Ketika Bisnis Startup Berlomba-lomba ke Luar Angkasa

Infografik Space Startup
Ilustrasi Space Startup. FOTO/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 13 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Virgin Galactic melakukan uji coba peluncuran roket via pesawat Boeing 747.
tirto.id - Rabu pagi (10/7), ada aktivitas berbeda di Edward Air Force Base, Southern Carolina, Amerika Serikat, ketika Boeing 747 bercat “Virgin” yang telah dimodifikasi melakukan uji coba.

Kala itu, Boeing 747 yang dimiliki Virgin Galactic terbang di sekitar Southern Carolina. Setelah 30 menit mengudara dan berada di ketinggian 35 ribu kaki, pesawat yang dikemudikan Kally Latimer ini melepaskan roket yang panjangnya lebih dari 21 meter dan terpasang tepat di bagian bawah bodinya.

Roket yang diklaim bermesin itu dibiarkan jatuh bebas. Sebagaimana dilaporkan Wired, aktivitas uji coba itu dilakukan untuk “mengetahui performa roket dan pesawat saat roket baru dijatuhkan beberapa saat dari pesawat”.

Prosesi uji coba ini ialah bagian dari pengembangan sistem peluncuran roket bernama Air-Launch System. Virgin Galactic, anak usaha maskapai Virgin milik konglomerat Inggris Richard Branson, merupakan salah satu startup yang mengembangkan sistem peluncuran ini. Air-Launch System dipercaya dapat menghemat biaya peluncuran roket, yang dengan cara konvensional (peluncuran vertikal) harus sekuat mungkin melawan gravitasi dengan bahan bakar yang tak sedikit.


Air-Launch System membawa roket berpesawat dan kemudian meluncurkannya dari ketinggian tertentu. Kuatnya perlawanan gravitasi dapat ditekan. Menurut hitung-hitungan Virgin, hanya dibutuhkan biaya sekitar $12 juta untuk meluncurkan roket ke orbit dengan mekanisme tersebut.

Dalam segala aspek yang berhubungan dengan luar angkasa, persoalan biaya memang sensitif. Biaya pengangkutan satelit, manusia, dan barang melalui roket memang sangat mahal. Dikutip dari The Motley Fool, United Launch Alliance (ULA)—perusahaan patungan antara Boeing dan Lockheed Martin yang pernah mengangkut 4,75 metrik ton barang milik NASA menggunakan roket Atlas V—membebankan biaya per ton sebesar $25 juta hingga $34,5 juta untuk mengangkut muatan ke luar angkasa. Selain ULA, ada pula Arianespace dan SpaceX. Arianespace mematok harga US$20 juta per ton. Sedangkan SpaceX mematok $11,3 juta per ton.

Sayangnya, karena diangkut 747, roket luar angkasa yang dikembangkan Virgin tak bisa mengangkut banyak muatan. Roket LauncherOne milik Virgin Galactic baru sanggup menerbangkan beban tak lebih dari 300 kg.

Namun, meskipun kemampuan angkut Virgin Galactic terhitung kecil, Virgin dan perusahaan angkasa luar lainnya diprediksi akan mampu memboyong pundi-pundi yang besar. Mengapa demikian?

Ke Bulan Lagi, Lalu ke Mars

Ketika Donald Trump terpilih sebagai presiden AS setelah berkampanye tentang perlunya membangun tembok pemisah antara Paman Sam dan Meksiko, membalikan "kejayaan Amerika". Caranya dibeberkan melalui akun Twitter resminya. Salah satunya dengan mengembalikan kejayaan NASA, "kembali ke Bulan, lalu berlanjut ke Mars". Untuk itu Trump berjanji mengalirkan dana tambahan senilai $1,6 miliar kepada NASA.

Kicauan Trump didukung oleh ditandatanganinya Space Policy Directive 1 memerintahkan NASA untuk cepat-cepat kembali menjajaki bulan.



Menurut rencana, proyek untuk kembali menjajaki bulan akan dinamai Artemis yang dalam mitologi Yunani adalah saudari dewa pengetahuan Apollo. Pimpinan NASA Jim Bridenstine menegaskan bahwa astronot yang bakal menginjak bulan adalah seorang perempuan. Rencana ini kemungkinan baru terlaksana pada 2024 mendatang.

Astronot AS memang telah berkali-kali ke bulan sejak 1969, ketika Apollo 11 berhasil mendarat di satelit bumi tersebut.


Kini, AS bukan satu-satunya negara yang punya misi ke bulan. Artikel “New Phase of Exploration” yang terbit di National Geographic edisi Juli 2019 menyebutkan ada tujuh agensi luar angkasa yang berencana ke bulan setelah 2019. Tujuh agensi ini berasal dari Rusia, Cina, Jepang, Uni Eropa, India, Israel, dan Korea Selatan. Total, ada 25 misi ke Bulan yang akan dijalankan di masa depan.

Masih merujuk "New Phase of Exploration", salah satu alasan mengapa bulan populer untuk dikunjungi adalah karena Bulan “dapat menjadi batu loncatan umat manusia untuk lebih jauh menjelajahi sistem tata surya”. Hingga hari ini, sudah ada 10 rencana misi ke Matahari, dua misi ke Merkurius, 19 misi ke Venus, 30 misi ke Mars, delapan misi ke Jupiter, empat misi ke Saturnus, dan masing-masing satu misi ke Uranus, Neptunus, dan Pluto.

Misi luar angkasa yang kian banyak itu membutuhkan biaya yang tak sedikit. AS, misalnya, membutuhkan dana $20 miliar hingga $30 miliar untuk lima tahun ke depan.

Cina pun ikut dalam perlombaan ke luar angkasa. China National Space Administration (CNSA) telah berkomitmen mengeluarkan uang senilai $8,6 miliar. Jepang, di sisi lain, hendak menggelontorkan dana $1,6 miliar untuk menjalankan program-program luar angkasanya.

Virgin Galactic, dan startup-startup lain yang bergerak di bidang luar angkasa, diyakini akan kecipratan besarnya pendanaan di bidang eksplorasi luar angkasa. Hingga 2017, terdapat 57 space startup yang terbagi dalam tiga kategori: exploration, orbit, dan launch and downstream.

Bisnis startup di bidang luar angkasa yang cukup banyak itu meningkatkan pendanaan dari "hampir nol" pada 2012 ke $4 miliar pada 2017.

Baca juga artikel terkait MISI LUAR ANGKASA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight