Kepulauan Mentawai Diguncang Gempa Magnitudo 6,1

Reporter: Farid Nurhakim, tirto.id - 11 Sep 2022 13:13 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Gempa terjadi pada hari Minggu, 11 September 2022 pukul 06.10 WIB. selang 14 menit kemudian terjadi gempa susulan berkekuatan M 5.4.
tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan adanya gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6.1 terjadi di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada hari Minggu, 11 September 2022 pukul 06.10 Waktu Indonesia bagian Barat (WIB).

Hasil rekaman data oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menunjukkan bahwa pusat gempa bumi itu berada di 1.18 Lintang Selatan (LS) dan 98.53 Bujur Timur (BT) pada kedalaman 10 kilometer (KM).

Dilansir dari siaran pers BNPB yang diterima Tirto pada Minggu (11/9/2022) selang 14 menit kemudian atau tepatnya pada pukul 06.24 WIB, telah terjadi gempa bumi susulan berkekuatan M 5.4 yang berpusat di 1.25 LS dan 98.49 BT pada kedalaman 11 KM. Namun BMKG menyatakan gempa bumi itu tidak berpotensi tsunami.

Sementara itu, menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai dan BPBD Provinsi Sumbar, gempa bumi itu dirasakan kuat selama kurang lebih 5 detik di Tuapejat dan 10 detik di Kota Padang.

Guncangan gempa bumi tersebut memicu kepanikan warga, sehingga berhamburan keluar rumah. Beberapa warga di Kabupaten Kepulauan Mentawai saat ini telah melakukan evakuasi mandiri ke lokasi pengungsian.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai Novriadi, warga di tujuh dusun di Desa Simalegi dan warga di tiga dusun di Desa Simatalu, Kecamatan Siberut Barat kembali mengungsi ke perbukitan yang lebih tinggi. Hal itu dilakukan sama seperti setelah terjadi gempa bumi M 6.4 pada Senin (29/8/2022) lalu.

Novriadi pun melaporkan terdapat kurang lebih 200 orang warga Desa Sikabaluan di Kecamatan Siberut Utara yang turut mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi dan aman. Terkait korban dan kerusakan, lanjut dia, ada seorang warga Desa Betaet yang mengalami luka di bagian kepala setelah tertimpa kayu yang berada di rumahnya. Orang itu segera mendapatkan pertolongan dari pihak pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) setempat.

“Seorang warga Betaet terluka di kepala terkena kayu di rumahnya saat hendak lari keluar rumah. Sudah ditangani pihak puskesmas setempat,” jelas Novriadi.

Selain korban luka, dia juga merinci kerusakan ringan di gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Sagulubbek dan Puskesmas Betaet di Kecamatan Siberut Barat Daya. Kerusakan itu berupa dinding yang retak dan keramik dinding tekelupas.

BPBD Provinsi Sumatera Barat dan BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai pun terus melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk asesmen lanjutan dan memonitor dampak yang ditimbulkan setelah terjadi gempa bumi. BNPB mengimbau kepada masyarakat khususnya di wilayah Sumbar dan sekitarnya agar tidak panik namun tetap meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi susulan.

“Peringatan dini gempa bumi dapat diperoleh dengan memanfaatkan barang-barang yang mudah dijumpai di rumah seperti menyusun kaleng secara bertingkat. Hal itu bertujuan dapat menjadi 'alarm' apabila terjadi gempa bumi,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari.

Dia menambahkan, pastikan jalur evakuasi keluar dari rumah tidak terhalang oleh benda dengan ukuran besar seperti lemari, meja, kulkas, dan sebagainya. Khusus bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, apabila terjadi gempa bumi yang berlangsung lebih dari 30 detik, maka diharapkan untuk segera menuju ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kemungkinan terjadinya tsunami.

“Apabila mendapati rumah dengan rusak struktur yang ditandai dengan kondisi patah tiang penyangga, kerusakan masif pada dinding dan kerusakan pada penyangga atau penyusun atap, maka diimbau agar pemilik rumah segera melaporkan kepada BPBD setempat,” tutur Muhari.



Baca juga artikel terkait GEMPA BUMI atau tulisan menarik lainnya Farid Nurhakim
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Restu Diantina Putri

DarkLight