhirnya kita bikin film yang private, personal, hubungan bapak dan anak karena sebuah kejadian dan sebuah trauma," ungkap Rayya saat ditemui di Cinema XXI Plaza Senayan.

Dalam film ini, Rayya memang ingin memberi ruang bersuara bagi korban-korban pelecehan seksual. Dia pun ingin menyampaikan kepada korban bahwa mereka tidak sendiri.

Meski publikasi film ini ada di waktu yang bersamaan dengan gerakan dukungan terhadap RUU PKS, tapi Rayya mengaku itu hanyalah sebuah kebetulan. Kendati demikian, dia berharap agar karyanya itu tak hanya berhenti menjadi sebuah film.

"Jadi saya merasa membuat film ini dampaknya begitu besar kepada masyarakat dan kepada para penyintas, bahwa oke ketika film ini sudah tidak di bioskop lagi misalnya, ini bisa menjadi gerakan terus menerus. Jadi kita lewat film ini bisa membuat perubahan yang konkret," tandasnya.

Baca juga artikel terkait PELECEHAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Film)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara