Ketika Lelucon Seksis Tak Lucu Lagi

Oleh: Widia Primastika - 26 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
Lawakan seksis dan rasis itu lelucon gaya lama yang dianggap tak cerdas.
tirto.id - Senin, 24 Juni 2019, dunia Instagram dibikin ramai oleh unggahan dari akun Mice Cartoon, akun Instagram karya komikus Muhammad Misrad, yang mengumpamakan perempuan dengan bola dalam beberapa jenis olahraga, seperti sepakbola, voli, bulutangkis, dan golf.

Kartun yang dimaksudkan sebagai humor itu dimaknai beragam oleh warganet. Beberapa di antara mereka menerima bahwa karya itu hanya guyon, tapi pengguna lainnya menilai gambar itu merendahkan perempuan. Karena menuai protes keras, Mice Cartoon menghapus unggahan itu dan memohon maaf.

“Dari lubuk hati yang paling dalam saya mohon maaf untuk karya saya yang diposting pada hari Senin 24 Juni 2019 yang berisi pengibaratan cewek dengan olahraga. Karya itu visualisasi dari old jokes yang sudah lama beredar di masyarakat,” tulis Mice dalam unggahannya.

Humor Seksis adalah Gaya Bercanda Kuno

Seperti diutarakan Mice, leluconnya merupakan gaya humor lawas; ia tak bermasalah jika dilempar sebelum abad ke-21.


Ian Wilkie, seorang dosen seni pertunjukan di University of Salford dalam artikel di The Conversation menulis bahwa dalam komedi lama, menjadikan bentuk tubuh, ras, warna kulit, kepercayaan, seksualitas, disertai dengan ungkapan seksis dan misoginis sebagai bahan bercanda adalah hal biasa.

Kita bisa melihat ragam humor seksis di masa lalu, misalnya dalam komik Crayon Shinchan, bocah TK asal Jepang yang kerap menggoda perempuan, komedi televisi Srimulat, serta film dan sinetron komedi trio Warkop DKI.

Sayangnya, menurut penelitian Julie A. Woodzicka dan Thomas E. Ford pada 2010 (PDF), paparan humor seksis itu justru melanggengkan diskriminasi terhadap perempuan dan mendorong perilaku seksis di kalangan pria. Padahal, ketika perempuan menjadi target guyonan, mereka justru melaporkan efek emosional yang merugikan, contohnya rasa jijik dan marah. Selain itu, perempuan juga merasa malu ketika diri mereka menjadi bahan lelucon.

Bahkan, menurut Susan Krauss Whitbourne, seorang profesor emerita University of Massachusetts Amherst, humor seksis merupakan sebuah upaya menutupi pandangan merendahkan terhadap perempuan agar diterima secara sosial.

Infografik Melucu
Infografik Melucu. tirto.id/Quita

Teori Humor

Pendapat Whitbourne tersebut senada dengan hasil penelitian berjudul “Old Jokes, New Media – Online Sexism and Constructions of Gender in Internet Memes” (PDF) (2018) yang dilakukan oleh Jessica Drakett dan tiga rekannya. Mereka menganalisis praktik pelecehan terhadap perempuan dan kelompok minoritas melalui 240 sampel meme yang menampilkan gambar dengan teks.


Dalam studi tersebut, Draket, dkk. menggunakan tiga teori humor yang berkembang, yakni teori superioritas, teori ketidaksesuaian, dan teori pelepasan. Teori superioritas adalah teori humor yang bersumber dari kemalangan atau penderitaan orang lain, atau yang sering kita sebut sebagai “tertawa di atas penderitaan orang lain."

Teori keganjilan adalah guyonan yang mengarahkan penonton ke satu arah, kemudian mengejutkan mereka dengan hasil yang berbeda dari yang diharapkan. Yang terakhir adalah teori pelepasan. Menurut teori ini, sebuah lawakan atau humor merupakan wadah untuk menghilangkan stres, serta pelepasan dari ketegangan psikologis.

Atas dasar itu, profesor psikologi sosial dari Western Carolina University, Thomas E. Ford menegaskan bahwa humor-humor berbentuk hinaan harus dikecam karena bersifat destruktif. Pelawak dan penonton tak bisa menolak hal itu dengan mengatakan “lelucon hanyalah lelucon”, meskipun untuk alasan yang positif seperti menghapus prasangka.

“Masalahnya, agar humor dapat mewujudkan tujuannya untuk menghilangkan prasangka, penonton harus memahami dan menghargai niat itu. Dan tidak ada jaminan bahwa mereka memahaminya,” ungkap E. Ford melalui The Conversation.

Ian Wilkie mengajak kepada para komedian atau pencipta humor untuk mau mengubah bentuk candaan mereka seiring waktu. Kemunculan gerakan #MeToo, misalnya, harus mengubah segala bentuk guyonan tentang pria dan perempuan. Agar disukai oleh penikmatnya, para pelawak dituntut untuk memperkaya pengetahuan mereka agar menjadi lebih pintar.

Tak heran jika humor yang muncul belakangan ini bersifat sinis, cerdas, dan mengajak orang untuk berpikir. Agar tak memunculkan perdebatan, pelawak sebaiknya tak menjadikan orang lain sebagai sasaran lelucon. Untuk mengekspresikan sudut pandang, mereka bisa menjadikan diri sendiri sebagai contoh atau membuat tokoh fiksi.

Baca juga artikel terkait HUMOR atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani