Menuju konten utama

Ketajaman Kylian Mbappe Bukan Hanya Perkara Kecepatan

Mbappe sejauh ini sudah mencetak 24 gol di Ligue 1 dan membuatnya menjadi salah satu penyerang yang paling tajam di jajaran top liga Eropa.

Ketajaman Kylian Mbappe Bukan Hanya Perkara Kecepatan
Pemain Paris St Germain Neymar melakukan selebrasi usai mencetak gol kedua ke gawang Lille bersama rekan setim Kylian Mbappe dalam pertandingan sepak bola Liga 1 di Parc des Princes, Paris, Prancis, Jumat (2/11). ANTARA FOTO/REUTERS/Christian Hartmann

tirto.id - Setelah membobol gawang Manchester United pada 12 Februari 2019, Kylian Mbappe, penyerang Paris Saint-Germain (PSG), tidak pernah berhenti mencetak gol. Setelah laga di Old Trafford itu, ia mencetak masing-masing satu gol ke gawang Saint-Etienne dan Montpellier, serta masing-masing mencetak dua gol ke gawang Nimes juga Caen.

Rio Ferdinand, yang bekerja sebagai pundit untuk BT Sports, lantas penasaran dengan kemampuan penyerang berusia 20 tahun tersebut. Ia pun bertanya langsung kepada Thomas Tuchel, pelatih PSG, yang tahu betul bagaimana kualitas Mbappe.

“Bocah itu [Mbappe] selalu lapar dan memiliki kepribadian luar biasa meski masih berusia 20 tahun. Tidak selalu mudah dalam mengaturnya karena kepribadian yang besar tidak selalu lahir dari cara yang mudah,” jawab Tuchel sambil tersenyum.

“Namun kepribadiannya itu sangat dibutuhkan untuk menantang saya atau orang-orang yang berada di sekitarnya, karena ia benar-benar ingin menjadi pemain terbaik di dalam sejarah,” kata Tuchel menambahkan.

Tuchel, yang tampak antusias, lantas mengambil kesimpulan: “Bagiku kylian adalah pencetak gol, ia bukan Messi. Ia adalah penyerang dan ia adalah penyerang terbaik di dunia.”

Dan, mantan bos Borussia Dortmund ternyata tidak sedang berjualan kecap.

Musim ini, di jajaran top Liga Eropa, ketajaman Mbappe memang masih kalah dari Lionel Messi, jimat Barcelona. Sementara Messi sudah berhasil mencetak 25 gol di liga, torehan gol Mbappe hanya tertinggal sebiji gol dari pemain Barcelona itu. Namun, dalam urusan menyelesaikan peluang, Mbappe ternyata masih lebih baik daripada Messi.

Menurut Michael Caley, dalam salah satu tulisannya di Five Thirty Eight, expected goal Mbappe musim ini mencapai 0,998 dalam setiap laga, lebih baik dari Messi yang hanya mencapai 0,720 dalam setiap laga. Hebatnya, catatan itu merupakan pencapaian terbaik yang pernah diraih oleh para penyerang terbaik liga top Eropa dari 2014 lalu. Di belakang Mbappe, selain Messi, ada nama Cristiano Ronaldo, Luis Suarez, Robert Lewandowski, hingga Pierre-Emerick Aubameyang.

Soal betapa berbahayanya Mbappe saat di depan gawang lawan itu, berkaca dari gol Mbappe ke gawang Setan Merah, Caley kemudian menulis: “Mbappe hanya butuh satu kesempatan untuk mengubah permainan, melewati bek-bek United dengan ledakan kecepatannya. Ia mampu menggabungkan kecepatannya yang luar biasa dengan persepsinya tentang ruang, dan tingkat ketajamannya sungguh tidak dapat dipercaya.”

Caley tidak hanya menggambarkan kemampuan Mbappe secara terang benderang, tapi juga tepat sasaran. Saat kebanyakan orang menilai Mbappe hanya dari kecepatannya saja, ketajaman mantan penyerang AS Monaco tersebut ternyata tidak hanya mampu dilihat dari hitung-hitungan statistik belaka.

Dari proses lima gol terakhir Mbappe di Ligue 1, kecepatan Mbappe justru ada di nomor sekian. Pasalnya, sebagian besar gol tersebut terjadi bukan karena kecepatan berlari Mbappe, melainkan karena positioning yang tepat serta kemampuan berpikir yang lebih cepat daripada siapa pun: ia sering memposisikan diri sejajar dengan bek lawan yang berada di posisi paling belakang, berpikir selangkah ke depan daripada bek tersebut, lantas melakukan penyelesaian dengan sempurna.

Singkat kata, garis pertahanan tinggi maupun rendah, tak banyak berpengaruh bagi Mbappe. Kemampuan Mbappe dalam membaca peluang lebih banyak berbicara.

Dari sana, Matt Dickinson, penulis The Times, lantas memperkuat pendapat Caley dengan perbandingan yang menarik.

Dalam salah satu tulisannya, Dickinson menyebut bahwa kecepatan yang dimiliki Mbappe mungkin menjadi salah satu alasan mengapa Usian Bolt, sprinter dunia, sempat memutuskan untuk menjajal dunia sepakbola. Namun, Dickinson lantas memberikan pukulan telak kepada orang-orang yang percaya bahwa, dengan kecepatannya, Bolt bisa menjadi bintang sepakbola.

“Mungkin Bolt bisa menyamai sprint Mbappe saat ia melewati dua bek tengah United untuk mencetak gol kedua PSG. Tetapi, bagaimana dengan penyelesaiannya? Ada alasan tertentu mengapa Bolt berpisah Central Coast Marines di Australia baru-baru ini, sementara Mbappe dengan cepat menjadi salah satu yang terbaik di jagad sepakbola,” tulis Dickinson.

Lantas, apakah Ole Gunnar Solskjaer sudah mempunyai solusi untuk menghentikan Mbappe saat Manchester United kembali melawan PSG dalam pertandingan leg kedua babak 16 besar Liga Champions Eropa, Kamis (7/3/2019) dini hari nanti?

Setelah United kalah 0-2 dari PSG di leg pertama, saat ditanya para jurnalis bagaimana cara menghentikan Mbappe, Solskjaer menjawab dengan jujur bahwa ia tak tahu caranya.

Alasannya: ia tidak pernah bermain sebagai seorang pemain bertahan dan para jurnalis sebaiknya menanyakan hal tersebut kepada bek-bek terbaik di dunia. Malahan, ia menyuruh kepada para penyerangnya untuk belajar dari Mbappe.

Untuk semua itu, keinginan Setan Merah untuk lolos ke babak selanjutnya jelas seperti sebuah mimpi di siang bolong.

Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPIONS atau tulisan lainnya dari Renalto Setiawan

tirto.id - Olahraga
Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Abdul Aziz