Kerajaan Kutai: Seluas Apa Wilayah dan Jangkauan Kekuasaannya?

Museum Mulawarman, dahulunya adalah Istana Kesultanan Kutai. FOTO/kebudayaan.kemdikbud.go.id
Oleh: Petrik Matanasi - 16 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Kutai masih dianggap kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Tapi apakah Kutai 100 persen Hindu?
Pelajaran Sejarah di sekolah Indonesia mengimani bahwa Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Berdasarkan penelitian, kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-4. Pusat kerajaan ini terletak di Muara Kaman, hulu sungai Mahakam, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur.

“Peninggalan yang terpenting ialah prasasti pada tujuh yupa yang ditemukan pada tahun 1879 dan 1940 di sekitar desa yang kini disebut Muara Kaman,” tulis Michael Coomans dalam Manusia Daya: Dahulu, Sekarang, Masa Depan (1987: 7).

Seperti dicatat Poerbatjaraka dalam Riwajat Indonesia I (1952: 8), prasasti itu berbahasa Sanskerta, bahasa tulen India, dan beraksara Pallawa dari India selatan. Meski tak berangka tahun, berdasarkan langgam bahasa yang dipakai, para ahli memperkirakan prasati tersebut dibuat pada tahun 400-an.

Eksistensi Kutai dianggap sebagai akhir periode prasejarah dan tonggak masa sejarah bangsa Indonesia. Setidaknya pendapat ini berlaku sampai ada penemuan bukti tertulis terbaru yang lebih tua daripada Kutai.

Prasasti di Muara Kaman itu dibuat pada masa Mulawarman menjadi Raja Kutai. Salah satu prasasti, seperti dicatat Nugroho Notosusanto dan kawan-kawan dalam Sejarah Nasional Indonesia II (1993: 31), memuat pula silsilah raja-raja Kutai di sekitar Mulawarman. Bunyinya:

“Sang Mahārāja Kundungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aśwawarman namanya, yang seperti Angśuman (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aśwawarmman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci). Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mūlawarmman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mūlawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas-amat-banyak. Untuk peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para Brahmana.”

Ditengarai, nama Kundungga adalah nama asli Indonesia. “Jika kita ketahui, pada saat sekarang ada nama Bugis yang mirip Kundungga, barangkali tidak akan jauh dari kebenaran, seandainya Kundungga dianggap sebagai orang Indonesia asli…” tulis Nugroho dan kawan-kawan.

Orang-orang Bugis memang hanya perlu menyeberangi Selat Makassar untuk menuju Kutai, sehingga kemungkinan besar interaksi keduanya sudah berlangsung pada abad ke-5. Nugroho menyebut, bahkan tidak menutup kemungkinan di zaman Kundungga jadi raja, hubungan dengan budaya India sudah ada di Kutai.

Mulawarman, yang kini namanya diabadikan sebagai nama universitas negeri di kawasan ibu kota Kalimantan Timur dan Kodam yang membawahi belahan timur Kalimantan, dikenang dalam prasasti Yupa sebagai raja yang baik hati kepada kaum Brahmana. Mulawarman telah bersedekah tanah, segunung minyak kental, lampu, malai bunga, dan kerbau yang jumlahnya tentu tidak kecil. Tidak jelas apa jenis kerbaunya, namun di daerah Kutai saat ini masih ada populasi kerbau rawa atau kerbau kalang yang bisa berenang. Terkait kerbau prasastinya berbunyi:

“Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api [...] 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api, (bertempat) di dalam tanah yang suci (bernama) Waprakeswara. Buat (peringatan) akan kebaikan budi sang raja itu, tugu ini telah dibuat oleh para brahmana yang datang ke tempat ini.”


Benarkah Kutai Menguasai Wilayah yang Luas?

Keturunan Kundungga yang sudah memakai nama India dianggap telah terpengaruh Hindu. Kerajaan Kutai pun dianggap sebagai kerajaan Hindu. Ada mitos sejarah yang berkembang dalam pikiran orang Indonesia bahwa jika rajanya Hindu, maka rakyatnya akan menganut agama Hindu pula. Atau jika rajanya Islam, maka rakyatnya juga beragama Islam.

Poerbatjaraka (hlm. 10-11) hanya menyebut agama yang dianut Mulawarman, mungkin keluarganya, juga para Brahmana itu adalah Hindu Siwa, seperti banyak dianut orang terpandang di Jawa. Selain dari yang terkandung dalam prasasti, Poerbatjaraka tidak bisa menyimpulkan lebih banyak lagi, termasuk apa saja agama yang umum dianut masyarakat Kutai pada masa Mulawarman dan keluarganya berkuasa?

Soal agama Hindu yang dalam ingatan orang Indonesia kebanyakan terkenal dengan sistem kastanya itu, di Kutai sendiri, menurut Nugroho dan kawan-kawan (hlm. 35-36), Mulawarman dan keluarganya tergolong dalam kasta ksatria. Kasta lain yang eksis, tapi tidak banyak jumlahnya, tentu Brahmana.

“Di luar kedua golongan yang secara resmi hidup dalam suasana peradaban India itu, masih terdapat golongan lain yang boleh dikatakan hidup di luar pengaruh India. Mereka adalah rakyat Kutai Purba pada umumnya, yang terdiri dari penduduk setempat, dan masih memegang agama leluhur mereka,” tulis Nugroho dan kawan-kawan. Sayang, tim penulis SNI jilid II tak menjelaskan lebih lanjut tentang apa agama lokal masyarakat asli Kutai sebelum agama Hindu datang.



Hingga kini, pengetahuan tentang agama lokal Indonesia tidak dapat tempat layak dalam pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Kita tahu warisan kebudayaan Hindu di Kutai tidaklah bertebaran seperti di Bali. Orang-orang asli Kalimantan yang biasa disebut Dayak pun tak bisa disebut sebagai penganut atau mewarisi agama Hindu yang diturunkan dari zaman Mulawarman.

Di daerah yang kini disebut Kutai Kartanegara terdapat bermacam-macam komunitas orang Kalimantan asli, yang disebut Dayak. “Penggunaan istilah Dayak pada mulanya diperkenalkan oleh seorang misionaris dan ahli bahasa yang bernama August Hardeland. Mengenai asal usul dan pengertian dari kata Dayak itu sendiri belumlah diketahui dengan pasti,” tulis L. Dyson dan Asharini M. dalam Tiwah Upacara Kematian Pada Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah (1980: 20).

Masyarakat Dayak sebenarnya punya agama sendiri. Salah satu yang terbesar biasa dikenal dengan nama Kaharingan.

Kutai, seperti juga Kerajaan Tarumanegara, menurut Parakitri Simbolon dalam Menjadi Indonesia (2006: 8), berada di daerah yang rakyatnya beraneka ragam dan “tentu tidaklah mudah dihimpun di bawah satu bentangan sayap kekuasaan.” Sesungguhnya batas-batas wilayah Kutai yang dipimpin Mulawarman dan keluarganya tidak pernah jelas.

Menguasai seluruh daerah yang kini disebut Kutai berarti harus menghadapi komunitas Dayak yang dikenal siap berperang. Jika benar wilayah orang-orang Dayak itu jadi daerah kedaulatan Mulawarman dan keluarganya, maka Mulawarman harus punya tentara yang kuat. Besar kemungkinan, Kutai Mulawarman hanya eksis di sekitar istananya dan tidak mencengkeram daerah-daerah komunitas Dayak yang dibatasi hutan belantara dan sungai-sungai.

Kutai yang dipimpin Mulawarman belakangan disebut sebagai Kutai Martapura. Setelah masuknya Islam, yang penganutnya lebih banyak daripada Hindu yang dianut Mulawarman, ada kesultanan yang dikenal sebagai Kesultanan Kutai Kartanegara. Kesultanan ini dulunya menguasai daerah yang saat ini berada di dalam Kabupaten Kutai Kartanegara dan menguasai pula Kota Samarinda serta Balikpapan.

Kesultanan Kutai Kartanegara dimanduli kekuasaan administratifnya dengan munculnya Kabupaten Kutai. Kabupaten ini kemudian terpecah menjadi Kabupaten Kutai Barat dan Kutai Kartanegara. Sebuah lahan amat luas yang termasuk Kabupaten Kutai Kartanegara itu menjadi bakal ibu kota RI bersama wilayah Penajam Paser Utara.

Baca juga artikel terkait KERAJAAN KUTAI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight