Kenapa Go-Jek Ditolak Masuk Filipina?

infografik invasi gojek di asia tenggara
Helm seorang supir ojek online (GoJek) nampak dari belakang saat melintasi Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, Minggu, (3/6/18). tirto.id/Hafitz Maulana
Oleh: Ahmad Zaenudin - 10 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Go-Jek ditolak masuk oleh otoritas transportasi Filipina karena perusahaan lokal yang mereka bentuk dimiliki pemodal asing.
tirto.id - The Land Transportation Franchising and Regulatory Board (LTFRB), badan di bawah Kementerian Perhubungan Filipina yang bertugas mengatur regulasi tentang transportasi umum, menolak proposal masuknya Go-Jek. Penolakan masuknya Go-Jek tertuang dalam Keputusan No. 096 pada 20 Desember 2018.

Sebagaimana dilaporkan Rappler, keputusan LTFRB diambil karena Velox Technology Phillipine Inc, perusahaan lokal yang akan menaungi operasional Go-Jek di Filipina, 99,99 persen saham dimiliki Velox South-East Asia Holdings, perusahaan yang terdaftar di Singapura sejak 2 Februari 2018.

Padahal, merujuk Surat Edaran No. 2015-015-A yang disahkan pada 23 Oktober 2017 dan Undang-Undang No. 11 Ayat XII Filipina, termaktub adanya aturan soal kepemilikan asing bagi perusahaan-perusahaan, khususnya yang bersinggungan dengan kebutuhan publik, untuk mayoritas dimiliki warga lokal. Setidaknya, perusahaan yang memberikan pelayanan publik 60 persen dari nilai kapitalisasi harus dimiliki lokal.

Dalam Surat Keputusan yang diterbitkan Kementerian Perhubungan Filipina No. 2017-11 yang dikeluarkan pada 19 Juni 2017 sendiri, aplikasi transportasi online atau yang mereka sebut sebagai “Transportation Network Vehicle Service (TNVS)” adalah bagian dari transportasi publik untuk kepentingan publik. Regulasi ini merupakan peningkatan dari Surat Keputusan No. 2015-011 yang menyebut aplikasi transportasi online sebagai “bentuk baru layanan transportasi,” tanpa embel-embel kepentingan publik.

Dengan regulasi yang ada, pemerintah Filipina hingga kini baru mengakui sembilan pemain ride-sharing. Kesembilan pemain itu ialah Grab, MiCab, Hirna, Hype, Owto, GoLag, ePickMeUp, SnappyCab, dan Ryd Global.

Pihak Go-Jek, ketika diminta konfirmasi soal ditolaknya proposal mereka, mengatakan Go-Jek “terus bekerjasama dengan LTFRB dan berbagai badan pemerintahan lainnya dalam upaya kami menyediakan solusi transportasi yang sangat dibutuhkan masyarakat Filipina.”

Usaha masuknya Go-Jek ke Filipina merupakan implementasi rencana yang diumumkan pada 24 Mei 2018 lalu yang menyatakan Go-Jek akan berekspansi keempat negara Asia Tenggara, Vietnam, Singapura, Thailand, dan Filipina. Aksi ekspansi ini, Go-Jek siap merogoh investasi sebesar $500 juta. Nilai investasi ini “sejalan dengan penggalangan investasi yang membawa investasi dari Astra, Google, Tencent, JD.COM, Meituan, dan lainnya.

Uber dan Kemesraan Grab-Globe Telecom

Sebelum Pemerintah Filipina menerbitkan Surat Keputusan Kementerian Perhubungan No. 2017-11, tak sukar bagi ride-sharing asing masuk ke Filipina. Uber misalnya. Ride-sharing asal Amerika Serikat yang didirikan oleh Travis Kalanick itu masuk ke Filipina pada 11 Februari 2014. Uber masuk dengan mendaftarkan diri sebagai “foreign stock” pada Komisi Bursa dan Sekuritas Filipina.



Saat Uber masuk, mereka tak bermasalah soal kepemilikan asing vs lokal, tetapi ada kontroversi ride-sharing vs transportasi konvensional. Kontroversi yang terjadi justru menyangkut masalah kendaraan plat hitam melawan kendaraan transportasi khusus.

Saat itu, sebagaimana dilaporkan Tech in Asia, LTFRB bahkan mengadakan operasi khusus terhadap Uber. Petugas-petugas LTFRB berpura-pura memesan kendaraan via Uber. Saat kendaraan didapat, mitra didenda dengan besaran hingga 200 ribu peso serta plat kendaraan disita.

Kontroversi tersebut tidak melanda Uber khusus di Filipina, tetapi hampir di tiap negara yang mereka masuki. Dan kontroversi kehadiran Uber di Filipina sedikit mereda selepas warganet di sana ramai-ramai mengunggah dukungan pada ride-sharing dengan tagar #WHYIUBER.

Sementara itu, kehadiran Grab di Filipina berbeda dengan Uber. Grab menggandeng perusahaan lokal raksasa.

Grab masuk ke Filipina dengan nama GrabTaxi pada Agustus 2013. Saat itu, GrabTaxi masuk dengan menggandeng Globe Telecom, provider telekomunikasi besar Filipina. Kabar beredar, kerja sama ini disebut-sebut terkait dengan bos Globe Telecom yakni Ernest Cu dan bos Grab Filipina yakni Brian Cu. Namun, dalam pemberitaan Inquirer, Brian menolak adanya hubungan antara dirinya dengan bos Globe Telecom.



Grab-Globe bekerjasama cukup erat. Beberapa bentuk kerjasama, Grab bisa menggunakan fasilitas Kiosk, yang berguna bagi pengguna untuk top-up kredit di Grab, yang ada di mal-mal milik Ayala, unit bisnis Globe. Globe pun meluncurkan paket telekomunikasi khusus bernama “Globe PowerSurf99,” suatu paket khusus pengguna Grab yang salah satu manfaatnya ialah memperoleh gratis biaya pemesanan (booking fee).

Hubungan manis antara Grab-Globe di Filipina tidak berbeda dengan hubungan Grab-SingTel, provider telekomunikasi besar Singapura dan merupakan salah satu pemilik Globe Telecom. Di Singapura, SingTel banyak mengadakan promo-promo bagi penggunanya dalam menggunakan Grab. Pada laman resmi Grab, SingTel pun menyediakan fasilitas dompet digital miliknya untuk digunakan Grab pada 2015.

Masuk ke pasar Filipina memang sebaiknya menggandeng perusahaan lokal, khususnya perusahaan besar. Di sana ada ride-sharing lokal seperti Micab, yang meluncur pada 2015. Mengutip laman ABS CBN, Micab kini memiliki 4.000 mitra di tiga kota antara lain, Manila, Baguio, dan Cebu. Target mereka, untuk membendung kekuatan Grab dan Go-Jek, Micab menargetkan memiliki 15.000 mitra di akhir 2018.

Salah satu kekuatan Micab ialah integrasi mereka dengan perusahaan transportasi konvensional. Inc melaporkan, pada Juli tahun lalu, Micab menjalin kerja sama dengan Philippine National Taxi Operators Association (PNTOA) dan Association of Taxi Operations in Metro Manila (ATOMM), dua operator yang memiliki lebih dari 20.000 taksi di Filipina. Kerja sama dengan perusahaan lokal besar bisa membantu mengamankan kerja ride-sharing, termasuk rencana besar Go-Jek. Dan Go-Jek memang sudah sepantasnya mengganti strategi merek masuk Filipina: menggandeng perusahaan lokal besar.

Baca juga artikel terkait GOJEK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight