Kepala BIN Papua Dikabarkan Meninggal Dunia di Beoga

Reporter: - 25 April 2021
Dibaca Normal 1 menit
Belum diketahui penyebab Kepala BIN Papua Brigjen TNI Putu IGP Dani NK meninggal dunia di Beoga, Papua.
tirto.id - Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Daerah (Kabinda) Papua Brigjen TNI Putu IGP Dani NK, dikabarkan meninggal dunia di Beoga, Kabupaten Puncak, Papua pada Minggu (25/4/2021).

"Memang benar Brigjen TNI Putu Dani yang menjabat Kabinda dilaporkan meninggal di Beoga namun hingga kini belum ada laporan lengkapnya," kata Kapolda Papua Irjen Pol Mathius Fakhiri kepada Antara, Minggu (25/4/2021).

Distrik Beoga yang berada di Kabupaten Puncak, Papua memang tengah memanas akibat konflik aparat keamanan Indonesia versus Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat.

Baku tuding tak habis-habis: aparat menyerang warga dan menuduh itu separatis, sementara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Ogranisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) juga melakukan hal serupa dan menuding penduduk adalah bagian dari TNI dan Polri.

Saling lempar tuduhan ini tak merampungkan masalah. Misalnya, bangunan SD Jambul, SMP Negeri 1, SMA Beoga, dan rumah guru di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, dibakar pada 8 April 2021. Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal menyatakan para terduga pembakar adalah “kelompok kriminal bersenjata” –sebutan dari aparat Indonesia terhadap TPNPB--. Temuan Polri, gerilyawan pro-kemerdekaan Papua itu menembak dua guru setempat, Oktavianus Rayo dan Yonatan Renden.


Dua hari usai peristiwa, personel gabungan Satuan Brimob dan Satgas Nemangkawi dikerahkan ke sana untuk berjaga. Sementara, Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengeklaim, “guru SD yang ditembak mati di Beoga itu adalah mata-mata TNI dan Polri yang telah lama diidentifikasi oleh TPNPB.” Maka kelompok itu tak ragu memuntahkan peluru kepada target.

Bahkan ia memiliki keyakinan: semua imigran yang bertugas di wilayah Pegunungan Tengah hampir kebanyakan merupakan anggota intelijen aparat keamanan Indonesia yang menyamar. TPNPB-OPM sempat pula membakar helikopter di Bandara Aminggaru, Ilaga, Kabupaten Puncak.

Kepada reporter Tirto, Selasa (13/4/2021), Sebby menyebutkan alasan pihaknya nekat menyulut api. “Sekolah dan helikopter itu milik pemerintah kolonial Republik Indonesia, jadi harus bakar. Nanti mereka pasti juga akan bangun gedung-gedung sekolah. Sekarang, semua orang asli Papua harus pikir, semua fasilitas pemerintah kolonial harus dihancurkan.”

Bahkan jika Papua berhasil memerdekakan diri dari Indonesia, Sebby yakin negara West Papua mampu mendirikan fasilitas pendidikan berdasarkan hasil kekayaan alam. “Apa yang salah dengan bakar sekolah dan helikopter?”


Baca juga artikel terkait KONFLIK PAPUA atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Hukum)

Sumber: Antara
Editor: Bayu Septianto
DarkLight